banner 728x250

Tolak Angin ‘Gerakkan’ Industri Kreatif Indonesia Lewat #ForTheWind, Siap Mendunia?

tolak angin gerakkan industri kreatif indonesia lewat forthewind siap mendunia portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Di tengah teriknya matahari Jakarta, seorang remaja perempuan asyik menggoreskan krayon warna-warni. Indri (15) tak peduli lalu-lalang orang, fokus mengisi ruang gambar dengan warna pastel favoritnya. Hobi menggambar ini, baginya, lebih dari sekadar aktivitas akhir pekan.

Kami menemuinya di Jakarta Doodle Fest 2025, saat ia mencoba produk krayon di salah satu booth. Indri mengaku rutin mengonsumsi anime dan manga, sumber inspirasi utamanya. Meski tertawa kecil saat ditanya soal jadi seniman profesional, ia adalah cerminan geliat industri kreatif di Indonesia.

banner 325x300

Industri Kreatif Indonesia: Dulu Diremehkan, Kini Jadi Primadona!

Dulu mungkin dianggap sebelah mata, kini industri kreatif Indonesia justru jadi primadona. Karya-karya lokal seperti komik strip, webtoon, ilustrasi digital, hingga film animasi pendek mulai mencuri hati masyarakat. Sektor berbasis Intellectual Property (IP) murni pun semakin menunjukkan taringnya.

Tak heran jika studio lokal kebanjiran order, dan tempat kursus menggambar menjamur di mana-mana. Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) atau Desain Grafis kini jadi favorit di banyak universitas. Dunia digital dan media sosial berperan besar melahirkan kreator-kreator baru.

Akses belajar dan distribusi karya menjadi jauh lebih mudah, tak lagi terbatas. Membangun IP yang kuat dan terkoneksi dengan audiens pun kini lebih terjangkau. Dominasi kreator asing perlahan terkikis oleh talenta-talenta lokal.

Bukti nyata? Film animasi ‘Jumbo’ berhasil menduduki takhta film terlaris sepanjang masa Indonesia. Siapa sangka ini bisa terjadi beberapa tahun lalu? Lalu ada Tahilalats, yang dari komik strip empat panel, kini jadi IP raksasa dengan merchandise, kafe fisik, dan kolaborasi brand ternama.

Ini membuktikan, baik kreator maupun pasar Tanah Air sudah siap. Mereka siap memasuki era di mana IP menjadi aset bernilai ekonomis tinggi. Potensi ini sangat menjanjikan!

Tolak Angin Tak Mau Ketinggalan: Dukung Penuh Lewat Kolaborasi Unik

Di tengah euforia kebangkitan industri kreatif ini, Tolak Angin tak mau ketinggalan. Mereka punya rekam jejak panjang berkolaborasi lintas sektor dengan seniman dan kreator. Tak heran jika kolaborasi ini berlanjut ke Jakarta Doodle Fest 2025.

Maria Reviani Hidayat, Direktur Marketing Sido Muncul, mengungkapkan Tolak Angin pernah bekerja sama dengan Tahilalats. Tahun ini, mereka menggandeng ilustrator perempuan jenaka, Sherchle. "Kami akan selalu mendukung apapun yang memajukan Indonesia, mulai dari industri kreatif, atau pariwisata," ujar Maria.

Kolaborasi dengan industri kreatif ini adalah cara Tolak Angin menunjukkan kreativitas dibutuhkan di berbagai bidang. Respons konsumen pun sangat positif terhadap inisiatif ini. "Untuk jamu sendiri kita selalu berusaha untuk berinovasi," kata Maria.

"Dengan kolaborasi ini, masyarakat bisa melihat bahwa ternyata bisa juga kolaborasi dilakukan silang industri," lanjutnya. "Dan kalau kita kreatif, selalu ada sesuatu yang baru." Ini adalah bukti komitmen Tolak Angin.

Sebagai pre-event, Tolak Angin juga merancang berbagai kegiatan. Mulai dari roadshow ke kampus, kompetisi desain, hingga menggandeng ilustrator untuk merchandise kolaborasi. Semua dibalut dalam kampanye #ForTheWind.

ForTheWind: Merayakan Kemenangan dengan Goresan Karya

Kampanye #ForTheWind dirancang untuk memantik kreativitas para kreator. Tujuannya agar mereka bisa mengekspresikan setiap kemenangan, besar maupun kecil, lewat goresan karya. Sebuah konsep yang inspiratif!

Roadshow Tolak Angin menyambangi tiga kampus bergengsi yang erat kaitannya dengan seni dan IP. Ada Universitas Multimedia Nusantara (DKV terakreditasi A), Universitas Binus Bandung (mitra ADGI & Adobe), dan Universitas Kristen Petra Surabaya (DKV terbaik).

