banner 728x250

Sering Dicap Santai & Bebas? Ternyata Ini 5 Tekanan Tersembunyi yang Dirasakan Anak Bungsu!

sering dicap santai bebas ternyata ini 5 tekanan tersembunyi yang dirasakan anak bungsu portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Anak bungsu seringkali diidentikkan dengan pribadi yang riang, suka bersenang-senang, dan seolah-olah bebas dari segala beban tanggung jawab. Gambaran ini sudah melekat kuat di benak banyak orang, bahkan seringkali dijadikan bahan lelucon di lingkaran pertemanan atau keluarga. Namun, benarkah demikian? Apakah hidup si bungsu memang semudah itu?

Faktanya, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Di balik citra ceria dan santai yang terpancar, anak bungsu ternyata menyimpan berbagai tekanan dan tantangan psikologis yang mungkin tidak disadari oleh orang lain. Jose Muldrew, seorang psikolog dari The Looking Glass di Georgia, AS, menjelaskan bahwa karakter seseorang tidak bisa dipetakan sesederhana urutan kelahiran.

banner 325x300

Ada banyak faktor berlapis yang memengaruhi kepribadian seseorang, termasuk anak bungsu. Ekspektasi gender, praktik budaya, hingga gaya pengasuhan orang tua, semuanya turut berperan dalam membentuk siapa mereka. Jadi, sebelum kamu menganggap si bungsu hanya tahu senang-senang, ada baiknya kita menyelami lebih dalam apa saja yang sering mereka rasakan.

Berikut adalah beberapa hal yang sering dialami anak bungsu, terutama laki-laki, yang mungkin akan membuatmu melihat mereka dari sudut pandang yang berbeda.

1. Perbandingan Konstan dengan Kakak

Salah satu tekanan terbesar yang dirasakan anak bungsu adalah bayang-bayang kakak-kakaknya. Sejak kecil, mereka seringkali dihadapkan pada ekspektasi untuk bisa menyamai atau bahkan melampaui pencapaian kakak yang lebih tua. Perbandingan ini bisa datang dari mana saja, mulai dari orang tua, kerabat, hingga lingkungan sosial.

"Kakakmu dulu bisa ini lho," atau "Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?" adalah kalimat-kalimat yang mungkin sering mampir di telinga si bungsu. Hal ini menciptakan tekanan internal yang besar, membuat mereka merasa harus selalu membuktikan diri. Psikolog Sean Burns bahkan mengatakan bahwa self-talk negatif akibat perbandingan ini bisa membuat si bungsu terjebak dan tidak melakukan apa pun.

Mereka bisa merasa minder atau justru terpacu untuk mencari cara unik agar bisa menonjol. Tak jarang, perbandingan ini justru memicu rasa frustrasi dan kebingungan dalam menemukan identitas diri mereka sendiri.

2. Perjuangan dengan Kepercayaan Diri

Dukungan dan perlindungan dari keluarga, terutama kakak, memang hal yang baik. Namun, bagi anak bungsu, dukungan yang berlebihan justru bisa berbalik menjadi bumerang bagi kepercayaan diri mereka. Jika setiap kali si bungsu menghadapi masalah, kakak atau orang tua selalu ikut campur dan menyelesaikannya, maka mereka akan terbiasa bergantung pada orang lain.

Kebiasaan ini bisa menghambat perkembangan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan secara mandiri. Akibatnya, saat dewasa, mereka mungkin akan kesulitan mencari solusi sendiri ketika dihadapkan pada masalah. Rasa tidak mampu atau kurang percaya diri dalam mengambil keputusan bisa menjadi efek jangka panjang dari pola asuh semacam ini.

Meskipun niatnya baik, terlalu banyak campur tangan justru bisa merenggut kesempatan si bungsu untuk belajar dari kesalahan dan membangun resiliensi. Padahal, pengalaman menghadapi kesulitan adalah salah satu cara terbaik untuk menguatkan mental dan kepercayaan diri.

