banner 728x250

Rusia Main Api! Tiga Kali Terobos Wilayah Udara NATO, Eropa Ketar-ketir Siaga Perang?

Katedral Santo Basil, ikon bersejarah Moskow, Rusia, di bawah langit mendung.
Ketegangan Eropa Timur meningkat akibat pelanggaran wilayah udara beruntun oleh Rusia, memicu kesiagaan NATO.
banner 120x600
banner 468x60

Ketegangan di Eropa Timur kembali memanas setelah Rusia tercatat melanggar wilayah udara tiga negara anggota Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) secara beruntun. Insiden terbaru melibatkan jet tempur Rusia yang menyusup ke wilayah udara Estonia, memicu respons cepat dari aliansi militer tersebut. Situasi ini membuat NATO meradang dan segera meluncurkan operasi "Eastern Sentry" sebagai bentuk kesiapsiagaan.

Sebelumnya, aksi serupa juga dilakukan Rusia di Polandia dan Rumania, menandakan pola provokasi yang semakin mengkhawatirkan. Serangkaian pelanggaran ini bukan hanya sekadar insiden kecil, melainkan ancaman serius yang bisa memicu eskalasi konflik lebih luas. Eropa kini berada dalam mode siaga penuh, mengantisipasi kemungkinan terburuk.

banner 325x300

Alarm Merah di Baltik: Jet Tempur Rusia Terobos Estonia

Pada Jumat (19/9), tiga jet tempur Rusia dilaporkan melanggar wilayah udara Estonia di atas Teluk Finlandia. Pesawat-pesawat tempur tersebut masuk tanpa izin dan bertahan di wilayah udara Estonia selama sekitar 12 menit, memicu kekhawatiran serius.

Laporan dari Angkatan Pertahanan Estonia menyebutkan bahwa jet-jet tempur Rusia itu tidak memiliki rencana penerbangan, transpondernya dimatikan, dan tidak melakukan komunikasi dua arah dengan pengendali lalu lintas udara Estonia. Ini adalah pelanggaran serius yang menunjukkan kurangnya itikad baik.

Merespons provokasi ini, NATO segera bertindak. Jet tempur F-35 Italia dikerahkan untuk mencegat dan mengusir pesawat-pesawat Rusia tersebut. Bahkan, Swedia dan Finlandia, yang bukan anggota NATO penuh, turut mengerahkan pesawat tempur mereka sebagai bentuk solidaritas.

Perdana Menteri Estonia, Kristen Michal, mengajukan permintaan konsultasi Pasal 4 NATO atas pelanggaran yang dinilai "tidak dapat diterima" ini. Rencananya, NATO akan menggelar rapat darurat awal pekan depan untuk membahas langkah-langkah selanjutnya.

Drama Drone di Langit Polandia: Tembakan Peringatan dan Pasal 4 NATO

Beberapa waktu sebelumnya, tepatnya Selasa (9/9), langit Polandia juga diwarnai insiden menegangkan. Jet tempur Polandia terpaksa menembak jatuh beberapa drone yang diduga milik Rusia, menandai kali pertama Polandia mencegat serangan udara Rusia sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Polandia menganggap insiden ini sebagai provokasi besar terhadap Uni Eropa dan NATO. "Ini adalah tindakan agresi yang menimbulkan ancaman nyata bagi keselamatan warga kami," demikian pernyataan Komando Operasi Polandia melalui akun X, Rabu (10/9) pagi.

Setelah insiden tersebut, Polandia resmi mengaktifkan Pasal 4 Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Pengaktifan pasal ini, yang dilakukan oleh negara anggota, secara efektif membuat NATO ‘siaga perang’ dengan Rusia jika terjadi hal terburuk.

Pasal 4 mengizinkan negara anggota untuk meminta konsultasi ketika mereka merasa terancam oleh negara lain. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Rusia terkait pesawat nirawak mereka yang masuk wilayah Polandia ini.

Rumania Juga Jadi Sasaran: Drone Kamikaze Terobos Wilayah Udara

Tak hanya Polandia, Rusia juga melanggar wilayah udara Rumania pada Sabtu (13/9) sore waktu setempat. Rumania segera mengerahkan dua jet tempur F-16 untuk membuntuti drone tersebut hingga menghilang dari radar.

