banner 728x250

Anak Kena DBD? Jangan Panik! Ini 5 Pertolongan Pertama di Rumah yang Bisa Selamatkan Nyawa

Ibu memeriksa suhu tubuh anak yang sakit di ranjang.
Kasus DBD di Indonesia melonjak. Pentingnya pertolongan pertama di rumah untuk anak yang terjangkit virus Dengue.
banner 120x600
banner 468x60

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah ancaman serius, terutama bagi anak-anak. Penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue ini bisa berkembang sangat cepat, mengubah demam biasa menjadi kondisi yang mengkhawatirkan dalam hitungan jam. Oleh karena itu, kemampuan orang tua untuk memberikan pertolongan pertama yang tepat di rumah menjadi krusial sebelum anak mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan betapa seriusnya situasi ini. Hingga minggu ke-25 tahun 2025, tercatat 79.843 kasus DBD dengan 359 kematian di seluruh Indonesia. Angka ini sangat mengkhawatirkan, apalagi 73 persen kasus terjadi pada kelompok usia 5-44 tahun, dengan kematian terbanyak pada kelompok usia 5-14 tahun. Ini artinya, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dan membutuhkan perhatian ekstra dari kita semua.

banner 325x300

Dokter Spesialis Anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Venty, menegaskan pentingnya kewaspadaan. "DBD pada anak seringkali berkembang cepat. Orang tua harus peka terhadap gejala awal dan jangan menunda pemeriksaan," ujarnya dalam keterangan tertulis. Ia menambahkan, "Deteksi dini dan pemberian cairan yang cukup bisa sangat membantu mencegah kondisi menjadi lebih berat." Lantas, apa saja langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan di rumah saat anak menunjukkan gejala DBD? Simak panduan lengkapnya.

Memahami Ancaman DBD pada Anak: Kenapa Lebih Berbahaya?

Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi virus Dengue. Selain itu, tubuh anak yang lebih kecil dan metabolisme yang lebih cepat bisa membuat penyakit ini berkembang jauh lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa. Gejala yang muncul pun kadang sulit diinterpretasikan atau dikomunikasikan oleh anak-anak, sehingga orang tua harus sangat jeli dan proaktif.

Perkembangan DBD pada anak bisa melewati beberapa fase, mulai dari fase demam, fase kritis, hingga fase pemulihan. Fase kritis, yang seringkali ditandai dengan penurunan demam namun kondisi anak justru memburuk, adalah momen paling berbahaya. Di sinilah terjadi kebocoran plasma yang bisa menyebabkan syok dan bahkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat oleh tenaga medis.

5 Pertolongan Pertama DBD pada Anak yang Wajib Orang Tua Tahu

1. Pastikan Anak Mendapat Cairan yang Cukup

Dehidrasi adalah salah satu komplikasi paling umum dan berbahaya pada penderita DBD, terutama anak-anak. Demam tinggi yang berkepanjangan, muntah, dan kadang diare dapat dengan cepat menguras cairan tubuh mereka. Memberikan asupan cairan yang memadai sangat penting untuk menjaga sirkulasi darah dan mencegah kondisi anak memburuk hingga syok.

Berikan anak air putih secara teratur, sedikit demi sedikit namun sering, agar mudah dicerna dan tidak memicu muntah. Selain itu, oralit adalah pilihan yang sangat baik karena mengandung elektrolit yang membantu mengganti cairan dan mineral yang hilang. Jus buah segar tanpa tambahan gula, kuah sup bening, atau air kelapa juga bisa menjadi alternatif yang disukai anak untuk memastikan mereka tetap terhidrasi dengan baik. Hindari minuman bersoda atau yang terlalu manis, karena justru bisa memperburuk dehidrasi.

2. Lakukan Kompres dengan Air Hangat

Meskipun anak demam tinggi, kompres air hangat terbukti lebih efektif dalam menurunkan suhu tubuh dibandingkan air dingin. Air hangat membantu melebarkan pembuluh darah di permukaan kulit, memfasilitasi penguapan panas dari tubuh. Ini akan membuat anak merasa lebih nyaman dan membantu proses penurunan demam secara alami dan bertahap.

Hindari penggunaan air dingin atau es karena dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, justru menghambat pengeluaran panas dan membuat anak menggigil. Begitu pula dengan alkohol, yang tidak hanya bisa menyebabkan iritasi kulit tetapi juga berisiko terhirup dan menimbulkan efek toksik pada anak. Letakkan kompres hangat di dahi, ketiak, dan selangkangan anak, dan ganti secara berkala saat sudah tidak hangat lagi.