Empat kreator hebat turut berbagi inspirasi dan tips dengan para mahasiswa. Mereka adalah Edwin Te (Middleform Design), Aditya Permadi (Subjekt Zero GFX Studio), Sherchle (ilustrator ternama), dan Faddy Ravydera (Suka Studio).

Di ketiga kampus ini, Tolak Angin tak hanya menggelar kelas inspiratif. Lebih dari 300 mahasiswa diajak menciptakan karya ilustrasi bertema #ForTheWind. Tiga pemenang terpilih, karyanya tak hanya dipajang di booth, tapi juga dicetak di merchandise kaus.

Obi, Sang Juara #ForTheWind: Dari Hobi Jadi Inspirasi

Dari ratusan peserta, Ahmad Salaadin Wirahadikusumah alias Obi dari Universitas Binus Bandung berhasil meraih juara satu. Ketertarikannya pada dunia ilustrasi ternyata berawal dari keluarga. "Keluarga saya semuanya arsitektur," kata Obi di JDF 2025.

"Kakak, mama, papa, semua arsitektur. Di rumah, gambar ada di mana-mana, gambar siluet, gambar gedung apalah, pokoknya gambar. Itu awal-awal inspirasinya," kenang Obi. Lingkungan yang penuh seni membentuknya.

Kini, mahasiswa semester tiga DKV ini menyukai gaya ekspresif dan berani menembus batas. Karyanya untuk #ForTheWind menginterpretasikan dua pendaki yang mengibarkan bendera Merah Putih di puncak gunung, simbol kemenangan. Inspirasi utamanya? Gunung Salak dekat Bogor.

Sketsa dibuat dalam satu jam saat roadshow, lalu melalui seleksi dan revisi. Kemenangan ini jadi pengalaman paling berkesan bagi Obi. "Secara garis besar, saya suka kalau gambarnya dikenal. Dilihatlah pokoknya, dilihat sama orang," ujarnya.

Juara #ForTheWind ini memantik semangat Obi untuk berkarya lebih jauh. Penggemar ilustrator game Jepang Yuji Shinkawa ini bercita-cita terjun ke dunia animasi. Ia optimis industri kreatif Indonesia di jalur yang menggembirakan.

Tantangan di Depan Mata: Pembajakan, Modal, hingga Ancaman AI

Namun, jalan Obi dan kreator lain untuk mewujudkan impiannya tak selalu mulus. Di balik geliat industri kreatif, masih ada serangkaian tantangan yang harus dibenahi. Ini bukan pekerjaan mudah.

Pembajakan digital misalnya, menyebabkan pemegang IP kehilangan potensi pendapatan besar. Lalu, industri kreatif berbasis IP masih sulit mendapatkan dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan konvensional. Skema penilaian aset HKI sebagai jaminan belum lumrah di Indonesia.

Selain itu, ada pula persoalan Generative Artificial Intelligence (GenAI). GenAI digadang-gadang mengancam seniman dan kreator karena kemampuannya menciptakan konten visual dan audio. Sebuah dilema baru.

Obi sendiri tak menolak mentah-mentah kehadiran AI. "Tergantung implementasi. Misalnya buat brainstorming, AI yang pakai LLM atau Large Language Model kayak Chat GPT, itu berguna," katanya. "Tapi saya enggak setuju kalau AI khususnya dalam image generation dipakai sebagai produk asli atau produk akhir."

Kreativitas Manusia Tak Tergantikan, Kata Tolak Angin

Pendapat Obi senada dengan Maria Reviani Hidayat dari Sido Muncul. Sebagai pihak yang memberi ruang dan kepercayaan, Maria tak memandang AI sebagai pengganti manusia. Ia meyakini kreativitas adalah kelebihan manusia yang sulit digantikan algoritma dan mesin.

"Jadi AI bisa membantu, tapi tetap kreativitasnya dari kita. Tidak perlu ditakutkan," ucap Maria. "Mungkin malah mendukung, dan lebih banyak lagi kreasi-kreasi yang baru dengan bantuan teknologi baru." AI sebagai alat, bukan pengganti.

Sido Muncul akan terus berkolaborasi dengan kreator seni maupun sektor wisata. Maria berharap, kreator Indonesia bisa membawa nama negeri ke kancah internasional. "Seperti jamu saja khas dari bangsa kita, dan sekarang kami sudah mulai membawa jamu keluar dari Indonesia," jelasnya.

"Sama dengan kreativitas kita. Kan sekarang kiblatnya masih dari negara lain untuk artwork seperti ini, atau IP," kata Maria menutup pembicaraan. "Tapi mungkin suatu hari Indonesia bisa jadi gudangnya kreator." Sebuah visi yang patut kita dukung!

Liputan ini merupakan bagian kerja sama antara CNN Indonesia dan Sido Muncul.

banner 325x300