banner 728x250

Plot Twist Sejarah! Dulu ‘Bidan’ Israel, Kini Inggris Resmi Akui Palestina Setelah Lebih dari Seabad.

Dua pejabat berjabat tangan di depan bendera AS dan Israel, menyimbolkan hubungan di Timur Tengah.
Berbagai pertemuan diplomatik telah membentuk dinamika Timur Tengah. Kini, Inggris mengambil langkah dramatis mengakui negara Palestina.
banner 120x600
banner 468x60

Sebuah pengakuan yang menggemparkan dunia baru-baru ini datang dari Inggris. Negara yang secara historis memegang peran krusial dalam pembentukan Israel, kini secara resmi mengakui keberadaan negara Palestina. Ini adalah titik balik yang dramatis, menandai perubahan sikap yang signifikan setelah lebih dari seabad narasi politik dan konflik di Timur Tengah.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah ini bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan sebuah pernyataan kuat yang berpotensi mengubah dinamika geopolitik di kawasan yang selalu bergejolak.

banner 325x300

Jejak Inggris dalam Kelahiran Israel: Deklarasi Balfour yang Kontroversial

Untuk memahami sepenuhnya signifikansi pengakuan ini, kita harus mundur ke awal abad ke-20. Inggris adalah salah satu negara yang paling bertanggung jawab atas terbentuknya Israel, sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Benih-benih konflik modern ditanam melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917.

Deklarasi ini tertuang dalam surat tertanggal 2 November 1917, dari Arthur James Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris kala itu, kepada Lionel Walter Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi-Inggris. Isinya menyatakan dukungan Inggris untuk pembentukan "tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi" di Palestina. Pernyataan ini diupayakan secara berkelanjutan oleh Chaim Weizmann dan Nahum Sokolow, para pemimpin Zionis di London.

Meski demikian, deklarasi tersebut secara eksplisit menetapkan bahwa tidak boleh ada tindakan yang dapat merugikan hak-hak sipil dan agama komunitas non-Yahudi yang sudah ada di Palestina. Namun, janji ini terbukti sulit dipertahankan di tengah gelombang imigrasi Yahudi yang meningkat ke wilayah tersebut. Akibatnya, ketegangan antara komunitas Arab dan Yahudi pun tak terhindarkan.

Saat PBB Turun Tangan: Upaya Pembagian Wilayah

Situasi di Palestina semakin memanas, mencapai puncaknya setelah Perang Dunia II. Britania Raya, yang kelelahan dan semakin bertekad untuk menarik diri dari kawasan Timur Tengah, akhirnya merujuk masalah Palestina ke PBB pada bulan April 1947. Ini adalah momen krusial yang mengalihkan tanggung jawab penyelesaian konflik ke tangan komunitas internasional.

PBB kemudian membentuk Komite Khusus PBB untuk Palestina (UNSCOP), sebuah komite penyelidikan yang beranggotakan 11 negara. Komite ini bertugas menyelidiki tindakan yang tepat untuk menyelesaikan krisis di Palestina. UNSCOP akhirnya menyampaikan dua proposal yang berbeda.

Proposal mayoritas merekomendasikan pembentukan dua negara terpisah yang akan bergabung secara ekonomi. Sementara itu, proposal minoritas mendukung pembentukan satu negara binasional yang terdiri dari wilayah otonom Yahudi dan Palestina. Komunitas Yahudi menyetujui proposal pertama, sementara orang Arab menentang keduanya, menginginkan satu negara Palestina yang utuh.

Usulan pembagian Palestina, yang didasarkan pada versi modifikasi laporan mayoritas UNSCOP, diajukan untuk pemungutan suara Majelis Umum pada tanggal 29 November 1947. Nasib usulan tersebut awalnya tidak pasti, tetapi setelah periode lobi yang gencar oleh kelompok dan individu pro-Yahudi, resolusi tersebut akhirnya disahkan. Hasilnya adalah 33 suara mendukung, 13 suara menentang, dan 10 suara abstain, membuka jalan bagi pembentukan Israel.

Titik Balik Sejarah: Inggris Akui Negara Palestina

Setelah sejarah panjang dan berliku, yang diwarnai oleh konflik berdarah, khususnya agresi Israel di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu orang tak berdosa, Inggris akhirnya membuat keputusan monumental. Pada Minggu (21/9), Inggris mengakui keberadaan negara Palestina. Ini adalah sebuah ironi sejarah, mengingat Palestina sudah eksis terlebih dahulu jauh sebelum Israel berdiri.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara tegas menyampaikan pengakuan ini di forum PBB. Langkah ini menjadi penanda bahwa Inggris, yang dulu memainkan peran sentral dalam pembentukan Israel, kini mengambil sikap yang berbeda dan mengakui hak Palestina atas kedaulatan.