3. Berikan Obat Penurun Panas Sesuai Anjuran Dokter

Jika demam anak sangat tinggi dan membuatnya tidak nyaman, pemberian obat penurun panas seperti paracetamol bisa membantu meredakan gejala. Namun, sangat penting untuk selalu mengikuti dosis yang dianjurkan oleh dokter atau yang tertera pada kemasan sesuai dengan berat badan dan usia anak. Jangan pernah melebihi dosis yang direkomendasikan karena bisa berbahaya.

Yang tak kalah penting, hindari memberikan aspirin atau ibuprofen kepada anak yang diduga menderita DBD. Kedua obat ini memiliki efek antikoagulan (pengencer darah) yang dapat meningkatkan risiko perdarahan internal, sebuah komplikasi serius pada DBD. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum memberikan obat apa pun kepada anak Anda untuk memastikan keamanannya.

4. Pastikan Anak Mendapatkan Istirahat yang Cukup

Sistem kekebalan tubuh anak membutuhkan energi ekstra untuk melawan virus Dengue yang menyerang tubuhnya. Oleh karena itu, istirahat yang cukup adalah kunci utama dalam proses pemulihan dan memperkuat daya tahan tubuh. Pastikan anak memiliki lingkungan yang tenang dan nyaman untuk beristirahat.

Buat suasana kamar tidur sejuk, tidak terlalu panas atau dingin, dan minim gangguan agar anak bisa tidur nyenyak. Hindari aktivitas fisik yang berlebihan yang bisa menguras energi anak dan memperlambat pemulihan. Semakin banyak anak beristirahat, semakin optimal sistem kekebalan tubuhnya bekerja untuk melawan infeksi dan mempercepat proses penyembuhan.

5. Pantau Tanda Bahaya dan Segera Bawa ke Fasilitas Kesehatan

Ini adalah langkah paling krusial yang tidak boleh diabaikan. Orang tua harus sangat waspada terhadap munculnya tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan kondisi DBD anak semakin serius dan memerlukan penanganan medis darurat. Jangan tunda untuk segera membawa anak ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat jika Anda melihat salah satu dari gejala berikut:

  • Perdarahan: Mimisan, gusi berdarah, atau munculnya bintik-bintik merah kecil di kulit yang tidak hilang saat ditekan (petekie). Ini bisa menjadi tanda trombosit rendah yang berbahaya.
  • Muntah Berulang: Terutama jika muntah darah atau terlihat seperti bubuk kopi, yang mengindikasikan perdarahan internal.
  • Nyeri Perut Hebat: Nyeri yang terus-menerus dan tidak kunjung reda, terutama di bagian kanan atas perut. Ini bisa mengindikasikan pembengkakan hati atau kebocoran plasma.
  • Kelemahan Ekstrem: Anak terlihat sangat lemas, lesu, tidak responsif, atau bahkan pingsan. Ini adalah tanda syok yang memerlukan tindakan medis segera.
  • Demam Turun Tapi Kondisi Memburuk: Setelah demam tinggi beberapa hari, suhu tubuh anak tiba-tiba turun drastis, namun ia justru terlihat semakin sakit, lemas, atau gelisah. Ini adalah fase kritis DBD yang paling berbahaya dan harus segera ditangani.
  • Sesak Napas: Kesulitan bernapas atau napas yang cepat dan dangkal.
  • Kulit Dingin dan Lembap: Terutama di bagian ujung tangan dan kaki, menunjukkan gangguan sirkulasi darah.

Tanda-tanda ini memerlukan perhatian medis segera dan intensif. Penundaan bisa berakibat fatal dan membahayakan nyawa anak Anda.

Kesimpulan

Menghadapi DBD pada anak memang bisa membuat panik dan khawatir, tetapi dengan pengetahuan dan tindakan yang tepat, orang tua bisa menjadi garda terdepan penyelamat. Ingatlah bahwa deteksi dini dan pertolongan pertama di rumah yang efektif adalah kunci untuk mencegah kondisi anak memburuk. Selalu pantau kondisi anak dengan cermat dan jangan ragu sedikit pun untuk mencari bantuan medis profesional jika ada tanda-tanda bahaya yang muncul.

Selain penanganan saat sakit, pencegahan DBD juga sangat penting untuk melindungi keluarga kita. Lakukan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, dan tindakan plus lainnya seperti menabur bubuk larvasida, menggunakan kelambu, dan lain-lain) di lingkungan rumah Anda secara rutin. Ini adalah cara efektif untuk membasmi sarang nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus Dengue. Kesehatan anak adalah prioritas utama kita, mari bersama lindungi mereka dari ancaman DBD.

banner 325x300