Siapa sangka, di balik keindahan alam Nusantara, tersimpan potensi luar biasa yang bisa mengubah peta industri kesehatan global? Indonesia, dengan kekayaan biodiversitasnya yang melimpah ruah, sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi raja herbal dunia. Ini bukan sekadar impian, melainkan sebuah kenyataan yang menunggu untuk digali dan dimaksimalkan.
Lebih dari 30 ribu jenis tumbuhan hidup subur di tanah air kita, dan yang paling menakjubkan, sekitar 9.600 di antaranya telah terbukti memiliki khasiat obat. Bayangkan, kekayaan alam ini seharusnya bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi dan kesehatan yang kokoh, berakar pada kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Kekayaan Alam Nusantara: Modal Besar yang Belum Tergali Penuh
Potensi besar ini ditegaskan langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar. Dalam acara Annual Meeting World Health Organization-International Regulatory Cooperation of Herbal Medicine (WHO-IRCH) ke-16 di Jakarta Selatan, ia menyuarakan optimisme yang membara. Menurut Taruna, Indonesia punya peluang emas untuk merajai dunia dalam bidang obat herbal.
"Indonesia punya potensi besar merajai dunia untuk herbal medicine. Bukan hanya raja di negeri sendiri, tapi merajai dunia," kata Taruna, mengutip Detik Health. Pernyataan ini bukan tanpa dasar, mengingat warisan jamu dan pengobatan tradisional yang sudah mengakar kuat dalam budaya kita.
Tantangan di Balik Potensi Emas: Impor dan Minimnya Standarisasi
Namun, di balik ambisi besar ini, ada kenyataan pahit yang harus kita hadapi. Dari ribuan tanaman berkhasiat obat yang kita miliki, baru sekitar 18 ribu herbal yang terdaftar resmi di BPOM. Angka ini masih jauh dari potensi sesungguhnya.
Lebih lanjut, hanya 71 herbal yang telah berhasil naik kelas menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT), dan hanya 20 herbal yang mencapai status fitofarmaka. Ini menunjukkan bahwa proses riset, pengembangan, dan standarisasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita.
Ironisnya, di tengah kekayaan alam yang melimpah, Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk bahan baku obat. Taruna mengungkapkan, sekitar 94 persen bahan baku obat kita masih didatangkan dari luar negeri. Ini adalah sebuah paradoks yang harus segera dipecahkan.
Strategi Jitu BPOM: Kolaborasi ABG untuk Kemandirian Herbal
Melihat kondisi ini, BPOM tidak tinggal diam. Mereka telah menyiapkan strategi Academic, Business, Government (ABG) untuk memperkuat riset dan pengembangan herbal dalam negeri. Strategi ini dirancang untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi inovasi herbal Indonesia agar bisa bersaing di tingkat global.
Dalam kolaborasi ABG ini, akademisi akan berperan dalam penelitian mendalam dan validasi ilmiah. Pelaku usaha diharapkan berinvestasi dalam produksi dan pengembangan produk, sementara pemerintah akan menyediakan regulasi dan dukungan kebijakan yang memadai. Tujuannya jelas, agar herbal Indonesia tidak hanya berkualitas, tetapi juga berdaya saing.
"Kami menyediakan regulasi dan pedoman untuk memastikan kepatuhan terhadap keamanan, khasiat, dan mutu," jelas Taruna. BPOM juga terus mendorong integrasi obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional, sebuah langkah krusial untuk meningkatkan penerimaan dan penggunaan herbal di masyarakat.
Kunyit dan Kina: ‘Senjata Rahasia’ yang Terlupakan?
Dari sekian banyak tanaman herbal potensial, Taruna secara khusus menyoroti dua jenis yang dianggap paling strategis: kunyit dan batang kina. Keduanya memiliki sejarah panjang dan khasiat yang tak diragukan, namun belum dimaksimalkan secara optimal di tanah air.
Batang kina, misalnya, sudah lama dikenal sebagai bahan baku penting untuk obat malaria. Sementara itu, kunyit adalah rempah ajaib yang kaya akan kurkumin, zat aktif dengan efek antioksidan, antiinflamasi, bahkan berpotensi sebagai antikanker. Khasiatnya sudah diakui dunia, tapi pengelolaannya di Indonesia masih jauh dari kata maksimal.
Bagaimana tidak, proses produksi kedua bahan herbal ini justru masih bergantung pada negara lain. "Selama ini batang-batang kina itu kita kirim dulu ke Jerman, ke Eropa, atau ke Belanda. Bahan bakunya terus selesai itu dikirim kembali, jadi harganya bisa ribuan kali lipat," ungkap Taruna dengan nada prihatin.
Fenomena ini adalah contoh nyata bagaimana Indonesia kehilangan nilai tambah dari kekayaan alamnya sendiri. Kita menjual bahan mentah dengan harga murah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga selangit. Ini bukan hanya kerugian ekonomi, tetapi juga menunjukkan kurangnya kemandirian dalam industri farmasi.
Masa Depan Herbal Indonesia: Antara Harapan dan Aksi Nyata
Taruna menegaskan, jika pengolahan herbal dilakukan secara mandiri di Indonesia, nilai tambahnya akan meningkat signifikan. Ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan terhadap obat impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan roda ekonomi lokal. "Kalau kita bisa kelola sendiri di sini, kita mampu dari sumber alam ini. Saya yakin secara bertahap potensi ketergantungan obat dari luar negeri itu semakin bisa dikurangi," ujarnya penuh optimisme.
BPOM percaya, dengan kekayaan alam yang melimpah, dukungan riset yang kuat, dan regulasi yang memadai, Indonesia bisa sejajar, bahkan melampaui, negara-negara yang sudah lebih dulu dikenal dengan produk herbalnya. Sebut saja Korea dengan ginsengnya yang mendunia, atau China dengan pengobatan tradisionalnya yang telah teruji zaman.
"Jangan hanya Korea yang punya ginsengnya dan China, tapi Indonesia harus tumbuh menjadi potensi besar bahwa Indonesia lebih kaya dari mereka itu," kata Taruna. Ini adalah panggilan untuk kita semua, dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat, untuk bersama-sama mewujudkan mimpi besar ini. Sudah saatnya "harta karun" herbal Indonesia tidak hanya tersimpan, tetapi benar-benar mengguncang dunia.


















