Thailand, destinasi impian banyak pelancong, kini menghadapi kenyataan pahit. Gelombang wisatawan dari China, yang selama ini menjadi tulang punggung industri pariwisatanya, mulai menunjukkan tanda-tanda berpaling. Angka kedatangan turis China ke Negeri Gajah Putih anjlok drastis, mencapai sekitar 35 persen sepanjang tahun ini.
Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan pergeseran tren yang signifikan. Dulu, pantai-pantai ikonik dan kuil-kuil megah Thailand selalu menjadi magnet kuat bagi turis China. Namun, kini mereka mulai mencari pengalaman baru di negara tetangga, terutama Vietnam.
Mengapa Turis China Berpaling dari Thailand?
Pergeseran preferensi ini didorong oleh beberapa faktor krusial, yang sebagian besar berkaitan dengan kekhawatiran akan keamanan. Isu seputar pusat-pusat penipuan daring yang marak di Thailand menjadi salah satu pemicu utama. Banyak laporan yang mengindikasikan bahwa beberapa lokasi di Thailand, terutama di daerah perbatasan, menjadi sarang bagi operasi penipuan siber yang menargetkan warga China.
Selain itu, insiden penculikan seorang aktor China pada Januari lalu semakin memperburuk citra keamanan Thailand di mata publik China. Kejadian ini memicu gelombang kekhawatiran dan memunculkan persepsi bahwa Thailand tidak lagi seaman dulu bagi wisatawan. Dampaknya, banyak agen perjalanan di China melaporkan penurunan minat yang signifikan terhadap paket liburan ke Thailand.
Kisah Hu Jia: Bukti Nyata Pergeseran Tren
Salah satu contoh nyata dari pergeseran ini adalah keluarga Hu Jia. Alih-alih mengunjungi Thailand yang hanya berjarak singkat dari rumah mereka di Provinsi Sichuan, China, Hu Jia dan keluarganya memilih Vietnam sebagai destinasi liburan mereka tahun ini. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran akan keamanan di Thailand.
Hu Jia, bersama suami dan kedua putranya, menikmati perjalanan dua minggu yang tak terlupakan di Vietnam. Mereka menjelajahi ibu kota utara, Hanoi, hingga kota pesisir Danang, dengan menggunakan sleeper bus mewah. Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam bagi Hu Jia.
"Vietnam memiliki pesona uniknya sendiri," kata Hu, 33 tahun, yang menghabiskan kurang dari $3.000 atau sekitar Rp49 juta untuk liburan mereka. "Saya sangat menyukai tempat-tempat yang terasa alami dan belum terjamah. Jika ada kesempatan, saya pasti akan kembali."
Kisah Hu Jia ini menjadi representasi dari jutaan turis China lainnya yang kini mencari pengalaman baru. Mereka adalah bagian dari gelombang baru 3,5 juta wisatawan China yang telah mendorong rekor pariwisata Vietnam tahun ini. Angka ini secara efektif membantu Vietnam menggeser posisi Thailand sebagai destinasi regional teratas bagi para petualang dari daratan China.
Vietnam: Destinasi Baru yang Memikat Hati
Lonjakan pariwisata di Vietnam bukanlah kebetulan. Negara ini menawarkan daya tarik yang berbeda dan dianggap lebih "segar" oleh wisatawan China. Subramania Bhatt, CEO China Trading Desk, sebuah perusahaan yang melacak pengeluaran perjalanan dan kartu kredit China, menjelaskan bahwa banyak pengunjung merasa Vietnam lebih unik dan otentik.
Vietnam berhasil menarik perhatian dengan keindahan alamnya yang masih alami dan budaya yang kaya. Dari teluk-teluk eksotis di Ha Long Bay, kota kuno Hoi An, hingga pegunungan Sa Pa yang menawan, Vietnam menyajikan pengalaman yang berbeda dari hiruk pikuk kota-kota besar. Biaya hidup dan perjalanan yang relatif lebih terjangkau juga menjadi nilai tambah yang signifikan.
Negara ini telah mencatat rekor hampir 14 juta kedatangan asing sepanjang tahun ini. Pengunjung dari China, yang merupakan pasar sumber terbesarnya, mencatat kenaikan luar biasa sebesar 44 persen dari tahun ke tahun hingga Agustus 2025. Ini adalah bukti konkret bahwa Vietnam telah berhasil merebut hati para pelancong China.
Dampak Ekonomi: Thailand Kehilangan, Vietnam Meraup Untung
Pergeseran tren ini membawa implikasi ekonomi yang besar bagi industri pariwisata Asia Tenggara yang bernilai miliaran dolar. Thailand, sebagai titan regional, berpotensi kehilangan pendapatan sebesar US$3,5 miliar. Jumlah fantastis ini kini mengalir ke Vietnam dan negara-negara tetangga lainnya yang berhasil menarik perhatian wisatawan China.
Bagi Thailand, penurunan ini adalah pukulan telak, mengingat pariwisata adalah salah satu pilar utama ekonominya. Hotel, restoran, dan berbagai bisnis terkait pariwisata di Thailand kini harus beradaptasi dengan kenyataan bahwa pasar China tidak lagi sekuat dulu. Di sisi lain, Vietnam sedang menikmati masa keemasan pariwisata, dengan pendapatan yang melonjak dan investasi baru yang mengalir.
Malaysia Ikut Kecipratan Berkah
Tidak hanya Vietnam, negara tetangga lain seperti Malaysia juga turut merasakan berkah dari pergeseran ini. Malaysia mengalami kenaikan 35 persen dalam jumlah pengunjung dari daratan Tiongkok pada paruh pertama tahun ini. Kapasitas kursi pesawat dari China ke Malaysia juga melonjak hampir 50 persen, menunjukkan peningkatan konektivitas yang signifikan.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pemilik Hotel Malaysia, Shaharuddin Saaid, optimistis bahwa masuknya warga negara China tanpa visa, ditambah dengan nilai Ringgit yang melemah, akan menarik lebih banyak lagi petualang. Hotel-hotel di Malaysia melaporkan permintaan yang lebih kuat dan tingkat hunian yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, menandakan periode pertumbuhan yang menjanjikan.
Masa Depan Pariwisata Asia Tenggara
Pergeseran ini menandai perubahan mendasar dalam preferensi pasar perjalanan terbesar di dunia. Gelombang baru wisatawan China adalah para pelancong mandiri yang mencari pengalaman segar, otentik, dan bernilai. Mereka tidak lagi hanya terpaku pada destinasi populer yang sudah terlalu komersial.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi semua negara di Asia Tenggara untuk terus berinovasi dan memastikan keamanan serta kenyamanan wisatawan. Destinasi yang mampu menawarkan pengalaman unik, otentik, dan yang paling penting, aman, akan menjadi pemenang di era pariwisata global yang terus berubah ini. Bagi Thailand, ini adalah momen untuk introspeksi dan beradaptasi agar bisa kembali merebut hati para pelancong dari China dan seluruh dunia.


















