Maskapai terbesar di Eropa, Ryanair, mengumumkan sebuah keputusan yang cukup mengejutkan. Mereka menyatakan kemungkinan besar tidak akan lagi melayani penerbangan ke Israel, bahkan setelah situasi konflik terkait perang di Gaza mereda. Ini bukan sekadar penundaan, melainkan potensi penarikan permanen dari pasar Israel.
Keputusan drastis ini diungkapkan langsung oleh CEO Ryanair, Michael O’Leary. Ia merasa maskapainya telah "dipermainkan" oleh otoritas bandara di Israel. Pernyataan ini tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
Drama di Bandara Ben Gurion: Merasa ‘Dipermainkan’ Otoritas Israel
Pangkal masalah utama terletak pada pengalaman kurang menyenangkan Ryanair dengan otoritas Bandara Ben Gurion di Tel Aviv. Bandara di Negeri Zionis itu dilaporkan mengenakan tarif yang jauh lebih tinggi untuk penggunaan terminal utama. Padahal, terminal berbiaya rendah yang biasa digunakan Ryanair ditutup karena alasan keamanan.
Bagi Ryanair, maskapai yang dikenal dengan model bisnis berbiaya rendah, biaya operasional adalah segalanya. Kenaikan tarif yang signifikan ini jelas merusak strategi mereka. Mereka tidak bisa lagi menawarkan harga tiket yang kompetitif jika harus menanggung biaya bandara yang membengkak.
Michael O’Leary, dalam konferensi pers di Dublin, Irlandia, pada Kamis (11/9/2025), dengan tegas menyatakan, "Ada kemungkinan besar kami tidak akan kembali ke Israel." Ungkapan ini menunjukkan betapa seriusnya masalah yang mereka hadapi dengan otoritas bandara setempat. Mereka merasa tidak ada keseriusan dari pihak Israel untuk memfasilitasi maskapai berbiaya rendah.
Ia menambahkan, "Kecuali pihak Israel bersikap lebih serius dan berhenti mempersulit kami, kami lebih memilih untuk mengembangkan operasi di wilayah lain di Eropa." Ini adalah ultimatum yang jelas. Ryanair menuntut perlakuan yang lebih adil dan transparan jika ingin mereka kembali.
Konflik Gaza Bukan Satu-satunya Penghalang
Sebelumnya, Ryanair memang telah mengumumkan penghentian penerbangan ke Israel hingga setidaknya 25 Oktober 2025. Langkah ini sejalan dengan banyak maskapai internasional lain yang menghentikan operasinya di wilayah tersebut akibat konflik yang sedang berlangsung. Keamanan penumpang dan kru menjadi prioritas utama.
Namun, pernyataan O’Leary kali ini membawa dimensi yang berbeda. Ini bukan lagi soal menunggu konflik reda, melainkan tentang kondisi operasional jangka panjang yang tidak menguntungkan. Konflik Gaza mungkin menjadi pemicu awal, tetapi masalah biaya bandara adalah alasan yang lebih fundamental untuk potensi penarikan diri mereka.
Ini menunjukkan bahwa pemulihan sektor penerbangan pasca-konflik tidak hanya bergantung pada stabilitas keamanan. Faktor ekonomi dan kebijakan otoritas bandara juga memegang peranan krusial. Maskapai perlu jaminan bahwa mereka bisa beroperasi secara efisien dan menguntungkan.
Strategi Ryanair: Fokus ke Pasar Lain yang Lebih Menguntungkan
Sebagai maskapai terbesar di Eropa, Ryanair memiliki fleksibilitas untuk mengalihkan fokus operasionalnya. Jika Israel tidak lagi menawarkan kondisi yang menguntungkan, mereka akan mencari pasar lain yang lebih ramah terhadap model bisnis mereka. Ini adalah prinsip dasar dalam dunia bisnis penerbangan.
O’Leary secara eksplisit menyebutkan bahwa Ryanair berencana kembali mengoperasikan penerbangan ke Yordania pada bulan ini atau bulan depan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuhnya menarik diri dari wilayah Timur Tengah, tetapi lebih selektif dalam memilih destinasi. Yordania mungkin menawarkan kondisi yang lebih kondusif.
Keputusan ini tentu akan berdampak signifikan bagi Israel. Kehilangan maskapai sekelas Ryanair berarti berkurangnya konektivitas, pilihan penerbangan yang lebih sedikit, dan potensi kenaikan harga tiket bagi konsumen. Ini juga bisa menghambat upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi Israel pasca-konflik.
Tantangan Operasional Maskapai di Eropa yang Kian Kompleks
Di tengah masalah dengan Israel, O’Leary juga menyoroti tantangan operasional yang lebih luas di Eropa. Pada Rabu (10/9), beberapa bandara di Polandia sempat ditutup sementara karena negara tersebut menembak jatuh drone Rusia. Insiden ini menyebabkan gangguan pengendalian lalu lintas udara dan memicu keterlambatan penerbangan di seluruh Eropa.
"Gangguan seperti ini akan menjadi masalah berkelanjutan bagi semua maskapai dan warga Eropa dalam beberapa tahun ke depan," tutur O’Leary. Ia menekankan bahwa risiko terbesar adalah gangguan operasional, bukan semata-mata soal keamanan langsung. Ini mencakup masalah geopolitik, kapasitas ATC, dan bahkan isu lingkungan.
Pernyataan ini menggarisbawahi kompleksitas operasional yang dihadapi maskapai saat ini. Mereka harus siap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik regional, masalah keamanan siber, hingga kebijakan bandara yang berubah-ubah. Fleksibilitas dan kemampuan adaptasi menjadi kunci untuk bertahan.
Masa Depan Penerbangan ke Israel: Akankah Ada Titik Terang?
Potensi penarikan Ryanair dari Israel mengirimkan sinyal kuat kepada otoritas bandara dan pemerintah setempat. Jika mereka ingin maskapai besar kembali dan membantu memulihkan pariwisata, mereka perlu meninjau ulang kebijakan biaya dan fasilitas. Lingkungan yang mendukung maskapai berbiaya rendah sangat penting untuk menarik volume penumpang.
Bagi konsumen, ini berarti pilihan penerbangan ke Israel mungkin akan terbatas dan lebih mahal di masa depan. Ini juga bisa menjadi pelajaran bagi negara-negara lain untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi maskapai penerbangan. Kolaborasi antara pemerintah, otoritas bandara, dan maskapai adalah kunci untuk keberlanjutan sektor ini.
Keputusan Ryanair ini menjadi cerminan bahwa maskapai tidak hanya melihat keamanan, tetapi juga kelayakan bisnis jangka panjang. Tanpa adanya jaminan operasional yang adil dan efisien, bahkan maskapai terbesar pun tidak akan ragu untuk mencari peluang di tempat lain. Masa depan penerbangan ke Israel kini berada di tangan otoritas setempat.


















