Paspor Amerika Serikat (AS), yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang paling kuat di dunia, kini menghadapi kenyataan pahit. Dalam Indeks Paspor Henley terbaru, Negeri Paman Sam anjlok ke peringkat ke-12, sebuah penurunan signifikan yang mengejutkan banyak pihak. Ini bukan sekadar pergeseran angka, melainkan rekor terendah yang pernah dicatat AS sepanjang 20 tahun sejarah indeks prestisius tersebut.
Penurunan ini bukan main-main. Posisi paspor AS merosot dua peringkat dari laporan sebelumnya, dan kini berbagi tempat dengan negara Asia Tenggara, Malaysia, serta negara kecil Eropa, Liechtenstein. Sebuah fakta yang mungkin membuat sebagian orang bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan paspor yang dulu begitu perkasa ini?
Mengapa Ini Penting? Melihat Angka-angka di Balik Penurunan
Saat ini, pemegang paspor AS hanya dapat bepergian tanpa visa ke 180 destinasi di seluruh dunia. Angka ini terdengar banyak, namun jika dibandingkan dengan pemegang paspor peringkat teratas, Singapura, perbedaannya cukup mencolok. Singapura menawarkan akses bebas visa ke 192 destinasi, 12 lebih banyak dari AS.
Perlu diingat, paspor AS pernah berada di puncak kejayaan. Pada tahun 2014, ia menduduki peringkat pertama sebagai paspor terkuat di dunia. Namun, sejak saat itu, kekuatannya terus menurun secara bertahap, mencerminkan perubahan dinamika geopolitik dan kebijakan imigrasi global.
Bukan Sekadar Angka: Apa Penyebab Paspor AS Kehilangan Kekuatan?
Para ahli perjalanan dan analis kebijakan menyoroti beberapa faktor utama di balik kemerosotan paspor AS ini. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya timbal balik dalam kebijakan perjalanan bebas visa. Artinya, sementara AS mengharapkan banyak negara memberikan akses bebas visa bagi warganya, AS sendiri tidak selalu membalas kebijakan serupa.
Selain itu, kebijakan visa AS yang semakin ketat juga menjadi sorotan tajam. Terutama di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, serangkaian regulasi baru dianggap menghambat para pengunjung dan memperumit proses masuk ke AS, bahkan bagi mereka yang hanya ingin berwisata atau melakukan kunjungan singkat.
Kebijakan Imigrasi yang Kian Ketat: Dampak Era Donald Trump
Laporan dari berbagai media, termasuk CNN dan Newsweek, menggarisbawahi dampak kebijakan era Trump. Salah satu perubahan signifikan adalah pengenaan biaya integritas visa minimal US$250 bagi pengunjung asing. Biaya ini tentu saja menambah beban finansial bagi calon pelancong dan bisa menjadi penghalang.
Tidak hanya itu, AS juga mengubah kebijakan pengecualian wawancara bagi pemohon visa non-imigran. Mulai 2 September 2025, hampir semua orang, tanpa memandang usia, diwajibkan untuk menghadiri wawancara secara langsung. Kebijakan ini jelas memperpanjang dan memperumit proses aplikasi visa, yang pada akhirnya dapat mengurangi minat kunjungan ke AS.
Pergeseran kebijakan ini mencerminkan pendekatan yang lebih konservatif terhadap imigrasi dan keamanan perbatasan. Meskipun bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional, dampaknya ternyata meluas hingga memengaruhi persepsi global terhadap kemudahan bepergian ke dan dari Amerika Serikat.
Siapa yang Unggul? Dominasi Paspor Asia di Puncak Indeks Henley
Di tengah penurunan paspor AS, beberapa negara Asia justru menunjukkan dominasinya. Singapura masih kokoh memegang predikat paspor terkuat di dunia, menawarkan kebebasan perjalanan tak tertandingi. Diikuti oleh Korea Selatan dan Jepang yang menempati posisi kedua dan ketiga.
Fenomena ini menunjukkan tren menarik dalam kekuatan paspor global. Negara-negara Asia Timur, dengan kebijakan luar negeri yang stabil dan hubungan diplomatik yang kuat, berhasil membangun jaringan perjalanan bebas visa yang luas, memberikan keuntungan besar bagi warganya.
Indeks Paspor Henley sendiri merupakan tolok ukur kebebasan perjalanan global yang sangat diakui. Indeks ini melacak 227 negara dan wilayah, menggunakan data eksklusif dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA). Sebanyak 199 paspor diberi peringkat berdasarkan jumlah destinasi yang dapat dimasuki pemegangnya tanpa visa sebelumnya.
Apa Implikasi Jangka Panjang dari Penurunan Ini?
Penurunan peringkat paspor AS memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar angka. Bagi warga AS, ini berarti potensi keterbatasan dalam spontanitas perjalanan dan mungkin perlu perencanaan visa yang lebih matang untuk beberapa destinasi. Hal ini bisa memengaruhi sektor pariwisata dan bisnis.
Di sisi lain, bagi citra global AS, penurunan ini bisa diartikan sebagai sinyal bahwa negara tersebut menjadi kurang terbuka atau ramah. Kekuatan paspor seringkali dianggap sebagai cerminan dari "soft power" sebuah negara, yaitu kemampuan untuk memengaruhi melalui daya tarik budaya dan nilai-nilai, bukan paksaan.
Menilik Masa Depan: Akankah Paspor AS Kembali Berjaya?
Pertanyaan besar yang muncul adalah, akankah paspor AS mampu kembali ke masa kejayaannya? Pemulihan peringkat paspor akan sangat bergantung pada perubahan kebijakan imigrasi dan visa di masa mendatang. Pemerintahan AS yang baru mungkin perlu meninjau kembali pendekatan mereka terhadap perjalanan internasional dan timbal balik visa.
Peningkatan kerja sama diplomatik, pelonggaran kebijakan visa yang terlalu ketat, dan fokus pada kemudahan perjalanan dapat membantu mengembalikan kepercayaan global. Namun, ini adalah proses yang panjang dan membutuhkan komitmen politik yang kuat untuk mengubah persepsi dan realitas perjalanan bagi warga AS.
Penurunan peringkat paspor AS adalah pengingat bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi atau militer, tetapi juga dari kemudahan dan kebebasan yang dapat dinikmati oleh warganya di panggung global. Perubahan ini menjadi cerminan penting dari dinamika global yang terus bergerak dan menuntut adaptasi.


















