Presiden Palestina Mahmoud Abbas kembali mengguncang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan seruan tegas. Ia mendesak seluruh negara di dunia untuk segera mengakui kedaulatan Palestina, menekankan sebuah fakta krusial yang sering terlupakan: Palestina telah lebih dulu mengakui keberadaan negara Israel sejak tahun 1988. Pidato daringnya ini bukan sekadar permintaan, melainkan penegasan posisi diplomatik yang kuat, di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas.
Seruan Tegas dari PBB: Terima Kasih dan Desakan Global
Dalam pidatonya yang disampaikan secara virtual pada Kamis (25/9), Abbas tak lupa menyampaikan apresiasi mendalam. Ia secara khusus berterima kasih kepada sejumlah negara yang baru-baru ini mengambil langkah berani dengan mengakui Palestina sebagai sebuah negara berdaulat. Daftar negara tersebut meliputi Prancis, Inggris, Kanada, Australia, Belgia, Portugal, Luksemburg, Malta, Monako, San Marino, Andorra, dan Denmark.
Pengakuan dari negara-negara berpengaruh ini, menurut Abbas, adalah langkah maju yang signifikan. Ia menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan pernah melupakan dukungan moral dan diplomatik yang telah diberikan. Selain itu, ia juga menyampaikan terima kasih kepada 149 negara lain yang telah lebih dulu mengakui Palestina, menunjukkan bahwa dukungan internasional terhadap kemerdekaan Palestina sebenarnya sudah sangat luas.
Kunci Pengakuan: Palestina Akui Israel Sejak Lama
Inti dari argumen Abbas adalah konsistensi dan komitmen Palestina terhadap perdamaian. Ia mengingatkan dunia bahwa Palestina telah mengakui hak Israel untuk hidup sejak tahun 1988. Pengakuan ini diperkuat lagi pada tahun 1993, sebuah langkah penting yang menjadi dasar bagi Perjanjian Oslo, upaya perdamaian bersejarah antara kedua belah pihak.
"Perlu dicatat bahwa kami telah mengakui hak Israel untuk hidup pada 1988 dan 1993, dan kami masih mengakuinya hingga saat ini," tegas Abbas. Pernyataan ini bukan hanya retorika, melainkan fondasi diplomatik yang menunjukkan bahwa Palestina telah memenuhi salah satu prasyarat utama untuk solusi dua negara. Dengan pengakuan timbal balik ini, Abbas berharap dunia akan mengikuti jejak Palestina, menciptakan keseimbangan yang adil dalam upaya perdamaian.
Momentum Solusi Dua Negara dan Dukungan Penuh PBB
Abbas juga menyoroti pertemuan penting negara-negara mayoritas Islam yang baru saja digelar di New York. Pertemuan ini, yang diinisiasi oleh Prancis dan Arab Saudi, bertujuan untuk membahas konflik di Gaza dan mendorong solusi dua negara sebagai jalan keluar. Ia mengucapkan terima kasih kepada kedua negara atas inisiatif tersebut, yang telah memicu gelombang pengakuan baru terhadap Palestina.
Momen ini dianggap krusial untuk mempercepat tercapainya solusi dua negara yang komprehensif. Abbas mendesak semua negara yang belum mengakui Palestina untuk segera mengambil langkah serupa. Lebih jauh, ia menyerukan dukungan penuh bagi Palestina untuk memperoleh keanggotaan penuh di PBB, sebuah status yang akan memberikan legitimasi dan kekuatan diplomatik yang lebih besar di panggung global. Keanggotaan penuh di PBB akan menjadi simbol pengakuan internasional atas kedaulatan dan hak Palestina untuk eksis sebagai negara merdeka.
Di Balik Layar: Drama Visa dan Pidato Daring
Di balik pidato yang penuh semangat ini, tersimpan sebuah drama diplomatik. Presiden Abbas sebenarnya dijadwalkan hadir secara langsung di Sidang Majelis Umum PBB. Namun, visanya ditolak oleh Amerika Serikat. Pihak AS beralasan bahwa penolakan ini dilakukan karena Otoritas Palestina dianggap telah merusak upaya perdamaian, sebuah tuduhan yang tentu saja dibantah keras oleh Palestina.
Meskipun menghadapi hambatan ini, Majelis Umum PBB menunjukkan solidaritasnya. Sebuah pemungutan suara digelar untuk mendukung kehadiran Abbas di SMU PBB pekan ini, meskipun harus secara daring. Hasilnya, disepakati bahwa Abbas dapat menyampaikan pidatonya melalui video, memastikan suaranya tetap terdengar di forum internasional tertinggi. Insiden penolakan visa ini justru semakin menyoroti tantangan yang dihadapi Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya di kancah global.
Mengapa Ini Penting? Dampak Pengakuan Global
Pengakuan internasional terhadap Palestina bukan sekadar formalitas. Ini adalah langkah fundamental menuju keadilan dan stabilitas di Timur Tengah. Dengan diakuinya Palestina sebagai negara berdaulat, posisi tawar mereka dalam negosiasi perdamaian akan semakin kuat. Ini juga akan memberikan perlindungan hukum internasional yang lebih besar bagi rakyat Palestina, serta membuka pintu bagi bantuan dan kerja sama global yang lebih luas.
Pengakuan ini juga mengirimkan pesan kuat kepada Israel dan komunitas internasional bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya jalan ke depan. Ini adalah penegasan bahwa pendudukan wilayah Palestina harus berakhir, dan rakyat Palestina memiliki hak yang sama untuk menentukan nasibnya sendiri. Setiap pengakuan baru adalah batu bata yang membangun fondasi bagi masa depan yang lebih damai dan adil.
Masa Depan Hubungan Israel-Palestina: Harapan di Tengah Tantangan
Seruan Abbas di PBB adalah cerminan dari harapan dan frustrasi yang mendalam. Harapan akan perdamaian yang adil, namun juga frustrasi atas lambatnya kemajuan dan berlanjutnya konflik. Dengan semakin banyaknya negara yang mengakui Palestina, tekanan diplomatik terhadap Israel untuk kembali ke meja perundingan dengan niat baik akan semakin meningkat.
Meskipun jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh tantangan, pidato Abbas ini menegaskan bahwa perjuangan Palestina untuk kedaulatan tidak akan pernah padam. Pengakuan global adalah kunci untuk membuka pintu dialog yang setara, mengakhiri siklus kekerasan, dan pada akhirnya, mewujudkan visi dua negara yang hidup berdampingan dalam damai dan keamanan. Dunia kini menanti langkah selanjutnya, apakah seruan Abbas akan benar-benar mengguncang kesadaran global dan mempercepat terwujudnya keadilan bagi Palestina.


