Perubahan Peta dan Status Diplomatik

Pengakuan ini tidak hanya sebatas pernyataan lisan. Inggris pun memperbarui peta wilayah Palestina, dalam pembaruan itu, pemerintah mengganti nama Palestina dari sebelumnya "Wilayah Palestina yang Diduduki" menjadi "Palestina". Perubahan ini bukan sekadar simbolis, melainkan memiliki implikasi hukum dan diplomatik yang signifikan.

Wilayah Palestina dalam peta baru Inggris ini mencakup kawasan Tepi Barat dan Jalur Gaza, menegaskan batas-batas yang diakui secara internasional. Pembaruan ini sendiri dapat dilihat di laman travel advice atau imbauan perjalanan dari Kementerian Luar Negeri Inggris, menunjukkan bahwa ini adalah kebijakan resmi pemerintah. Inggris bahkan secara resmi telah memasukkan nama Palestina dalam indeks negara-negara di situs tersebut.

"Halaman ini telah diperbarui dari ‘Wilayah Palestina yang Diduduki’ menjadi ‘Palestina’," demikian keterangan laman tersebut, seperti dikutip Anadolu Agency. Tak hanya itu, Palestina kini resmi membuka kedutaan besar (kedubes) di London. Mengutip dari AFP, bangunan yang sebelumnya kantor misi diplomatik, akhirnya diresmikan menjadi kedubes pada Senin (22/9) setelah pengakuan sebagai negara tersebut. Dengan demikian, setelah lebih dari seabad, Palestina kini diakui sebagai negara berdaulat.

Mengapa Sekarang? Analisis di Balik Perubahan Sikap Inggris

Keputusan Inggris untuk mengakui Palestina setelah puluhan tahun menunda, bukanlah keputusan semalam. Ada beberapa faktor yang mungkin melatarbelakangi perubahan sikap drastis ini. Pertama, tekanan global dan opini publik yang semakin meningkat, terutama setelah eskalasi konflik di Gaza, telah menciptakan desakan moral yang kuat. Dunia menyaksikan penderitaan rakyat Palestina, dan Inggris, sebagai negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, tidak bisa lagi berdiam diri.

Kedua, perubahan kepemimpinan politik di Inggris juga mungkin berperan. Pemerintahan di bawah Perdana Menteri Keir Starmer dari Partai Buruh mungkin memiliki pandangan yang lebih progresif dan simpatik terhadap perjuangan Palestina dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Ini bisa menjadi bagian dari upaya untuk menegaskan kembali posisi Inggris sebagai pemain yang bertanggung jawab di panggung internasional.

Ketiga, Inggris mungkin ingin memainkan peran yang lebih konstruktif dalam upaya perdamaian di Timur Tengah. Dengan mengakui Palestina, Inggris berharap dapat membangun kepercayaan dan membuka jalan bagi dialog yang lebih substantif menuju solusi dua negara yang adil dan berkelanjutan. Ini juga bisa menjadi upaya untuk memperbaiki citra historisnya yang seringkali dianggap sebagai "biang keladi" masalah di kawasan tersebut.

Dampak dan Harapan ke Depan

Pengakuan Inggris terhadap Palestina membawa dampak yang signifikan. Bagi Palestina, ini adalah kemenangan diplomatik besar yang meningkatkan legitimasi dan posisi tawar mereka di mata dunia. Ini juga memberikan dorongan moral yang kuat bagi rakyat Palestina dalam perjuangan mereka untuk kemerdekaan dan kedaulatan.

Bagi Inggris, langkah ini berpotensi memperbaiki citra internasionalnya dan menegaskan kembali komitmennya terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia. Inggris dapat memposisikan diri sebagai mediator yang lebih netral dan efektif dalam konflik Israel-Palestina.

Namun, pengakuan ini juga tidak luput dari tantangan. Reaksi dari Israel dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat, mungkin akan beragam. Meskipun demikian, langkah Inggris ini diharapkan dapat memicu negara-negara lain untuk mengikuti jejaknya, membawa harapan baru bagi terwujudnya solusi dua negara dan perdamaian abadi di Timur Tengah. Ini adalah babak baru dalam narasi panjang yang penuh gejolak, sebuah plot twist yang patut dicermati.

banner 325x300