3. Anggapan "Paling Bebas" yang Menyesatkan

Anak sulung seringkali dipandang sebagai pemikul tanggung jawab terbesar dalam keluarga, sementara si bungsu justru sebaliknya. Mereka dianggap paling bebas, paling santai, dan paling tidak punya beban. Anggapan ini mungkin terdengar menyenangkan, namun sebenarnya bisa menjadi beban tersendiri.

Muldrew menjelaskan bahwa anggapan ini memang bisa berarti anak bungsu memiliki lebih banyak waktu untuk bermain atau mengeksplorasi kreativitas mereka. Namun, di sisi lain, label "bebas" ini juga bisa menutupi perjuangan atau tekanan yang sedang mereka alami. Orang lain mungkin tidak menyadari bahwa di balik senyum ceria mereka, ada kekhawatiran atau masalah yang sedang dipendam.

Mereka mungkin merasa tidak leluasa untuk mengungkapkan kesulitan karena takut dianggap mengeluh atau tidak sesuai dengan citra "bebas" yang sudah melekat. Ini bisa menjadi isolasi emosional yang tak terlihat, di mana mereka merasa harus selalu terlihat baik-baik saja di mata orang lain.

4. Si Pencari Perhatian yang Kreatif dan Inovatif

Stereotip lain yang sering melekat pada anak bungsu adalah "pencari perhatian". Karena mereka adalah yang termuda, mereka mungkin harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan perhatian dari orang tua dan kakak-kakak yang sudah lebih dulu ada. Namun, sifat ini bukan selalu hal negatif.

Dorongan untuk menonjol dan mendapatkan perhatian seringkali memicu kreativitas dan inovasi. Anak bungsu cenderung lebih berani mengambil risiko, mencoba hal-hal baru, dan mengembangkan bakat-bakat unik agar bisa dilihat dan dihargai. Mereka mungkin menjadi seniman, musisi, komedian, atau inovator yang berpikir di luar kotak.

Kemampuan mereka untuk beradaptasi dan menemukan celah untuk bersinar adalah bukti dari kecerdasan emosional dan daya juang yang tinggi. Jadi, di balik keinginan untuk diperhatikan, ada semangat eksplorasi dan keinginan untuk menciptakan sesuatu yang otentik.

5. Tekanan untuk Menjadi "Unik" dan Berbeda

Dalam keluarga, setiap anak cenderung memiliki peran atau "niche" masing-masing. Kakak sulung mungkin dikenal sebagai yang bertanggung jawab, kakak kedua yang pintar, dan seterusnya. Anak bungsu seringkali merasa harus menemukan identitas mereka sendiri yang berbeda dari semua kakaknya.

Tekanan ini bisa mendorong mereka untuk menjadi sangat individualistik dan mencari jalan hidup yang tidak biasa. Mereka mungkin memilih hobi yang tidak umum, jurusan kuliah yang berbeda, atau karier yang jauh dari ekspektasi keluarga. Tujuannya? Untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar "yang termuda", melainkan individu dengan keunikan tersendiri.

Meskipun terkadang melelahkan, pencarian identitas ini justru bisa membentuk pribadi yang kuat, mandiri, dan punya visi yang jelas. Mereka belajar untuk tidak takut berbeda dan berani mengikuti kata hati, bahkan jika itu berarti harus menentang arus.

Pada akhirnya, karakter anak bungsu dan sulung tidak bisa dipukul rata. Ada banyak faktor yang memengaruhi kepribadian seseorang, dan urutan kelahiran hanyalah salah satunya. Pola asuh keluarga, lingkungan sosial, pengalaman pribadi, hingga interaksi antar saudara, semuanya berperan dalam membentuk siapa mereka.

Penting bagi kita untuk melihat setiap individu, termasuk anak bungsu, sebagai pribadi yang kompleks dengan keunikan dan perjuangan mereka sendiri. Mari kita berhenti melabeli dan mulai memahami, karena di balik setiap senyuman, mungkin ada cerita yang lebih dalam dari yang kita kira.

banner 325x300