Jika Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih, ada satu pemimpin dunia yang diprediksi akan tersenyum paling lebar: Presiden China, Xi Jinping. Analisis ini datang dari pakar hubungan internasional asal Inggris, Bill Emmott, yang melihat potensi keuntungan besar bagi Beijing. Menurut Emmott, kebijakan Trump yang kerap mengasingkan sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik justru membuka karpet merah bagi China. Ini memberi ruang bagi Negeri Tirai Bambu untuk tampil sebagai pemimpin global yang lebih dominan.
Mengapa Xi Jinping Paling Diuntungkan?
Emmott tidak ragu menyatakan bahwa Xi Jinping adalah sosok yang paling bahagia dengan prospek kembalinya Trump, bahkan melebihi Trump sendiri. Situasi ini dinilai sebagai peluang emas bagi China untuk memperkuat posisinya di panggung dunia.
Kegembiraan Xi bahkan tidak berusaha disembunyikan. Ia terlihat dalam berbagai agenda penting seperti KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin dan parade militer di Beijing untuk memperingati 80 tahun kemenangan China atas Jepang. Momen-momen ini menjadi ajang unjuk kekuatan dan pengaruh Beijing.
Strategi "Self-Harm" Amerika yang Menguntungkan China
Langkah Trump mengenakan tarif impor dan mengancam mitra-mitra Indo-Pasifik disebut Emmott sebagai "self-harm" Amerika. Kebijakan ini justru mendorong banyak pemimpin negara untuk hadir dalam agenda Xi, mencari alternatif kemitraan.
Negara-negara seperti India dan Vietnam, yang sebelumnya menjadi mitra strategis bagi AS, kini terlihat lebih dekat dengan China. Ini menunjukkan pergeseran dinamika kekuatan yang signifikan di kawasan, di mana China berhasil menarik perhatian negara-negara yang sebelumnya ragu.
Emmott menilai bahwa ini adalah pameran dari "self-harm" Amerika yang sama besarnya dengan pertunjukan daya tarik China. Washington seolah-olah menjauhkan sekutunya sendiri, sementara Beijing siap menyambut mereka dengan tangan terbuka.
Aliansi yang Terbentuk dari Kelemahan, Bukan Kekuatan
Meski demikian, Emmott juga menyoroti bahwa kehadiran beberapa negara seperti Rusia, Iran, dan Korea Utara dalam forum China bukan karena kekuatan yang setara. Sebaliknya, ini adalah cerminan dari kelemahan mereka sendiri yang membuat mereka bergantung pada Beijing.
Mereka hadir sebagai "vasal" yang memberikan penghormatan kepada Beijing, sang "tuan besar." Rusia menghadapi kesulitan besar dalam menguasai wilayah di Ukraina, menunjukkan keterbatasannya.
Iran mengalami kerusakan reputasi militer akibat serangan Israel yang efektif, sementara Korea Utara tetap bergantung pada dukungan ekonomi dan politik China untuk bertahan. Ketergantungan ini membuat mereka tidak punya banyak pilihan selain bersekutu dengan Beijing.
Independensi India: Penyeimbang Kekuatan
Namun, kehadiran Perdana Menteri India Narendra Modi memiliki makna berbeda. Modi hadir untuk menunjukkan bahwa India adalah negara yang bangga dan mandiri, yang tidak akan diintimidasi oleh siapa pun, termasuk China.
India memiliki kebijakan lama untuk menjaga hubungan baik dengan AS maupun China, namun Modi menegaskan bahwa India tidak akan menjadi pengikut buta. Ia ingin India dihormati sebagai kekuatan regional yang independen.
Emmott menegaskan bahwa hubungan strategis Jepang-India tetap relevan. Keduanya berperan penting sebagai penyeimbang terhadap dominasi China di kawasan, menjaga stabilitas dan keseimbangan kekuatan.
Tantangan Ekonomi di Balik Klaim Kekuatan
Di balik klaim sebagai kekuatan global yang "tak terbendung," China sendiri menghadapi masalah pertumbuhan ekonomi yang serius. Populasi yang menurun dan menua, serta utang publik yang tinggi, menjadi ganjalan serius bagi ambisi Beijing.
Amerika Serikat juga tidak luput dari kesulitan ekonomi. Potensi tarif tinggi yang diusulkan Trump dan utang yang meningkat bisa melemahkan posisi AS di kancah global.
Selain itu, AS juga terganggu oleh konflik politik domestik terkait upaya Trump memperluas kekuasaan kepresidenan. Perpecahan internal ini bisa membuat Amerika kurang fokus pada kebijakan luar negeri.
Potensi Eskalasi di Indo-Pasifik: Ujian Bagi AS dan Dunia
Jika Presiden Xi melihat AS semakin terpecah belah, dengan sekutu dan mitra asing yang menjauh, ia mungkin hanya akan duduk dan menikmati situasi tersebut. Namun, risiko bagi kawasan Indo-Pasifik tetap sangat tinggi dan mengkhawatirkan.
Xi bisa saja menguji kelemahan AS dengan meningkatkan tekanan terhadap Filipina di Laut China Selatan, mengklaim wilayah yang disengketakan. Atau, yang lebih berani, ia bisa menargetkan Taiwan, memicu konflik yang lebih besar dan berpotensi global.
Parade militer Xi dan KTT SCO juga menegaskan keberlanjutan poros Sino-Rusia. Proyek pipa gas Siberia yang diumumkan menunjukkan ketergantungan timbal balik kedua negara semakin dalam.
Ini menandai bahwa fokus Xi bukan membangun tatanan dunia baru yang inklusif, melainkan memanfaatkan momen Amerika yang terisolasi untuk kepentingannya sendiri. Saat itulah Xi akan benar-benar mengetahui apakah China memang tak terbendung.
Emmott memperingatkan, konsekuensi dari eskalasi ketegangan di Indo-Pasifik bisa menjadi bencana bagi kita semua. Dunia harus bersiap menghadapi skenario terburuk jika Trump kembali berkuasa dan dinamika geopolitik berubah drastis.


















