Penerbangan panjang memang seringkali jadi tantangan, apalagi kalau kamu ingin tidur nyenyak di ketinggian. Banyak orang punya rutinitas unik untuk melewati jam-jam di pesawat, tapi ada satu kebiasaan yang sebaiknya kamu buang jauh-jauh demi kesehatanmu.
Seorang pakar kesehatan menegaskan, mengonsumsi pil tidur di pesawat ternyata menyimpan bahaya tersembunyi yang bisa berujung pada masalah serius. Jika kamu pernah berpikir untuk menelan pil tidur sebelum lepas landas, inilah saatnya untuk berpikir ulang.
Para apoteker memperingatkan bahwa kebiasaan ini bisa menjadi salah satu hal paling berbahaya yang dilakukan pada ketinggian 35.000 kaki. Jadi, bagi kamu yang berencana bepergian dalam waktu dekat, hindari kebiasaan ini karena menyimpan berbagai risiko yang mungkin tidak kamu sadari.
Bukan Tidur Alami, Justru Perparah Jet Lag
Pernah berpikir pil tidur akan membantumu bangun segar di tujuan? Ternyata, itu hanya ilusi. Apoteker Seema Khatri dari Roseway Labs menjelaskan, tidur yang diinduksi obat bukanlah istirahat alami yang memulihkan tubuh.
Di pesawat, efeknya justru bisa membuatmu makin lelah dan memperparah jet lag. Tubuhmu membutuhkan tidur yang berkualitas untuk menyesuaikan diri, bukan sekadar pingsan karena obat.
Ancaman Trombosis Vena Dalam (DVT) Mengintai
Salah satu risiko paling serius adalah gangguan aliran darah. Saat kamu dalam kondisi sedasi, tubuh cenderung kurang bergerak atau bahkan tidak bergerak sama sekali selama berjam-jam.
Imobilitas ini, ditambah dengan lingkungan kabin yang dehidrasi dan obat sedatif yang bisa mengentalkan darah, meningkatkan risiko trombosis vena dalam (DVT). DVT adalah kondisi serius di mana gumpalan darah terbentuk di pembuluh darah dalam, biasanya di kaki. Kombinasi ini jelas bukan hal yang baik untuk kesehatanmu.
Efek Pil Tidur Berlipat Ganda di Ketinggian
Tekanan kabin pesawat juga punya peran besar. Kadar oksigen yang lebih rendah di ketinggian dapat memperkuat efek pil tidur secara signifikan. Ini berarti, dosis yang terasa ringan di darat bisa terasa jauh lebih kuat di udara.
Hal ini bisa menyebabkan kantuk berlebihan, kebingungan, atau bahkan masalah pernapasan yang serius. Jadi, jangan samakan efeknya di darat dan di udara ya, karena tubuhmu bereaksi berbeda di ketinggian.
Jam Biologis Kacau Balau, Bukan Solusi Jet Lag
Meskipun banyak penumpang mengonsumsi pil tidur dengan harapan "mengatasi jet lag", kenyataannya seringkali sebaliknya. Jika kamu mengonsumsinya pada waktu yang salah, jam biologis tubuhmu justru akan semakin kacau.
Alih-alih beradaptasi dengan zona waktu baru, kamu malah mendarat dalam kondisi bingung dan kelelahan yang lebih parah. Ini tentu bukan awal yang baik untuk liburan atau perjalanan bisnismu.
Siapa Saja yang Paling Berisiko?
Meskipun berbahaya bagi semua, ada beberapa kelompok yang harus benar-benar menghindari pil tidur di pesawat. Para pelancong lansia, misalnya, memiliki metabolisme yang lebih lambat sehingga efek obat bisa bertahan lebih lama dan lebih intens.
Orang dengan kondisi pernapasan seperti asma atau sleep apnea juga sangat berisiko, karena rendahnya oksigen di kabin bisa memperburuk masalah pernapasan mereka saat disedasi. Demikian pula bagi mereka yang memiliki masalah sirkulasi darah, risiko DVT akan meningkat drastis. Bahkan dosis kecil pun bisa berdampak keras di ketinggian dan, dalam beberapa kasus, bisa menjadi berbahaya, bukan sekadar tidak nyaman.
Jadi, Bagaimana Cara Tidur Nyaman di Pesawat Tanpa Pil Tidur?
Tenang, ada banyak cara alami dan aman untuk bisa tidur pulas di pesawat tanpa harus mengambil risiko kesehatan. Kuncinya adalah persiapan dan menciptakan lingkungan yang mendukung tidur.
Pertama, persiapkan diri dengan baik sebelum penerbangan. Usahakan tidur cukup beberapa malam sebelum keberangkatan. Jika memungkinkan, sesuaikan jam tidurmu secara bertahap dengan zona waktu tujuan beberapa hari sebelumnya.
Saat di pesawat, ciptakan lingkungan yang senyaman mungkin. Gunakan bantal leher yang empuk, penutup mata untuk memblokir cahaya, dan earplug atau headphone peredam bising untuk memblokir suara. Pakaian yang longgar dan nyaman juga sangat membantu.
Hindari kafein dan alkohol beberapa jam sebelum dan selama penerbangan. Keduanya bisa mengganggu kualitas tidur dan memperburuk dehidrasi. Sebaliknya, perbanyak minum air putih untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
Cobalah teknik relaksasi sederhana, seperti pernapasan dalam atau mendengarkan musik yang menenangkan. Beberapa orang juga terbantu dengan membaca buku yang ringan atau menonton film yang tidak terlalu merangsang.
Jika memungkinkan, pilih kursi dekat jendela agar kamu bisa bersandar dan memiliki sedikit privasi. Jangan lupa untuk bergerak secara berkala; regangkan kaki, lakukan peregangan ringan, atau berjalan-jalan singkat di lorong untuk melancarkan peredaran darah.
Ingat, tujuan utama adalah tidur alami yang memulihkan, bukan sekadar pingsan karena obat. Dengan persiapan dan trik yang tepat, kamu bisa bangun segar dan siap menjelajahi destinasi barumu tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Jadi, lain kali kamu merencanakan penerbangan panjang, ingatlah peringatan ini. Prioritaskan kesehatanmu di atas kenyamanan sesaat. Hindari pil tidur dan pilih cara alami untuk menikmati perjalanan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.


















