banner 728x250

Kamar Hotel Makin Canggih, Tapi Kok Malah Bikin Tamu Pusing? Ini Alasannya!

Kamar hotel modern dengan TV layar datar, meja kerja, dan dekorasi dinding floral.
Kemajuan teknologi di kamar hotel justru menyulitkan tamu. Survei terbaru ungkapkan banyak tamu kebingungan operasikan fasilitas canggih.
banner 120x600
banner 468x60

Pernahkah kamu merasa bingung saat menginap di hotel modern? Niatnya mau santai menikmati fasilitas canggih, tapi malah berakhir dengan misi sulit mencari tombol lampu, mengatur AC, atau menyambungkan Wi-Fi. Ternyata, kamu tidak sendirian!

Sebuah laporan terbaru mengungkap fakta menarik: semakin canggih kamar hotel, justru semakin banyak tamu yang kesulitan mengoperasikannya. Mulai dari lampu, Wi-Fi, sistem hiburan, hingga pendingin ruangan (AC) yang serba otomatis, semuanya bisa jadi sumber kebingungan.

banner 325x300

Survei Mengungkap: Tamu Lebih Suka Sentuhan Manusia

Dalam survei yang melibatkan 450 properti hotel di seluruh dunia, ditemukan bahwa 52 persen hotel kini harus menyediakan panduan teknologi secara lisan saat check-in. Ini dilakukan untuk membantu tamu yang kewalahan menavigasi akomodasi mereka yang sudah serba teknologi tinggi. Bayangkan, baru masuk kamar saja sudah harus "sekolah" teknologi!

Menariknya, survei Hotels.com’s 2025 Hotel Room Innsights juga menunjukkan bahwa 70 persen responden menyatakan tamu lebih menyukai interaksi dengan manusia. Terutama saat check-in atau ketika membutuhkan bantuan. Ini menandakan bahwa sentuhan personal masih sangat dihargai, bahkan di tengah gempuran teknologi.

Meskipun kamar hotel terus bertransformasi menjadi lebih "pintar", para tamu harus berjuang keras untuk mengikuti perkembangan tersebut. Fenomena ini menjadi masalah besar bagi mereka yang "gaptek" atau gagap teknologi, mengubah pengalaman menginap yang seharusnya relaks menjadi ajang adu kepintaran dengan gadget.

Dilema Hotel: Harus Canggih, Tapi Jangan Bikin Ribet!

Tidak bisa dimungkiri, industri perhotelan merasakan tekanan besar untuk terus memperbarui teknologi mereka. Survei menunjukkan 56 persen hotel merasakan tekanan ini, dengan fokus utama pada "teknologi kenyamanan." Ini adalah peningkatan praktis yang bertujuan meningkatkan kenyamanan dan kemudahan penggunaan bagi tamu.

Teknologi kenyamanan ini mencakup berbagai hal, mulai dari televisi pintar yang terhubung dengan layanan streaming favoritmu, hingga speaker Bluetooth yang siap memutar musik pilihanmu. Tujuannya tentu saja agar tamu merasa seperti di rumah sendiri, dengan segala kemudahan yang ada. Namun, batas antara "nyaman" dan "membingungkan" ternyata sangat tipis.

Kamar Mandi Ikut ‘Pintar’? Dari Cermin Ajaib Sampai Toilet Ala Jepang

Peningkatan teknologi di hotel tidak hanya berhenti di kamar tidur atau ruang tamu. Area yang mungkin tidak kamu duga, yaitu kamar mandi, juga ikut berinovasi secara mengejutkan. Kini, kamar mandi di beberapa hotel dilengkapi dengan berbagai fitur futuristik yang bikin melongo.

Bayangkan cermin pintar yang bisa menampilkan pembaruan cuaca dan berita pagi saat kamu bercukur atau merias diri. Ada juga pengatur suhu air digital yang presisi, keran dengan sensor gerak yang otomatis menyala, hingga kepala pancuran pintar yang bisa berubah warna berdasarkan penggunaan air.

