Jagad maya tengah dihebohkan dengan perbincangan mengenai film zombie terbaru garapan sutradara Kimo Stamboel, "Abadi Nan Jaya". Bukan hanya karena ketegangan atau aksi brutalnya, film ini disebut-sebut punya efek samping tak terduga: memicu trypophobia. Obrolan hangat ini pun langsung ramai di berbagai platform media sosial, membuat banyak orang bertanya-tanya tentang fobia unik ini.
Banyak penonton mengaku tak sanggup berlama-lama menyaksikan adegan zombie dalam film tersebut. Pasalnya, desain kulit para zombie yang mirip sarang lebah atau spons berpori-pori rapat, secara tak langsung, mengusik kenyamanan mereka. Kondisi inilah yang sering kali ditakutkan oleh para pengidap trypophobia atau tripofobia.
Apa Itu Trypophobia?
Trypophobia sendiri berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Yunani, yakni ‘trypo’ yang berarti ‘lubang’, dan ‘phobos’ yang berarti ‘ketakutan’. Jadi, secara harfiah, trypophobia menggambarkan rasa takut atau jijik yang ekstrem terhadap pola berulang berupa lubang atau tonjolan yang tampak rapat. Pola-pola ini bisa sangat bervariasi dan ditemukan di mana saja.
Meskipun terdengar aneh, fobia ini cukup umum dialami banyak orang. Mereka yang mengidap trypophobia bisa saja merasa sangat cemas hanya karena melihat spons mandi, sarang lebah, atau bahkan beberapa jenis buah-buahan yang memiliki pola berlubang. Sensasi jijik dan merinding kerap kali muncul tanpa bisa dikontrol.
Menariknya, jenis fobia ini belum secara resmi masuk dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders (DSM-5), panduan utama untuk mendiagnosis gangguan mental. Namun, bukan berarti trypophobia tidak nyata. Beberapa individu yang mengalaminya menunjukkan gejala yang sangat sesuai dengan kriteria fobia spesifik, sehingga tetap memerlukan perhatian dan pemahaman.
Gejala Trypophobia yang Bikin Merinding
Setelah memahami apa itu trypophobia, penting juga untuk mengenali gejala-gejala yang menyertainya. Sayangnya, penelitian mengenai gejala trypophobia masih terbilang terbatas, namun beberapa studi awal telah memberikan gambaran yang cukup jelas. Sebuah penelitian yang didasarkan pada cerita 200 anggota grup trypophobia di Facebook, setidaknya membagi gejala ini ke dalam tiga kategori utama.
Reaksi Kognitif
Ketika terpapar pemicu trypophobia, seseorang bisa mengalami berbagai reaksi kognitif yang intens. Mereka mungkin merasakan jijik yang mendalam, diikuti dengan perasaan tidak nyaman atau gelisah yang kuat. Rasa takut dan cemas juga seringkali muncul, bahkan ada yang merasa seperti akan menjadi gila karena pola lubang-lubang tersebut. Tak jarang, muncul dorongan kuat untuk menghancurkan atau menghilangkan pola lubang-lubang yang dilihatnya.
Reaksi pada Kulit
Selain reaksi mental, trypophobia juga dapat memicu respons fisik pada kulit. Beberapa orang melaporkan sensasi gatal yang tidak tertahankan di sekujur tubuh. Ada pula yang mengalami merinding, seolah-olah ada sesuatu yang merayap di bawah kulit mereka. Gemetar atau sensasi menggigil juga bisa menjadi bagian dari reaksi fisik yang dialami, menunjukkan betapa kuatnya fobia ini memengaruhi tubuh.
Reaksi Fisiologis
Pada tingkat yang lebih parah, trypophobia dapat menyebabkan reaksi fisiologis yang mengganggu. Penderita mungkin merasakan panas dingin yang tiba-tiba, kesulitan bernapas, atau bahkan mual hingga muntah. Beberapa kasus bahkan melibatkan serangan panik atau keinginan kuat untuk berteriak dan menangis. Gugup yang ekstrem, jantung berdebar kencang, berkeringat dingin, hingga sakit perut juga menjadi gejala umum yang menunjukkan respons tubuh terhadap pemicu trypophobia.
Menguak Misteri Penyebab Trypophobia
Hingga kini, penyebab pasti trypophobia masih menjadi perdebatan di kalangan psikolog dan ilmuwan. Beberapa psikolog berpendapat bahwa trypophobia berevolusi melalui seleksi alam. Teori ini menyatakan bahwa nenek moyang kita yang merasa jijik atau takut dengan pola-pola tertentu memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup.
Mengapa demikian? Karena banyak hewan mematikan, seperti ular berbisa dan serangga berbahaya, memiliki pola berulang berupa benjolan atau lubang pada kulitnya. Dengan menghindari atau melarikan diri dari hewan-hewan tersebut, nenek moyang kita secara tidak langsung meningkatkan peluang kelangsungan hidup mereka. Jadi, trypophobia bisa jadi merupakan sisa dari mekanisme pertahanan diri kuno.
Studi lain yang diterbitkan pada tahun 2017 menawarkan sudut pandang berbeda. Studi ini berpandangan bahwa trypophobia mungkin merupakan respons berlebihan dari tubuh untuk melindungi diri dari ancaman penyakit menular. Contohnya, penyakit seperti cacar atau campak seringkali menimbulkan ruam atau lesi berlubang pada kulit. Rasa jijik terhadap pola tersebut bisa jadi merupakan cara tubuh untuk menghindari penularan penyakit.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa teori-teori di atas belum didukung oleh bukti yang substansial dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Renzo Lanfranco, seorang peneliti neurosains kognitif dari Swedia, menyatakan bahwa karena trypophobia bisa menimbulkan gejala dengan intensitas yang berbeda-beda, kemungkinan besar ini merupakan fenomena alami dan umum yang bisa dialami banyak orang. Ini berarti, fobia ini mungkin lebih universal daripada yang kita kira.
Pemicu Trypophobia di Sekitar Kita
Hampir semua pola berulang, terutama yang melibatkan lubang atau tonjolan rapat, berpotensi memicu reaksi trypophobia. Tidak hanya desain zombie di film "Abadi Nan Jaya", banyak benda atau hal sehari-hari yang sering kita temui juga bisa menjadi pemicu kuat. Siapa sangka, benda-benda familiar ini bisa bikin merinding pengidap trypophobia.
Beberapa pemicu umum meliputi spons mandi dengan pori-porinya, gelembung sabun yang bergerombol, atau bahkan keju Swiss yang berlubang-lubang. Sarang lebah yang tersusun rapi, folikel rambut di kulit, hingga kepala shower mandi dengan banyak lubangnya juga bisa menjadi sumber kecemasan. Bahkan, beberapa buah-buahan seperti stroberi dengan biji-bijinya yang menonjol atau delima dengan biji-biji rapatnya, bisa terlihat menakutkan bagi mereka yang mengidap trypophobia.
Beberapa orang bahkan menganggap terumbu karang yang indah di bawah laut terlihat menakutkan karena pola berlubang dan berulang yang dimilikinya. Ini menunjukkan betapa luasnya spektrum pemicu trypophobia dan bagaimana fobia ini bisa memengaruhi persepsi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya.
Demikianlah penjelasan lengkap mengenai apa itu trypophobia, mulai dari gejala, dugaan penyebab, hingga pemicu yang sering ditemui. Jadi, jika kamu merasa merinding atau jijik saat melihat pola-pola lubang rapat, mungkin kamu termasuk salah satu pengidap trypophobia. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah pemahaman kita semua!


















