Semporna, sebuah nama yang biasanya langsung terasosiasi dengan keindahan bawah laut yang memukau, pulau-pulau eksotis, dan surga para penyelam, kini tengah menjadi sorotan hangat. Bukan karena keindahan alamnya, melainkan karena sebuah klaim mengejutkan dari seorang travel vlogger asal Inggris. Baru-baru ini, video yang diunggah oleh Backpacker Ben menjadi viral, menggambarkan Semporna sebagai salah satu dari "lima tempat paling kotor" yang pernah ia kunjungi.
Video berdurasi singkat namun padat pesan itu berjudul "Kota Paling Jorok di Asia!". Dalam klip tersebut, Ben terlihat berjalan menyusuri sebuah dermaga yang dipenuhi tumpukan sampah, pemandangan yang sangat kontras dengan citra Semporna yang selama ini dikenal dunia. Ungkapannya yang jujur dan blak-blakan membuat banyak warganet terhenyak dan ikut merasakan kekecewaan yang ia sampaikan.
Kekecewaan Seorang Vlogger yang Mencintai Alam
"Andai saja Anda bisa mencium apa yang saya cium. Persis seperti yang Anda bayangkan," kata Ben dalam videonya, dengan nada yang jelas menunjukkan rasa jijik dan prihatin. Ia melanjutkan, "Ya ampun, tempat macam apa ini. Lima tempat paling kotor yang pernah saya kunjungi." Kata-kata tersebut bukan sekadar kritik, melainkan sebuah seruan yang datang dari seseorang yang mungkin memiliki ekspektasi tinggi terhadap keindahan alam Semporna.
Momen paling menyentuh dalam video itu adalah ketika Ben menceritakan dilemanya. "Apa yang lucu? Saya dan pasangan saya, Cat, sudah berjalan membawa botol kosong ini selama sekitar satu jam sekarang karena kami tidak tega membuang sampah sembarangan. Tapi, benarkah ada gunanya? Tinggalkan saja di lantai seperti orang lain?" tanyanya, mencerminkan frustrasi mendalam terhadap budaya buang sampah sembarangan yang ia saksikan. Ini bukan hanya tentang sampah, tapi juga tentang etika dan tanggung jawab.
Reaksi Publik: Antara Pengakuan dan Penyesalan
Video yang diunggah beberapa waktu lalu ini dengan cepat menyebar luas di media sosial, memicu gelombang reaksi dari berbagai kalangan. Banyak warganet, termasuk warga Malaysia sendiri, yang setuju dengan kritik tajam sang vlogger. Mereka merasa malu namun mengakui bahwa kondisi kebersihan di Semporna memang memprihatinkan.
Seorang warganet berkomentar, "Saya warga Malaysia dan pernah berkesempatan menjalani praktik mengajar di sana pada tahun 2009. Percayalah, meskipun saya benci mengakuinya, saya setuju, Semporna adalah distrik paling kotor di Malaysia dan mungkin di Asia." Komentar ini menunjukkan bahwa masalah kebersihan ini bukanlah isu baru, melainkan masalah kronis yang sudah berlangsung lama.
Ada pula warganet yang bernostalgia, "Dulunya bersih di sana, sejak pengunjung datang semuanya telah berubah." Pernyataan ini mengindikasikan adanya pergeseran kondisi yang mungkin disebabkan oleh peningkatan jumlah turis yang tidak diimbangi dengan pengelolaan sampah dan kesadaran lingkungan yang memadai. Semporna, yang merupakan pintu gerbang menuju pulau-pulau populer seperti Sipadan dan Mabul, memang menarik ribuan turis setiap tahun, namun sepertinya infrastruktur dan kesadaran lingkungannya belum siap.
Tuntutan kepada Pejabat Lokal dan Harapan Visit Malaysia 2026
Isu kebersihan di Semporna ini tak hanya berhenti di ranah media sosial, tetapi juga menarik perhatian pejabat tinggi. Menteri Perumahan dan Pemerintah Lokal Malaysia, Nga Kor Ming, secara tegas mendesak Anggota Parlemen Semporna, Datuk Seri Mohd Shafie Apdal, untuk segera bertindak. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan Semporna agar tidak menjadi kota terkotor di Asia, terutama menjelang Visit Malaysia 2026.
"Tahun depan adalah Visit Malaysia 2026, jadi dengan segala hormat, saya ingin meminta Anggota Parlemen Semporna untuk rajin turun ke lapangan," ujar Nga Kor Ming. Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Visit Malaysia 2026 adalah program nasional yang bertujuan menarik jutaan turis ke Malaysia, dan citra kebersihan destinasi wisata tentu menjadi faktor krusial dalam kesuksesan program tersebut.
Nga Kor Ming juga secara lugas menyoroti masa jabatan panjang Datuk Seri Mohd Shafie Apdal. "Dipahami bahwa beliau (Datuk Seri Mohd Shafie Apdal) telah berada di sana selama lebih dari 30 tahun, dan merupakan tanggung jawabnya untuk memantau kebersihan kota," tambahnya pekan lalu. Ini adalah sindiran halus namun tajam, mengingatkan bahwa tanggung jawab atas kondisi kota berada di tangan pemimpin lokal yang telah lama menjabat.
Dampak dan Tantangan ke Depan bagi Semporna
Video viral ini menjadi pukulan telak bagi citra pariwisata Semporna dan bahkan Malaysia secara keseluruhan. Di satu sisi, ia membuka mata banyak pihak tentang realitas yang ada di lapangan. Di sisi lain, ia berpotensi merusak reputasi Semporna sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia. Pertanyaannya, apakah kritik ini akan menjadi cambuk untuk perubahan atau hanya sekadar angin lalu?
Tantangan bagi Semporna sangat besar. Diperlukan upaya kolektif dari pemerintah daerah, masyarakat lokal, pelaku usaha pariwisata, hingga para turis itu sendiri. Investasi dalam infrastruktur pengelolaan sampah yang modern, program edukasi lingkungan yang berkelanjutan, serta penegakan hukum terhadap pelanggar kebersihan menjadi sangat mendesak.
Jika Semporna ingin kembali bersinar sebagai surga bahari yang bersih dan lestari, langkah konkret harus segera diambil. Bukan hanya demi Visit Malaysia 2026, tetapi juga demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Semporna itu sendiri. Mari berharap kritik dari Backpacker Ben ini menjadi awal dari perubahan positif yang nyata, mengubah Semporna dari "kota paling jorok" menjadi contoh destinasi wisata yang bersih dan bertanggung jawab.


