Tidak hanya itu, beberapa hotel bahkan mengadopsi toilet ala Jepang dengan bidet pintar yang memiliki berbagai fungsi canggih. Bahkan, ada bak mandi yang bisa diisi hanya dengan perintah suara. Semua ini tentu menawarkan pengalaman yang unik, tapi juga berpotensi membuat sebagian tamu bingung mencari tahu bagaimana cara kerjanya.

Robot dan AI di Hotel: Bantu atau Malah Bikin Jauh?

Beberapa hotel melangkah lebih jauh dengan menerapkan robot memasak dan concierge bertenaga kecerdasan buatan (AI). Tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan yang lebih efisien dan cepat. Kamu mungkin pernah melihat robot pelayan mengantarkan sarapan atau menyambut di lobi.

Namun, tidak semua inovasi ini berjalan mulus. Beberapa properti mengaku telah menghapus fitur otomatis seperti robot pelayan sarapan atau di lobi. Alasannya? Robot-robot ini dianggap kurang memberikan kehangatan dan sentuhan personal yang diinginkan tamu.

Seperti yang diungkapkan salah satu hotel dalam studi tersebut: "Pelayanan yang hangat dan personal menciptakan hubungan yang nyata serta memungkinkan kami memenuhi kebutuhan tamu dengan empati dan perhatian." Ini menunjukkan bahwa, seberapa pun canggihnya teknologi, elemen manusia tetap tak tergantikan.

Melanie Fish, wakil presiden hubungan masyarakat global di Hotels.com, menegaskan, "Dari pancuran pintar hingga robot pengantar layanan kamar, survei Innsights tahun ini menunjukkan bahwa hotel di seluruh dunia menggunakan teknologi dengan cara yang fungsional hingga inovatif."

Kamar Hotel Pintar yang Ideal: Nyaman, Personal, dan Gampang Dipakai

Melanie Fish juga menambahkan bahwa "Jelas ada titik ideal untuk kamar hotel pintar: intuitif dan personal, tetapi tetap mudah dinavigasi." Ini adalah kunci utama. Teknologi seharusnya menjadi alat yang memudahkan, bukan justru menambah kerumitan.

Kamar hotel pintar yang ideal adalah yang menawarkan kenyamanan maksimal tanpa perlu manual instruksi setebal kamus. Semua fitur harus mudah diakses dan dipahami, bahkan oleh mereka yang tidak terlalu akrab dengan teknologi. Personalisasi juga penting, di mana tamu bisa mengatur preferensi mereka dengan mudah.

Hotel-hotel perlu menemukan keseimbangan antara inovasi dan pengalaman pengguna. Mungkin dengan menyediakan opsi penggunaan teknologi yang lebih sederhana, atau dengan memberikan tutorial interaktif yang user-friendly melalui tablet di kamar. Yang terpenting, teknologi harus melayani tamu, bukan sebaliknya.

Buat Kamu yang Suka Tantangan Teknologi: Hotel-Hotel Ini Wajib Dicoba!

Bagi kamu yang justru menyukai tantangan dan pengalaman menginap berteknologi tinggi, beberapa pilihan hotel ini patut dipertimbangkan. Mereka menawarkan inovasi yang mungkin akan membuatmu terkagum-kagum:

  • Hotel EMC2 di Chicago: Terkenal dengan layanan kamar berbasis robot yang siap mengantarkan handuk atau kebutuhan lainnya langsung ke kamarmu.
  • CitizenM New York Bowery: Menawarkan kamar dengan kontrol tablet yang memungkinkanmu mengatur segala sesuatu, mulai dari pencahayaan, suhu, hingga hiburan, hanya dengan sentuhan jari.
  • Grand Hyatt Jeju di Korea Selatan: Dilengkapi kamar pintar berbasis biometrik dan butler robot yang siap membantumu selama menginap.

Pada akhirnya, tujuan utama menginap di hotel adalah untuk bersantai dan menikmati liburan. Teknologi seharusnya mendukung tujuan ini, bukan malah menjadi penghalang. Jadi, apakah kamu siap menghadapi kamar hotel masa depan yang makin canggih, atau justru merindukan kesederhanaan hotel zaman dulu? Pilihan ada di tanganmu!

banner 325x300