Rabu, 17 September 2025, menjadi hari penting bagi Erick Thohir. Ia resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) di Istana Presiden, Jakarta. Pelantikan ini sontak memicu pertanyaan besar di benak publik: bagaimana nasib jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI?
Dari Menteri BUMN ke Menpora: Perjalanan Baru Erick Thohir
Sebelum mengemban tugas sebagai Menpora, Erick Thohir dikenal luas sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Posisi strategis ini telah ia pegang sejak tahun 2019, di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Selama menjabat, Erick berhasil melakukan berbagai gebrakan dan restrukturisasi di tubuh perusahaan-perusahaan pelat merah.
Tak hanya itu, nama Erick Thohir juga sangat lekat dengan dunia sepak bola nasional. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada kongres yang digelar di Jakarta pada 16 Februari 2023. Kemenangannya kala itu disambut antusiasme tinggi, mengingat harapan besar masyarakat terhadap perbaikan tata kelola sepak bola Indonesia.
Rangkap Jabatan: Dilema yang Tak Terhindarkan
Ketika masih menjabat sebagai Menteri BUMN, Presiden Joko Widodo memberikan restu kepada Erick Thohir untuk merangkap jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Kala itu, argumentasinya adalah bahwa peran di PSSI bersifat sukarela dan tidak secara langsung berbenturan dengan tugas pokoknya sebagai Menteri BUMN. Kondisi ini memungkinkan Erick untuk tetap fokus memimpin dua institusi penting tersebut.
Namun, kini situasinya berubah drastis. Sebagai Menpora, Erick Thohir memiliki tanggung jawab besar untuk mengawasi, membina, dan mengembangkan seluruh organisasi olahraga di Indonesia, termasuk PSSI. Inilah yang menjadi inti permasalahan. Bagaimana mungkin seorang menteri yang bertugas mengawasi PSSI, pada saat yang sama, juga menjabat sebagai pimpinan tertinggi di organisasi yang diawasi tersebut?
Potensi konflik kepentingan menjadi sangat kentara. Keputusan-keputusan yang diambil sebagai Ketua Umum PSSI bisa saja dipertanyakan integritasnya jika ia juga berperan sebagai Menpora. Demikian pula sebaliknya, kebijakan Menpora terkait PSSI bisa menimbulkan persepsi negatif jika pemimpinnya adalah orang yang sama.
Belajar dari Kasus Zainudin Amali: Sejarah Terulang?
Dilema rangkap jabatan ini bukanlah hal baru dalam kancah olahraga dan pemerintahan Indonesia. Publik tentu masih ingat dengan kasus serupa yang menimpa Zainudin Amali pada tahun 2023. Kala itu, Amali masih menjabat sebagai Menpora.
Ia kemudian memutuskan untuk maju sebagai calon wakil ketua umum PSSI dan berhasil terpilih. Setelah resmi mendampingi Erick Thohir di pucuk pimpinan PSSI, Zainudin Amali mengambil langkah tegas. Ia mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Menpora.
Keputusan Amali ini kemudian disetujui oleh Presiden Joko Widodo. Langkah tersebut dianggap sebagai preseden penting yang menunjukkan komitmen terhadap integritas dan menghindari konflik kepentingan dalam tata kelola olahraga nasional. Kasus Amali menjadi cermin, bahwa idealnya, dua posisi krusial seperti Menpora dan Ketua Umum PSSI tidak diemban oleh satu orang yang sama.
Erick Thohir Lempar Bola ke FIFA: Apa Kata Aturan?
Lantas, apakah Erick Thohir akan mengikuti jejak Zainudin Amali dan melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI? Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi yang gamblang dari Erick Thohir mengenai pilihan yang akan ia ambil. Namun, pertanyaan ini terus bergema di kalangan pemerhati sepak bola dan masyarakat luas.
Saat ditanya mengenai rangkap jabatan ini seusai pelantikan, Erick Thohir tidak memberikan jawaban yang lugas dari sudut pandang pribadi. Ia justru menyatakan bahwa hal tersebut sepenuhnya merupakan wewenang dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). "Nanti itu kan ada prosesnya di FIFA. FIFA sebagai badan olahraga sepak bola tertinggi di dunia itu nanti mereka yang menentukan," ucap Erick.
Ketika awak media mencoba menggali lebih dalam pandangan pribadinya, Erick Thohir kembali mengembalikan jawaban ke otoritas FIFA. "Semua ikuti aturan dari FIFA," tegasnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Erick menunggu arahan atau keputusan dari badan sepak bola dunia tersebut, alih-alih mengambil inisiatif pribadi.
Masa Depan PSSI dan Sepak Bola Indonesia: Siapa yang Akan Memimpin?
Sikap Erick Thohir yang menyerahkan keputusan kepada FIFA menimbulkan berbagai spekulasi. Apakah FIFA memiliki aturan spesifik yang melarang rangkap jabatan antara menteri olahraga dan ketua federasi sepak bola nasional? Umumnya, FIFA sangat menjunjung tinggi independensi federasi anggotanya dari campur tangan pemerintah. Namun, konteks rangkap jabatan justru bisa menimbulkan persepsi sebaliknya.
Jika FIFA memang mengeluarkan rekomendasi atau bahkan instruksi terkait hal ini, maka Erick Thohir harus bersiap untuk membuat pilihan sulit. PSSI di bawah kepemimpinannya telah menunjukkan beberapa progres positif, termasuk upaya perbaikan liga dan pembinaan usia muda. Kehilangan sosoknya di PSSI tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi tersebut.
Di sisi lain, peran Menpora adalah kunci untuk memastikan ekosistem olahraga yang sehat dan berintegritas. Memilih untuk fokus sebagai Menpora akan memungkinkan Erick Thohir untuk secara objektif mengawasi seluruh cabang olahraga, termasuk sepak bola, tanpa beban konflik kepentingan. Ini adalah momen krusial bagi Erick Thohir untuk menunjukkan komitmennya terhadap tata kelola yang baik dan profesionalisme di dunia olahraga Indonesia.
Publik menanti kejelasan. Keputusan yang diambil Erick Thohir, atau arahan dari FIFA, akan sangat menentukan arah masa depan kepemimpinan di PSSI dan bagaimana integritas olahraga nasional akan dijaga.


















