Gedung Putih kembali menjadi saksi bisu pertemuan krusial yang bisa mengubah peta konflik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menerima kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (29/9) mendatang. Agenda utamanya? Tentu saja, membahas masa depan Jalur Gaza, Palestina, yang kini berada di ujung tanduk.
Pertemuan ini datang di tengah klaim optimis dari Trump. Ia menyebut bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung hampir dua tahun di Gaza, membebaskan sandera yang ditahan Hamas, serta melucuti kelompok militan Palestina itu, pada dasarnya sudah tercapai. Klaim ini muncul setelah serangkaian pertemuan Trump dengan para pemimpin Arab pekan lalu di New York, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Harapan Baru dari Gedung Putih? Optimisme Trump untuk Gaza
Dalam pertemuan tersebut, Trump memang sempat berdialog dengan sejumlah pemimpin negara Arab dan Muslim, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Suasana pertemuan disebut-sebut penuh harapan, dengan Trump yang semakin optimistis mengenai peluang tercapainya gencatan senjata di Gaza.
Bahkan, Trump tak ragu memberikan isyarat akan adanya "terobosan" melalui jejaring sosialnya, Truth Social. "SEMUA PIHAK TELAH SIAP UNTUK SESUATU YANG ISTIMEWA, UNTUK PERTAMA KALINYA. KITA AKAN MEWUJUDKANNYA!!!" demikian bunyi unggahan penuh semangat dari Trump, memicu spekulasi dan harapan di seluruh dunia.
Netanyahu Ngotot, Tolak Gencatan Senjata dan Negara Palestina
Namun, optimisme Trump tampaknya belum sejalan dengan sikap Benjamin Netanyahu. PM Israel itu justru terlihat masih enggan berunding dan mencapai gencatan senjata. Ia terus melanjutkan agresi brutal Israel di Jalur Gaza yang sudah menewaskan lebih dari 65 ribu orang Palestina, sebuah angka yang memilukan.
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada Jumat lalu, Netanyahu bahkan bersumpah akan "menuntaskan pekerjaan" melawan Hamas. Ia juga secara tegas berjanji akan menghalangi terbentuknya negara Palestina, sebuah pernyataan yang kontroversial di tengah meningkatnya dukungan internasional untuk pengakuan negara Palestina.
Dinamika Hubungan Trump-Netanyahu: Dari Sekutu Dekat ke Frustrasi?
Pernyataan Netanyahu ini diucapkan kala semakin banyak negara yang baru-baru ini mengakui Negara Palestina, termasuk sekutu-sekutu tradisional AS-Israel seperti Prancis, Inggris, Australia, dan Kanada. Netanyahu juga tampak enggan menghentikan invasi darat terbarunya di Kota Gaza, yang dalam beberapa pekan terakhir telah memaksa ratusan ribu warga mengungsi dan menewaskan ratusan warga Palestina.
Pertemuan di Gedung Putih ini akan menjadi kunjungan keempat Netanyahu sejak Trump kembali berkuasa pada Januari lalu. Meski biasanya menjadi sekutu dekat Netanyahu, Trump belakangan menunjukkan tanda-tanda frustrasi menghadapi Israel dan agresi brutalnya di Gaza yang kian memicu kecaman dunia, termasuk dari sekutu tradisional AS sendiri. Pekan lalu, Trump bahkan memperingatkan Netanyahu agar tidak menganeksasi Tepi Barat Palestina dan mewanti-wanti agar Israel tak lagi menyerang Qatar, yang merupakan sekutu utama AS di kawasan.
Bocoran Proposal 21 Poin Trump untuk Perdamaian Gaza
Dalam pertemuan dengan pemimpin negara Arab dan Muslim di New York pekan lalu, Trump terdengar semakin optimistis mengenai peluang kesepakatan gencatan senjata di Gaza tercapai. Laporan menyebutkan bahwa dalam pertemuan itu, Trump dan para pemimpin negara yang hadir menyusun 21 poin proposal gencatan senjata Hamas-Israel di Gaza.
Kesepakatan itu mencakup pelucutan senjata Hamas, pembebasan seluruh sandera, serta gencatan senjata permanen. Sebuah poin menarik dari proposal ini adalah munculnya nama mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, yang sempat disebut dalam sejumlah laporan media sebagai kandidat pemimpin otoritas transisi untuk Gaza di bawah usulan AS.
Badan tersebut, yang disebut "Gaza International Transitional Authority" (GITA), akan beroperasi dengan dukungan PBB dan negara-negara Teluk Arab. Tujuannya adalah untuk pada akhirnya menyerahkan kendali kepada Otoritas Palestina (PA) yang telah direformasi, membuka jalan bagi pemerintahan yang lebih stabil di Gaza.
Netanyahu Tolak Mentah-mentah Otoritas Palestina di Gaza
Namun, lagi-lagi Netanyahu menunjukkan penolakan tegas. Dalam pidatonya di PBB, ia menolak mentah-mentah gagasan agar PA yang berbasis di Ramallah kembali berperan dalam pemerintahan Gaza. Ia juga menyatakan keraguannya yang mendalam terhadap kemungkinan PA dapat direformasi.
"Saya rasa kredibilitas atau kemungkinan dari Otoritas Palestina yang direformasi, yang benar-benar mengubah haluannya, yang menerima negara Yahudi, yang mengajarkan anak-anaknya untuk merangkul hidup berdampingan dan bersahabat dengan negara Yahudi—alih-alih hidup dengan tujuan menghancurkannya—ya, semoga berhasil," ujarnya dalam program The Sunday Briefing di Fox News, menunjukkan sikap skeptisnya yang mendalam.
Pertemuan Trump dan Netanyahu di Gedung Putih kali ini bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Ini adalah momen krusial yang akan menentukan apakah harapan perdamaian di Gaza bisa terwujud, ataukah konflik akan terus berlanjut di tengah perbedaan pandangan yang tajam antara dua pemimpin penting ini. Dunia menanti, akankah ada terobosan atau justru kebuntuan baru?


















