banner 728x250

Terkuak! Donald Trump Punya Resep Mengejutkan Akhiri Perang Rusia-Ukraina, Kuncinya Ada di China?

Presiden Donald Trump tersenyum di depan bendera Amerika Serikat.
Donald Trump usulkan sanksi ke China sebagai solusi konflik Rusia-Ukraina, memicu kehebohan internasional.
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, CNN Indonesia – Dunia kembali dihebohkan oleh pernyataan kontroversial dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia baru saja melontarkan sebuah ide yang bisa dibilang sangat tidak konvensional untuk mengakhiri konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina. Menurut Trump, solusi damai yang selama ini dicari-cari mungkin saja terletak pada langkah ekstrem yang melibatkan negara adidaya Asia.

Klaim Kontroversial dari Presiden AS Donald Trump

Pada Jumat, 19 September 2025, Presiden Donald Trump membuat publik terkejut dengan klaimnya. Ia menegaskan bahwa perang Rusia vs Ukraina bisa segera berakhir, asalkan negara-negara di Eropa bersatu untuk menjatuhkan sanksi berat kepada China. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News pada Kamis (18/9), sehari setelah kunjungannya ke Inggris.

banner 325x300

Trump berpendapat bahwa tindakan ekonomi agresif, seperti penerapan sanksi atau tarif perdagangan terhadap Beijing, memiliki potensi besar. Langkah tersebut, menurutnya, bisa menjadi katalisator untuk menghentikan konflik yang telah berlarut-larut sejak Februari 2022. Ini adalah sebuah perspektif yang berbeda jauh dari pendekatan diplomatik atau militer yang selama ini banyak diusulkan.

Mengapa China Jadi Kunci Damai Versi Trump?

Pandangan Trump ini tentu saja memicu banyak pertanyaan. Mengapa China, yang secara geografis jauh dari medan perang, justru disebut sebagai kunci penyelesaian konflik Eropa Timur? Menurut mantan pengusaha properti yang kini memimpin Gedung Putih ini, jawabannya terletak pada kekuatan ekonomi dan pengaruh geopolitik Beijing.

Peran China sebagai Pembeli Minyak Rusia Terbesar

Trump secara spesifik menyoroti peran China sebagai pembeli minyak terbesar dari Rusia. Ia berargumen bahwa transaksi besar-besaran ini secara tidak langsung menjadi sumber pendanaan utama bagi Kremlin untuk melanjutkan operasi militernya di Ukraina. Tanpa pemasukan signifikan dari penjualan minyak, Rusia akan kesulitan membiayai perang.

Logika Trump cukup sederhana: jika aliran dana ini terputus, tekanan ekonomi akan memaksa Rusia untuk mencari jalan damai. Sanksi Eropa terhadap China, dalam pandangannya, akan mengganggu rantai pasok dan permintaan minyak Rusia, sehingga secara efektif "memotong urat nadi" finansial Moskow. Ini adalah strategi yang mengandalkan tekanan tidak langsung melalui pihak ketiga.

"Kekuatan Lain" Beijing di Balik Kremlin

Lebih dari sekadar pembeli minyak, Trump juga meyakini bahwa Beijing, yang dikenal sebagai sekutu dekat Moskow, memiliki "kekuatan lain" yang bisa digunakan untuk mengendalikan Rusia. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya pengaruh politik dan strategis yang lebih dalam antara kedua negara adidaya tersebut. Trump percaya China memiliki kartu truf yang belum dimainkan.

"Jika mereka mengenakan sanksi, misalnya, atau tarif atau apa pun terhadap China, saya kira perang mungkin saja bisa berakhir," kata Trump, seperti dikutip Anadolu Agency. Ini menunjukkan keyakinannya bahwa China memiliki kemampuan untuk menekan Rusia, jika saja ada insentif atau tekanan eksternal yang cukup kuat dari Eropa.

Desakan Trump untuk Eropa: Stop Beli Minyak Rusia!

Selain mengusulkan sanksi terhadap China, Trump juga kembali mendesak negara-negara Eropa untuk segera mengakhiri pembelian minyak dari Kremlin. Baginya, langkah ini adalah fundamental dan harus dilakukan tanpa tawar-menawar. Eropa, menurut Trump, secara tidak langsung membiayai perang yang terjadi di halaman belakang mereka sendiri.

"Jika Rusia tidak menjual minyak, mereka tidak punya pilihan selain berdamai," tegas Trump. Ia menambahkan, "Jika Anda ingin menang, Anda harus berhenti membeli minyak dari Rusia." Desakan ini bukan hal baru, namun kembali disuarakan dengan nada yang lebih mendesak, seolah-olah waktu untuk bertindak sudah sangat mendesak.

