Kemenangan Manchester City atas Newcastle United di leg pertama semifinal Carabao Cup pada Rabu (14/1) dini hari WIB seharusnya menjadi momen sukacita. Namun, pelatih The Citizens, Pep Guardiola, justru terlihat meledak-ledak di pinggir lapangan, menunjukkan emosi yang meluap-luap meski timnya berhasil meraih skor 2-0 di St James Park.
Malam itu, gol-gol dari Antoine Semenyo dan Rayan Cherki di babak kedua memastikan keunggulan City. Hasil ini tentu menjadi modal berharga bagi skuad asuhan Guardiola untuk melakoni leg kedua di kandang sendiri. Namun, sorotan utama bukan hanya pada performa impresif para pemain, melainkan pada serangkaian keputusan wasit yang memicu kemarahan sang manajer.
Awal Kemenangan yang Penuh Drama
Pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi sejak peluit awal dibunyikan. Newcastle, yang bermain di hadapan pendukungnya sendiri, mencoba memberikan perlawanan sengit. Namun, dominasi penguasaan bola dan serangan terorganisir dari Manchester City mulai terlihat di babak kedua.
Antoine Semenyo berhasil memecah kebuntuan, memberikan keunggulan krusial bagi City. Tak lama berselang, Rayan Cherki menggandakan keunggulan, membuat para penggemar City di seluruh dunia bersorak. Namun, euforia tersebut tak bertahan lama bagi Pep Guardiola.
Kontroversi VAR yang Bikin Pep Murka
Puncak kemarahan Guardiola terjadi ketika gol kedua Semenyo pada menit ke-63 dianulir oleh VAR. Semenyo, yang tampil gemilang, sebenarnya berhasil mencetak gol keduanya dengan sontekan cerdik di depan gawang lawan. Selebrasi pun pecah, namun wasit memutuskan untuk meninjau ulang insiden tersebut.
Proses peninjauan VAR berlangsung sangat lama, memakan waktu hingga lima menit 30 detik yang terasa seperti keabadian. Setelah penantian panjang, keputusan final keluar: gol dianulir karena Erling Haaland dianggap lebih dulu berada dalam posisi offside. Keputusan ini sontak membuat Pep Guardiola murka.
Dari pinggir lapangan, terlihat jelas ekspresi kekesalan Guardiola. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya kepada ofisial pertandingan. Bagi seorang manajer yang dikenal sangat perfeksionis dan detail, keputusan seperti ini bisa sangat mengganggu fokus dan strategi timnya.
Dendam Lama Guardiola pada Wasit?
Ketika ditanya wartawan mengenai gol Semenyo yang dianulir, emosi Guardiola semakin membuncah. Ia tidak hanya membahas insiden malam itu, tetapi juga mengungkit kembali keputusan kontroversial yang pernah terjadi saat Manchester City bertandang ke markas Newcastle di Liga Inggris pada November lalu.
"Itu pertanyaan bagus. Saya ingin tahu mengapa VAR pada menit ke-60 ketika kami kalah 1-2 di Newcastle pertandingan Premier League. Itu adalah penalti gila terhadap [Fabian] Schar untuk [Phil] Foden dan bahkan tidak dipertimbangkan," kata Guardiola dengan nada tinggi, menunjukkan bahwa ia merasa ada pola ketidakadilan.
Ia melanjutkan, "Setelah 20 menit ada pelanggaran luar biasa terhadap Jeremy Doku. Hari ini empat orang wasit tidak memberi keputusan, tetapi gol kedua yang dicetak Newcastle [pada November] sempurna. Saya tidak curiga tentang itu dalam 10 tahun, saya juga tidak bicara apa pun ketika kami kalah di sini." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Guardiola merasa keputusan-keputusan wasit cenderung merugikan timnya, terutama saat melawan Newcastle.
Pujian untuk Bintang Lapangan
Meskipun diselimuti amarah, Guardiola tetap menunjukkan profesionalismenya dengan memuji penampilan impresif beberapa pemainnya. Ia secara khusus menyoroti Antoine Semenyo dan Bernardo Silva yang tampil luar biasa sepanjang pertandingan.
"Di babak kedua Semenyo tampil jauh, jauh lebih baik," ujar Guardiola, mengakui kontribusi besar penyerangnya tersebut. Semenyo memang menjadi motor serangan City dan menunjukkan potensi besar yang bisa terus diasah.
Namun, pujian paling tinggi ia berikan kepada Bernardo Silva. "Tapi Bernardo? Anda tidak dapat membayangkan betapa hebatnya dia sebagai pemain. Dia akan menjadi sosok yang dirindukan," katanya, mengisyaratkan betapa berharganya Silva bagi tim.
"Semoga dia [Silva] akan tetap di sini selama berabad-abad. Tetapi orang itu istimewa dan tahu apa artinya menjadi seorang pesaing. Semua pemain luar biasa," tambah Guardiola, menunjukkan kekagumannya pada etos kerja dan kualitas Silva yang tak tertandingi. Kehadiran Silva di lini tengah memang seringkali menjadi pembeda dalam setiap pertandingan City.
Modal Berharga Menuju Final
Terlepas dari segala kontroversi yang terjadi, kemenangan 2-0 ini menjadi modal yang sangat bagus bagi Manchester City. Mereka kini memiliki keunggulan agregat yang nyaman menjelang leg kedua semifinal Carabao Cup. Pertandingan penentuan akan digelar di markas City, Stadion Etihad, pada 4 Februari mendatang.
Bermain di kandang sendiri dengan dukungan penuh dari para penggemar, City memiliki peluang besar untuk melaju ke final. Namun, mereka tidak boleh lengah, karena Newcastle United dikenal sebagai tim yang gigih dan bisa memberikan kejutan.
Sementara itu, leg pertama semifinal Carabao Cup lainnya akan mempertemukan dua raksasa London, Chelsea dan Arsenal. Pertandingan sengit ini akan berlangsung di Stamford Bridge, London, pada Kamis (15/1) dini hari WIB, menjanjikan drama tak kalah menarik.
Debat VAR yang Tak Kunjung Usai
Insiden VAR yang membuat Pep Guardiola murka ini sekali lagi memicu perdebatan panjang mengenai efektivitas dan konsistensi penggunaan teknologi tersebut dalam sepak bola. Sejak diperkenalkan, VAR memang dirancang untuk mengurangi kesalahan wasit, namun seringkali justru menimbulkan kontroversi baru.
Waktu peninjauan yang terlalu lama, interpretasi yang berbeda-beda, dan kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan seringkali menjadi keluhan utama. Bagi manajer seperti Guardiola, yang setiap keputusan kecil bisa berdampak besar pada hasil pertandingan dan bahkan gelar juara, inkonsistensi VAR adalah sumber frustrasi yang mendalam.
Para penggemar juga seringkali merasa dirugikan karena momen-momen krusial dalam pertandingan terhenti terlalu lama, menghilangkan spontanitas dan kegembiraan dari sebuah gol. Semoga saja, di masa depan, sistem VAR bisa terus disempurnakan agar lebih adil, cepat, dan transparan, demi kebaikan sepak bola itu sendiri.


















