Kabar mengejutkan kembali datang dari China. Zhang Zhan, seorang jurnalis pemberani yang pernah mengungkap fase-fase awal pandemi COVID-19 di Wuhan, kini kembali dijebloskan ke penjara. Vonis empat tahun menantinya, sebuah keputusan yang memicu kemarahan dan keprihatinan mendalam dari komunitas internasional.
Siapa Zhang Zhan Sebenarnya?
Mungkin nama Zhang Zhan tak asing lagi bagi sebagian orang. Wanita berusia 42 tahun ini adalah sosok di balik laporan-laporan kritis dari Wuhan, saat dunia masih meraba-raba tentang virus corona yang baru muncul. Ia mendokumentasikan rumah sakit yang penuh sesak dan jalanan yang sepi, jauh sebelum narasi resmi China terbentuk.
Laporannya yang jujur dan tanpa filter itu memberikan gambaran nyata tentang situasi di episentrum pandemi. Ia mempertaruhkan segalanya demi menyuarakan kebenaran, sebuah tindakan yang sayangnya harus dibayar mahal.
Vonis Kedua yang Penuh Kontroversi
Pada Jumat, 19 September 2025, Zhang Zhan kembali dijatuhi hukuman penjara. Kali ini, ia divonis empat tahun atas tuduhan "memicu pertengkaran dan memprovokasi masalah," sebuah dakwaan yang sering digunakan Beijing untuk membungkam kritik dan aktivis. Ironisnya, tuduhan ini serupa dengan yang pernah ia terima sebelumnya.
Vonis ini bukan hanya sekadar hukuman, melainkan pesan keras dari pemerintah China kepada siapa pun yang berani menantang narasi resmi. Ini adalah upaya nyata untuk mengontrol informasi dan menekan kebebasan berekspresi.
Bukan Hanya COVID-19, Tapi Juga HAM
Jika pada vonis pertama ia "bersalah" karena melaporkan pandemi, kali ini dakwaan baru itu terkait laporannya tentang dugaan pelanggaran hak asasi manusia di China. Ini menunjukkan bahwa keberanian Zhang Zhan tak berhenti pada satu isu saja. Ia terus menyuarakan kebenaran, bahkan dari balik jeruji besi.
Mantan pengacara Zhang, Ren Quanniu, mengunggah di X bahwa dakwaan baru ini didasarkan pada komentar jurnalis tersebut di web luar negeri. Menurutnya, Zhang seharusnya tidak dianggap bersalah atas tindakan tersebut, karena itu adalah bagian dari kebebasan berekspresi.
Kecaman Mengalir dari Penjuru Dunia
Lembaga kebebasan pers internasional tak tinggal diam. Reporters Without Borders (RSF) dan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengecam keras vonis ini. Mereka menyebut Zhang Zhan seharusnya dihormati sebagai "pahlawan informasi," bukan malah disiksa di penjara.
"Ia seharusnya dirayakan secara global sebagai ‘pahlawan informasi’, bukan terjebak dalam kondisi penjara yang brutal," tegas Aleksandra Bielakowska, manajer advokasi RSF Asia-Pasifik. Ia mendesak komunitas diplomatik internasional untuk menekan Beijing agar segera membebaskan Zhang Zhan.
Beh Lih Yi, direktur Asia-Pasifik untuk Komite Perlindungan Jurnalis di New York, menambahkan, "Ini adalah kedua kalinya Zhang Zhan diadili atas tuduhan tak berdasar yang tidak lebih dari sekadar tindakan penganiayaan terang-terangan atas pekerjaan jurnalismenya."
Kisah Pilu di Balik Jeruji Besi
Ini bukan kali pertama Zhang Zhan merasakan dinginnya sel penjara. Pada Desember 2020, ia juga dipenjara dengan tuduhan serupa setelah laporan langsungnya dari Wuhan. Kondisinya kala itu memprihatinkan dan mengundang simpati global.
Pengacara Zhang kala itu, Ren Quanniu, mengatakan jurnalis itu yakin dirinya "dianiaya karena menjalankan kebebasan berbicaranya." Keyakinan ini mendorongnya untuk melakukan mogok makan sebagai bentuk protes keras terhadap ketidakadilan yang ia alami.
Perlakuan Inhuman dan Mogok Makan
Selama mogok makan, Zhang Zhan dilaporkan dipaksa makan oleh polisi. Tangannya diikat dan ia dicekoki selang untuk makan, sebuah perlakuan yang sangat tidak manusiawi dan melanggar hak asasi. Kisah ini menjadi bukti betapa kerasnya tekanan yang ia hadapi.
Meskipun dalam kondisi yang brutal, semangat Zhang Zhan untuk memperjuangkan kebenaran tidak pernah padam. Ia terus berjuang, bahkan ketika tubuhnya melemah dan kebebasannya direnggut.
Pola Penahanan yang Berulang
RSF mencatat, Zhang Zhan sempat dibebaskan pada Mei 2024. Namun, kebebasannya hanya berlangsung singkat. Tiga bulan kemudian, ia kembali ditahan, dan akhirnya secara resmi ditangkap serta ditempatkan di Pusat Penahanan Pudong Shanghai. Ini menunjukkan pola penindasan yang sistematis dan berkelanjutan.
Pola ini mengindikasikan bahwa pemerintah China tidak ingin Zhang Zhan bebas dan terus menyuarakan kritik. Mereka ingin memastikan bahwa suaranya dibungkam, apa pun risikonya.
Misteri di Balik Tembok Besar China
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri China tidak memberikan tanggapan terkait kasus Zhang Zhan. Reuters juga tak bisa memastikan apakah Zhang Zhan mendapatkan perwakilan hukum yang layak selama proses persidangan kedua ini. Keheningan ini semakin menambah misteri dan kekhawatiran akan nasibnya.
Baik Kepolisian maupun Kejaksaan China juga tidak pernah secara terbuka merinci aktivitas spesifik yang didakwakan kepada Zhang. Ini menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang mereka sembunyikan? Transparansi yang minim ini hanya memperkuat dugaan adanya ketidakadilan.
Ancaman Nyata bagi Kebebasan Pers
Kasus Zhang Zhan adalah pengingat pahit akan risiko yang dihadapi jurnalis di China. Melaporkan kebenaran, terutama yang bertentangan dengan narasi resmi, bisa berujung pada penangkapan dan penjara. Ini adalah serangan terang-terangan terhadap kebebasan pers dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Pemerintah China secara konsisten menempati peringkat bawah dalam indeks kebebasan pers global. Kasus Zhang Zhan semakin memperkuat citra tersebut, menunjukkan bahwa ruang bagi jurnalis independen semakin menyempit di negara tersebut.
Seruan untuk Keadilan Global
Dunia menuntut keadilan bagi Zhang Zhan. Pihak berwenang China harus segera mengakhiri penahanan sewenang-wenang ini, membatalkan semua dakwaan, dan membebaskannya tanpa syarat. Keberaniannya harus dirayakan, bukan dihukum.
Semoga suara kebenaran yang ia suarakan tidak akan pernah padam, meskipun raga terkurung. Kasus Zhang Zhan adalah ujian bagi komunitas internasional untuk berdiri teguh membela kebebasan pers dan hak asasi manusia di mana pun.


















