Dunia maya kembali digegerkan oleh ulah seorang travel influencer asal China yang memamerkan aksi "hemat" ekstrem selama perjalanannya di Osaka, Jepang. Pria bernama Yikeshu, yang memiliki lebih dari 200.000 pengikut, menuai kecaman keras setelah video perjalanannya yang berjudul "Selamat datang untuk menyaksikan perjalanan saya di Osaka selama sehari dengan 100 yuan (sekitar Rp232 ribu)" viral dan menjadi perbincangan hangat. Video tersebut memperlihatkan serangkaian tindakan yang dianggap tidak etis dan tidak menghormati budaya lokal.
Aksi Nekat di Bandara: Wastafel Jadi Salon Pribadi
Setibanya di Bandara Internasional Kansai, Yikeshu langsung menunjukkan gelagat tak biasa. Ia nekat merekam di area pabean, mengabaikan tanda "dilarang merekam," sambil dengan percaya diri menyatakan, "Langsung memasuki Little Japan." Tindakan ini menjadi awal dari serangkaian pelanggaran etika yang akan ia lakukan.
Tak berhenti di situ, kamar mandi bandara pun ia sulap menjadi spa pribadinya. Dalam rekaman videonya, Yikeshu terlihat santai mencuci rambutnya di wastafel publik, seolah-olah itu adalah fasilitas pribadi di rumahnya. Lebih mencengangkan lagi, ia menggunakan alat pengering tangan yang seharusnya untuk mengeringkan tangan, sebagai pengering rambut darurat.
Kereta Umum Disulap Jadi Arena Gym?
Perjalanan Yikeshu berlanjut dengan menaiki Kereta Api Listrik Nankai menuju Osaka. Di dalam kereta, ia kembali membuat ulah yang mengundang geleng-geleng kepala. Pegangan gantung yang seharusnya digunakan penumpang untuk berpegangan, ia manfaatkan sebagai alat fitness.
Yikeshu dengan santainya melakukan pull-up pada pegangan tersebut, mengubah fasilitas transportasi publik menjadi arena latihan pribadinya. Aksi ini tentu saja mengejutkan penumpang lain dan menimbulkan pertanyaan besar tentang kesadaran akan ruang publik dan kenyamanan bersama.
Strategi ‘Hemat’ yang Bikin Geleng-Geleng Kepala
Dalam misi menghemat pengeluaran, Yikeshu juga membagikan tips "minum air gratis" yang kontroversial. Ia menunjukkan caranya dengan masuk ke sebuah restoran, meminta cangkir, dan menenggak teh gratis yang disediakan untuk pelanggan. Setelah puas minum, ia kemudian keluar begitu saja tanpa melakukan pembelian apa pun.
Tindakan ini jelas melanggar etika umum di restoran mana pun, apalagi di Jepang yang menjunjung tinggi kesopanan dan rasa hormat. Strategi "hemat" semacam ini justru merugikan pemilik usaha dan mencoreng citra wisatawan.
Pesta Sampel Gratis: Puncak Kontroversi di Pasar Lokal
Puncak dari semua kontroversi terjadi saat Yikeshu mengunjungi pasar lokal. Ia mendekati kios buah yang menyediakan sampel kecil untuk dicoba oleh calon pembeli. Namun, alih-alih mencoba satu atau dua, Yikeshu memperlakukan piring sampel tersebut layaknya prasmanan pribadi.
Ia memakan anggur satu per satu menggunakan tusuk sate bambu, tanpa henti. Penjual yang menyadari aksinya sempat mengingatkannya untuk membuang tusuk sate bekas, namun Yikeshu mengabaikannya dan terus menggunakan tusuk sate yang sama. Penjual akhirnya terpaksa menutup piring sampel dengan plastik untuk menghentikan aksinya. Yikeshu baru berhenti setelah melahap tujuh buah anggur, yang akhirnya membuat penjual menyingkirkan seluruh nampan sampel tersebut.
Banjir Kecaman: Warganet Geram dan Prihatin
Video Yikeshu yang viral ini segera memicu gelombang kritik pedas dari warganet di berbagai platform media sosial. Komentar-komentar negatif membanjiri unggahannya, mengungkapkan rasa malu dan kekecewaan atas perilakunya. Banyak yang menyebutnya "benar-benar tidak tahu malu" dan mempertanyakan etika dasar sang influencer.
"Saya sarankan turis China seperti ini menghadiri dan lulus pelajaran etika publik sebagai prasyarat persetujuan paspor," komentar seorang warganet dengan nada satir. Komentar lain yang juga banyak disoroti adalah, "Ketika Anda mendarat di negara lain, Anda mewakili negara Anda, ingat itu." Pesan ini menekankan pentingnya menjaga nama baik negara asal saat berada di luar negeri, terutama bagi figur publik seperti influencer.
Fenomena Pariwisata China di Jepang: Antara Peluang dan Tantangan Etika
Insiden yang melibatkan Yikeshu ini terjadi di tengah meningkatnya popularitas Jepang sebagai destinasi wisata favorit bagi turis China. Pelemahan mata uang Yen dan peningkatan jumlah penerbangan langsung telah menjadikan Negeri Sakura tujuan yang sangat menarik. Laporan Japan Times menunjukkan bahwa pada bulan Agustus, Jepang menyambut 3,4 juta wisatawan mancanegara, naik 16,9% dari tahun ke tahun.
Dari angka tersebut, China memimpin dengan 1 juta pengunjung, meningkat 36,5%, diikuti oleh Korea Selatan dengan 660.900 pengunjung. Peningkatan jumlah wisatawan ini tentu membawa keuntungan ekonomi yang besar bagi Jepang. Namun, di sisi lain, juga menimbulkan tantangan terkait perbedaan budaya dan etika, seperti yang ditunjukkan oleh kasus Yikeshu.
Refleksi: Tanggung Jawab Influencer dan Citra Bangsa
Kasus Yikeshu menjadi pengingat penting bagi para influencer dan wisatawan secara umum tentang tanggung jawab mereka saat bepergian ke luar negeri. Sebagai seorang influencer dengan ratusan ribu pengikut, setiap tindakan Yikeshu memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada citra dirinya tetapi juga pada persepsi terhadap negaranya. Mencari konten viral atau menghemat uang dengan cara yang melanggar etika dan norma sosial justru dapat merusak reputasi dan memicu sentimen negatif.
Penting bagi setiap wisatawan untuk memahami dan menghormati budaya serta aturan setempat. Perjalanan seharusnya menjadi ajang untuk memperkaya pengalaman dan membangun jembatan antarbudaya, bukan justru merusak hubungan dan menciptakan kesan buruk. Etika dan rasa hormat adalah mata uang universal yang jauh lebih berharga daripada konten viral atau penghematan sesaat.


















