Siapa sangka, di balik kegagalan Timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026, ada sebuah pengakuan mengejutkan dari sang pelatih kala itu, Patrick Kluivert. Pelatih asal Belanda ini secara terbuka menyatakan bahwa ia masih memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan tugasnya menukangi Skuad Garuda. Sebuah pengakuan yang tentu saja memicu banyak pertanyaan dan spekulasi di kalangan pecinta sepak bola Tanah Air.
Kluivert, legenda sepak bola dunia yang pernah bersinar bersama Ajax dan Barcelona, sempat memimpin Timnas Indonesia selama sepuluh bulan, terhitung dari Januari hingga Oktober 2025. Periode singkat ini memang tidak berakhir manis, mengingat target utama untuk lolos ke Piala Dunia 2026 belum tercapai. Namun, tampaknya pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam yang tak mudah dilupakan oleh mantan striker tajam ini.
Mengapa Kluivert Jatuh Hati pada Timnas Indonesia?
Bukan rahasia lagi jika atmosfer sepak bola di Indonesia memang berbeda. Gairah dan fanatisme suporter seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang "gila" oleh banyak pihak, termasuk para pemain dan pelatih asing. Hal inilah yang diakui Kluivert sebagai salah satu faktor utama yang membuatnya begitu terkesan dan ingin bertahan lebih lama.
"Bekerja di Timnas Indonesia itu fantastis. Saya belum pernah bekerja dalam kegilaan seperti itu," ujar Kluivert, dikutip dari Voetbal Primeur. Pernyataan ini menggambarkan betapa dahsyatnya energi yang ia rasakan selama berada di Indonesia, sebuah pengalaman yang mungkin sulit ditemukan di belahan dunia lain.
Ia menambahkan, "Ada tiga ratus juta orang benar-benar tergila-gila pada sepak bola. Saya bekerja dengan [atmosfer] yang fantastis." Bayangkan saja, dukungan masif dari ratusan juta jiwa yang begitu mencintai sepak bola, tentu menjadi suntikan motivasi sekaligus tekanan luar biasa bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya.
Kegagalan yang Bukan Akhir
Meski perjalanan Kluivert bersama Timnas Indonesia harus berakhir tanpa tiket Piala Dunia, ia tidak melihatnya sebagai akhir dari segalanya. Justru, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga. Kegagalan mencapai target memang menyakitkan, namun semangat dan dedikasi yang ia saksikan di lapangan dan dari tribun penonton, seolah menghapus pahitnya kekalahan.
Kluivert menyadari bahwa ekspektasi publik Indonesia terhadap tim nasional sangat tinggi. Setiap pertandingan adalah pertaruhan harga diri bangsa, dan setiap hasil menjadi sorotan. Tekanan ini, alih-alih membuatnya jera, justru semakin memicu semangatnya untuk berjuang lebih keras lagi.
Atmosfer Gila Sepak Bola Indonesia yang Bikin Kagum
Fenomena "kegilaan" suporter Indonesia memang tak bisa dipandang sebelah mata. Dari Sabang sampai Merauke, sepak bola adalah olahraga nomor satu yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Stadion-stadion selalu penuh, nyanyian dukungan tak pernah berhenti, dan bendera Merah Putih berkibar gagah di setiap sudut.
Bagi Kluivert, pengalaman ini adalah sesuatu yang baru dan menakjubkan. Sebagai seorang yang tumbuh dan berkembang di Eropa dengan budaya sepak bola yang mapan, ia tetap terkesima dengan intensitas dan loyalitas fans Indonesia. Ini bukan sekadar dukungan, melainkan sebuah bentuk cinta yang tulus dan tanpa syarat.
Ketika Keinginan Berbentur Kenyataan
"Saya ingin sekali melanjutkan, tetapi itu tidak mungkin," imbuh Kluivert dengan nada penyesalan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa perpisahan tersebut bukanlah murni keinginannya. Ada faktor-faktor lain yang membuat ia harus mengakhiri masa baktinya lebih cepat dari yang diharapkan.
Sayangnya, Kluivert tidak merinci alasan di balik ketidakmungkinan tersebut. Apakah ada perbedaan visi dengan PSSI, kendala teknis, atau mungkin faktor lain yang berada di luar kendalinya? Yang jelas, keputusan itu pasti diambil setelah melalui pertimbangan matang dari kedua belah pihak, meski Kluivert sendiri masih menyimpan harapan untuk terus berkarya di Tanah Air.
Nasib Para Kolega dan Masa Depan Kluivert
Setelah berpisah dengan Timnas Indonesia, Patrick Kluivert diketahui belum melatih tim manapun. Sebuah kondisi yang cukup mengejutkan mengingat reputasi dan pengalamannya yang mentereng di dunia sepak bola. Ia kini seolah sedang menanti tantangan baru, sembari merenungkan perjalanan kariernya.
Berbeda dengan Kluivert, para rekan kerjanya di Timnas Indonesia justru sudah menemukan pelabuhan baru. Jordi Cruyff, yang sempat bekerja sama dengannya, kini telah direkrut sebagai Direktur Teknik Ajax Amsterdam, salah satu klub raksasa Eropa. Sementara itu, Denny Landzaat, asisten Kluivert di Skuad Garuda, juga kembali ke Ajax sebagai asisten pelatih.
Perbedaan nasib ini tentu menjadi ironi tersendiri. Namun, hal ini juga menunjukkan betapa dinamisnya dunia sepak bola, di mana setiap individu memiliki jalannya masing-masing. Kluivert, dengan segala pengalamannya, pasti akan menemukan tempat yang tepat untuk kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih.
Kembali ke Tanah Air, Kali Ini sebagai Legenda
Meskipun kariernya sebagai pelatih Timnas Indonesia telah usai, ikatan Patrick Kluivert dengan Indonesia ternyata belum sepenuhnya putus. Ada kabar gembira bagi para penggemar sepak bola, khususnya pecinta Barcelona. Rencananya, Kluivert akan kembali menginjakkan kaki di Indonesia.
Ia akan memperkuat tim legenda Barcelona dalam pertandingan persahabatan melawan legenda Real Madrid. Laga akbar ini dijadwalkan berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 18 April 2026. Momen ini tentu akan menjadi ajang reuni yang emosional bagi Kluivert, sekaligus kesempatan bagi publik Indonesia untuk kembali menyaksikan aksinya di lapangan hijau, kali ini sebagai seorang legenda yang dicintai.
Kehadiran Kluivert sebagai legenda Barcelona tentu akan membawa nostalgia bagi para penggemar sepak bola era 90-an dan awal 2000-an. Ini juga menjadi bukti bahwa meskipun perjalanannya sebagai pelatih Timnas Indonesia tidak berlanjut, kesan positif dan cintanya terhadap sepak bola Indonesia tetap membara. Siapa tahu, di masa depan, pintu untuk kembali melatih Skuad Garuda akan terbuka lebar.


















