banner 728x250

Bikin Penasaran! Jajanan Kontroversial dari Jogja Ini Resmi Jadi Warisan Budaya

bikin penasaran jajanan kontroversial dari jogja ini resmi jadi warisan budaya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Mendengar nama "Kue Kontol Kejepit" mungkin akan membuat dahi kamu berkerut atau bahkan tersenyum geli. Ya, jajanan pasar tradisional dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini memang punya nama yang sangat unik dan terkesan nyeleneh. Namun, di balik namanya yang bikin geger, ada kisah, filosofi, dan pengakuan budaya yang luar biasa.

Siapa sangka, kue yang juga akrab disapa "Tolpit" atau "Adrem" ini tidak hanya sekadar camilan manis biasa. Kue ini secara resmi telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI. Sebuah pengakuan yang menegaskan bahwa di balik nama yang provokatif, tersimpan kekayaan budaya yang patut dilestarikan.

banner 325x300

Bukan Sekadar Nama Nyeleneh, Tapi Warisan Budaya Takbenda!

Kue Kontol Kejepit, atau Adrem, adalah simbol budaya yang menyimpan makna filosofis mendalam bagi masyarakat Bantul. Jajanan ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah kuliner bisa menjadi jembatan penghubung antara masa lalu, tradisi, dan kehidupan modern. Pengakuan sebagai WBTb ini bukan hanya apresiasi, melainkan juga sebuah amanah untuk menjaga keberlangsungan warisan nenek moyang.

Penetapan ini juga membuktikan bahwa keunikan dan nilai historis sebuah makanan jauh lebih penting daripada sekadar namanya yang mungkin terdengar "berani." Ini adalah undangan bagi kita semua untuk melihat lebih dalam, melampaui permukaan, dan menemukan harta karun budaya yang tersembunyi.

Asal-Usul Nama yang Bikin Geger: Kontol Kejepit atau Tolpit?

Nah, ini dia bagian yang paling bikin penasaran. Mengapa namanya bisa "Kontol Kejepit"? Menurut penjelasan Setyo Prasiyono Nugroho dalam artikel Wisata Gastronomi Makanan Tradisional Yogyakarta melalui Storynomic (2023), sebutan ini muncul karena bentuk kue yang dianggap menyerupai alat kelamin pria dalam bahasa Jawa. Interpretasi ini memang seringkali menjadi pemicu tawa atau rasa penasaran bagi banyak orang.

Namun, beberapa pembuat Adrem memiliki pandangan yang berbeda dan lebih "membumi." Mereka menilai nama tersebut lebih merujuk pada teknik menjepit adonan saat digoreng, bukan pada bentuknya. Mardinem, salah satu pembuat kue di Bantul, menjelaskan, "Mungkin karena dijepit pakai tiga sumpit itu, lalu diangkat. Jadi bukan karena bentuknya." Penjelasan ini memberikan perspektif lain yang lebih fokus pada proses pembuatan yang unik.

Simbol Syukur dan Kehidupan ‘Adhem’ yang Penuh Makna

Di balik namanya yang "nakal," Adrem atau Tolpit ternyata menyimpan segudang makna filosofis yang sangat luhur. Menurut laman resmi Pemprov DIY, kue ini dulunya erat kaitannya dengan tradisi panen masyarakat pedesaan. Adrem biasa dijajakan dengan cara ditukar menggunakan hasil panen padi, sebagai wujud rasa syukur kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dalam kepercayaan Jawa. Ini menunjukkan betapa dalamnya akar budaya kue ini dalam kehidupan agraris masyarakat setempat.

Selain menjadi simbol kesuburan, Adrem juga dimaknai sebagai lambang pengampunan dan pengayoman. Ada doa dan harapan agar kehidupan selalu "adhem" atau tenteram, damai, dan sejahtera. Tak heran jika hingga saat ini, kue tersebut masih sering disajikan dalam berbagai acara tradisional atau selamatan, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual dan perayaan penting.

Rahasia Dapur di Balik Bentuk Unik Kue Adrem

Ciri khas Adrem tidak hanya terletak pada namanya, tetapi juga pada cara pembuatannya yang unik. Melansir dari Detik, adonan kue ini berbahan dasar tepung beras dan gula jawa, yang kemudian digoreng dengan teknik khusus. Proses penggorengan melibatkan penggunaan tiga bilah bambu atau sumpit.

Teknik menjepit adonan saat digoreng inilah yang menciptakan bentuk unik dan tekstur khas Adrem. Hasilnya adalah kue yang renyah di luar namun tetap lembut dan kenyal di dalam, dengan aroma gula jawa yang menggoda selera. Bentuk dan teknik inilah yang membuatnya mudah dikenali sekaligus sulit dilupakan.

Banyak pembuat kue di Bantul, seperti Mardinem dan Kisminah, masih mempertahankan cara tradisional ini. Mereka percaya bahwa dengan menjaga metode pembuatan asli, cita rasa dan filosofi Adrem akan tetap terjaga otentisitasnya. "Kalau tidak dijepit, bentuknya seperti apem biasa. Tapi kalau dijepit, jadi menarik dan khas," ujar Kisminah saat diwawancarai beberapa waktu lalu, menegaskan pentingnya teknik tersebut.

Dari Pasar Desa Hingga Diakui Nasional

Perjalanan Kue Kontol Kejepit dari jajanan pasar tradisional menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia adalah kisah yang inspiratif. Dulunya, kue ini mungkin hanya dikenal dan dijual di pasar-pasar desa di Bantul, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Kini, statusnya telah naik kelas, diakui dan dilindungi oleh negara.

Penetapan ini bukan hanya bentuk apresiasi terhadap kreativitas masyarakat lokal dalam menciptakan kuliner yang unik. Lebih dari itu, ini adalah pengakuan terhadap kekayaan kuliner dan filosofi Jawa yang telah diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Ini juga menjadi dorongan bagi masyarakat untuk terus melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya ini kepada khalayak yang lebih luas.

Mengapa Kamu Harus Mencoba dan Melestarikan Tolpit?

Kini, kue yang dulunya hanya dijual di pasar tradisional Bantul itu telah naik kelas. Dengan rasa manis legit berpadu aroma gula jawa yang khas, Tolpit kini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Setiap gigitannya bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang menikmati warisan rasa dan cerita dari tanah Bantul yang tak lekang oleh waktu.

Mencicipi Tolpit berarti kamu juga turut serta dalam melestarikan salah satu kekayaan kuliner Indonesia yang unik. Ini adalah cara sederhana namun bermakna untuk menghargai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Jadi, kapan terakhir kali kamu mencicipi jajanan legendaris ini? Jangan sampai ketinggalan, ya!

banner 325x300