Kementerian Pertahanan Rumania menyatakan bahwa "drone tersebut tidak melintasi kawasan berpenduduk dan tidak menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan masyarakat." Namun, insiden ini tetap memicu kekhawatiran serius.

Drone dilaporkan berputar selama sekitar 50 menit dari timur laut Chilia Veche ke barat daya Izmail, lalu meninggalkan wilayah udara nasional dekat kota Pardina menuju Ukraina. Dari hasil identifikasi, drone tersebut merupakan tipe Geran-2 buatan Iran, yang juga dikenal sebagai drone kamikaze. Drone ini hampir ditembak jatuh karena sempat terbang sangat rendah sebelum akhirnya keluar dari radar.

Operasi "Eastern Sentry": Respons Tegas NATO di Perbatasan Timur

Menanggapi serangkaian pelanggaran wilayah udara oleh Rusia, NATO tidak tinggal diam. Aliansi pertahanan itu mengumumkan operasi ‘Penjaga Timur’ (Eastern Sentry), sebuah langkah tegas untuk memperkuat pertahanan di perbatasan timur Eropa.

Operasi ini melibatkan beberapa negara anggota NATO, termasuk Denmark, Prancis, Inggris, dan Jerman. Sekjen NATO Mark Rutte menegaskan bahwa serangan Rusia tidak bisa diterima, berbahaya, dan melanggar wilayah salah satu anggota NATO.

"Eastern Sentry akan menambah fleksibilitas dan kekuatan pada postur kami dan menegaskan bahwa, sebagai aliansi pertahanan, kami selalu siap untuk bertahan," kata Rutte pada Jumat (12/9). Pernyataan ini menunjukkan keseriusan NATO dalam menjaga kedaulatan anggotanya.

Panglima Tertinggi NATO di Eropa, Jenderal AS Alexus Grynkewich, menambahkan bahwa meskipun fokus utama mungkin Polandia, situasi ini melampaui batas satu negara. "Apa yang memengaruhi satu sekutu, akan memengaruhi semua," tegasnya, menekankan prinsip pertahanan kolektif NATO.

Operasi ini mencakup seluruh sisi timur NATO, membentang dari ujung utara hingga Laut Hitam dan Mediterania. Peralatan yang digunakan dalam operasi ini antara lain dua jet tempur F-16 dan satu fregat antiperang udara dari Denmark, tiga jet Rafale dari Prancis, dan empat Eurofighter dari Jerman, menunjukkan kekuatan militer yang signifikan.

Eropa dalam Mode Siaga Penuh: Persiapan Perang Terbuka?

Serangkaian insiden ini semakin memperkuat kekhawatiran akan potensi konflik berskala besar di Eropa. Sebuah dokumen surat yang bocor baru-baru ini mengungkapkan bahwa Eropa berada dalam status siaga atas kemungkinan menghadapi perang terbuka tahun depan, menyusul ketegangan NATO dengan Rusia yang terus meningkat.

Hal itu terungkap dari sebuah surat Kementerian Kesehatan yang dikirimkan ke berbagai badan kesehatan dan rumah sakit di Prancis. Surat tersebut meminta badan kesehatan dan rumah sakit di Prancis untuk bersiap menghadapi kemungkinan perang pecah di Eropa pada Maret 2026.

Media lokal Le Canard Enchaîné mengungkap bahwa Kementerian Kesehatan Prancis meminta semua rumah sakit untuk bersiap menghadapi "keterlibatan militer besar" pada Maret 2026. Surat kabar itu memperingatkan bahwa antara 10.000 hingga 50.000 personel dapat diperkirakan masuk rumah sakit dalam kurun waktu 10 hingga 180 hari.

"Dalam konteks internasional saat ini, diperlukan antisipasi mengenai bentuk dukungan kesehatan dalam situasi konflik berintensitas tinggi," demikian isi dokumen Kementerian Kesehatan Prancis tersebut seperti dikutip The Independent pada awal September lalu. Ini adalah sinyal jelas bahwa Eropa sedang mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, di tengah provokasi Rusia yang terus berlanjut.

banner 325x300