Menurut Trump, hanya dengan menghentikan aliran dana ini, Rusia akan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan agresinya. Ini adalah strategi yang berfokus pada pemutusan sumber daya, bukan hanya pada negosiasi diplomatik. "Meski begitu kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya. Saya harap hasilnya baik," ucapnya, menunjukkan optimisme terhadap pendekatannya.

Skenario Jika Eropa Ikuti Saran Trump

Bayangkan sejenak jika negara-negara Eropa benar-benar mengikuti saran kontroversial Donald Trump. Penerapan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap China tentu akan memicu gelombang kejut di pasar global. Hubungan perdagangan yang kompleks antara Eropa dan China akan terganggu, berpotensi menyebabkan inflasi dan resesi di berbagai negara.

Di sisi lain, China sendiri akan menghadapi tekanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini bisa memaksa Beijing untuk mengevaluasi kembali hubungannya dengan Moskow, terutama jika kepentingan ekonominya sendiri terancam serius. Tekanan ini, dalam skenario Trump, akan menjadi pendorong bagi China untuk menekan Rusia agar mengakhiri perang.

Namun, skenario ini juga membawa risiko besar. China mungkin saja tidak menyerah begitu saja pada tekanan Eropa, melainkan mencari mitra dagang lain atau membalas dengan sanksi tandingan. Ini bisa memicu perang dagang global yang lebih luas, memperparah ketidakstabilan ekonomi dunia, dan bahkan memperdalam perpecahan geopolitik.

Reaksi dan Implikasi Global

Usulan Trump ini tentu saja akan menuai beragam reaksi dari berbagai pihak. Negara-negara Eropa kemungkinan besar akan terpecah belah dalam menyikapi ide ini. Beberapa mungkin melihatnya sebagai langkah berani yang diperlukan, sementara yang lain akan khawatir tentang dampak ekonomi dan politik yang mungkin timbul.

Bagi China, sanksi dari Eropa akan dianggap sebagai provokasi serius dan campur tangan dalam urusan internal mereka. Beijing bisa saja merespons dengan langkah-langkah balasan yang akan semakin memperkeruh hubungan internasional. Sementara itu, Rusia mungkin akan semakin terisolasi, namun juga bisa mencari dukungan lebih kuat dari negara-negara non-Barat.

Implikasi global dari skenario ini sangat luas. Rantai pasok dunia yang sudah rapuh bisa semakin terganggu, harga komoditas akan melonjak, dan stabilitas geopolitik akan diuji. Ini bukan sekadar tentang mengakhiri satu perang, melainkan tentang mengubah tatanan ekonomi dan politik global secara fundamental.

Masa Depan Perang dan Peran AS

Pernyataan Trump ini juga menyoroti pandangannya yang konsisten tentang bagaimana mengakhiri perang. Sejak awal, ia selalu menekankan pentingnya tekanan ekonomi dan negosiasi yang keras, ketimbang intervensi militer langsung. Ini adalah ciri khas pendekatan "America First" yang ia usung.

Jika Trump terus menjabat sebagai Presiden AS, atau jika ia kembali terpilih di masa depan, pendekatan semacam ini kemungkinan besar akan menjadi inti dari kebijakan luar negeri Amerika. Peran AS dalam konflik global mungkin akan lebih berfokus pada leverage ekonomi dan diplomasi yang agresif, daripada keterlibatan militer secara langsung.

Namun, kompleksitas perang Rusia-Ukraina tidak bisa diremehkan. Ada banyak faktor yang terlibat, mulai dari ambisi geopolitik, identitas nasional, hingga keamanan regional. Solusi tunggal, betapapun radikalnya, mungkin tidak cukup untuk mengatasi akar masalah yang begitu dalam.

Gagasan Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dengan menjatuhkan sanksi pada China memang terdengar mengejutkan dan penuh risiko. Ini adalah sebuah strategi yang menantang konvensi dan memaksa dunia untuk memikirkan ulang dinamika kekuatan global. Pertanyaannya kini, apakah Eropa berani mengambil langkah ekstrem ini? Atau, apakah ada jalan lain yang lebih pragmatis dan kurang berisiko untuk mencapai perdamaian abadi? Waktu akan menjawab apakah "resep" kontroversial dari Presiden AS ini akan menjadi kenyataan, atau hanya akan tetap menjadi salah satu ide paling berani yang pernah dilontarkan di panggung politik dunia.

banner 325x300