banner 728x250

Trump Bikin Geger! Kazakhstan Diklaim Siap Gabung Abraham Accords, Apa Artinya?

trump bikin geger kazakhstan diklaim siap gabung abraham accords apa artinya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat kejutan di panggung politik global. Ia mengklaim bahwa Kazakhstan akan menjadi negara pertama yang bergabung dengan perjanjian Abraham Accords di masa jabatan keduanya. Pengumuman ini sontak menarik perhatian, mengingat dinamika geopolitik yang terus bergejolak, terutama di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa penandatanganan resmi Kazakhstan untuk ikut dalam Abraham Accords akan diumumkan secepatnya. Ia bahkan menambahkan, "masih banyak lagi negara yang mencoba bergabung dengan klub KEKUATAN ini," mengisyaratkan potensi ekspansi yang lebih luas di masa depan. Pernyataan ini muncul setelah Trump mengaku telah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev.

banner 325x300

Mengapa Kazakhstan Jadi Sorotan?

Keputusan Kazakhstan untuk bergabung dengan Abraham Accords mungkin terdengar tak terduga bagi sebagian pihak. Namun, perlu diketahui bahwa Kazakhstan sebenarnya sudah memiliki hubungan diplomatik dan kerja sama ekonomi yang cukup erat dengan Israel. Oleh karena itu, penandatanganan ini lebih bersifat simbolis, namun tetap memiliki bobot geopolitik yang signifikan.

Langkah ini juga sejalan dengan laporan sebelumnya dari utusan khusus AS, Steve Witkoff, yang mengisyaratkan adanya negara baru yang akan bergabung. Meski Witkoff tidak menyebutkan nama, media Axios menjadi yang pertama melaporkan bahwa negara yang dimaksud adalah Kazakhstan. Ini menunjukkan adanya upaya terencana dari pihak AS untuk memperluas jangkauan perjanjian tersebut.

Apa Itu Abraham Accords dan Mengapa Penting?

Bagi kamu yang mungkin belum familiar, Abraham Accords adalah serangkaian perjanjian normalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab-Muslim. Kesepakatan bersejarah ini dimediasi oleh Donald Trump selama masa jabatan pertamanya sebagai Presiden AS pada tahun 2020. Tujuannya adalah untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain adalah dua negara Arab pertama yang merujuk dengan Israel di bawah kerangka Abraham Accords pada September 2020. Tak lama kemudian, Maroko menyusul di akhir tahun yang sama. Perjanjian ini dianggap sebagai terobosan diplomatik yang mengubah peta hubungan di Timur Tengah, membuka jalan bagi kerja sama di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pariwisata, hingga keamanan.

Strategi Trump di Balik Ekspansi Abraham Accords

Sejak awal, Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk memperluas Abraham Accords. Baginya, perjanjian ini adalah salah satu pencapaian terbesar dalam kebijakan luar negerinya. Masuknya Kazakhstan ke dalam daftar anggota baru diharapkan dapat membantu menghidupkan kembali momentum kesepakatan tersebut dan memperluas jangkauannya ke wilayah Asia Tengah.

Langkah ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari strategi Trump untuk menegaskan kembali pengaruh AS di kancah global, terutama jika ia kembali menjabat. Dengan membawa negara-negara baru ke dalam perjanjian, Trump ingin menunjukkan bahwa model diplomasinya efektif dalam mencapai normalisasi hubungan yang sebelumnya sulit terwujud. Ini juga bisa menjadi sinyal bagi negara-negara lain yang mungkin masih ragu untuk bergabung.

Efek Domino Geopolitik: Siapa Selanjutnya?

Bergabungnya Kazakhstan tentu menimbulkan pertanyaan besar: siapa lagi yang akan menyusul? Sumber yang mengetahui hal ini mengatakan bahwa AS berharap masuknya Kazakhstan ke Abraham Accords akan menjadi katalis. Ini diharapkan dapat mendorong negara-negara lain untuk mempertimbangkan normalisasi hubungan dengan Israel, sekaligus memperkuat aliansi regional yang dipimpin AS.

Sebelumnya, Arab Saudi sempat dikabarkan akan ikut bergabung dengan Abraham Accords. Namun, agresi Israel di Jalur Gaza telah menyetop prospek tersebut. Riyadh menegaskan kembali posisinya yang mendukung solusi dua negara sebagai prasyarat utama untuk normalisasi. Ini menunjukkan bahwa konflik Israel-Palestina masih menjadi batu sandungan terbesar bagi perluasan perjanjian ini di kalangan negara-negara Arab yang lebih berpengaruh.

Tantangan dan Harapan di Tengah Dinamika Global

Indonesia juga menjadi salah satu negara yang dibidik oleh AS untuk bergabung dengan Abraham Accords. Namun, Kementerian Luar Negeri RI dengan tegas menyatakan bahwa pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina harus terwujud terlebih dahulu. Sikap Indonesia ini mencerminkan sentimen kuat di banyak negara Muslim yang menganggap isu Palestina sebagai inti dari konflik regional.

Dengan demikian, meskipun klaim Trump tentang Kazakhstan menjanjikan babak baru bagi Abraham Accords, tantangan besar masih membayangi. Konflik yang tak kunjung usai di Timur Tengah, khususnya di Gaza, akan terus menjadi faktor penentu bagi negara-negara lain dalam mengambil keputusan. Bergabungnya Kazakhstan, meskipun simbolis, bisa jadi merupakan langkah awal yang menarik untuk melihat bagaimana dinamika geopolitik akan berkembang di masa depan, terutama di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal dengan pendekatan tak terduganya.

banner 325x300