banner 728x250

Peru Mendidih! Gen Z Turun ke Jalan Lawan Korupsi & Aparat, Ada Apa Sebenarnya?

Ruang sidang parlemen Indonesia terlihat kosong, banyak kursi tidak berpenghuni.
Aktivitas parlemen Indonesia. Isu korupsi jadi sorotan generasi muda Peru.
banner 120x600
banner 468x60

Gelombang protes masif kembali mengguncang Peru akhir pekan lalu, saat ratusan anak muda dari Generasi Z turun ke jalan. Mereka menyuarakan kemarahan terhadap praktik korupsi yang merajalela, kejahatan kelompok kriminal yang tak terkendali, hingga reformasi dana pensiun yang dianggap merugikan rakyat. Namun, aksi damai ini justru disambut respons keras dari aparat keamanan, memicu bentrokan yang melukai banyak pihak.

Ketika Gen Z Muak: Akar Masalah yang Membakar Peru

Kemarahan Gen Z Peru bukan tanpa alasan. Negara ini telah lama didera masalah kronis seperti korupsi tingkat tinggi yang melibatkan berbagai lapisan pemerintahan. Dana publik yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat justru raib ditelan oknum-oknum tak bertanggung jawab, menciptakan jurang ketidakpercayaan yang dalam antara warga dan penguasa.

banner 325x300

Selain itu, maraknya kejahatan terorganisir dan pemerasan oleh "gengster" telah menciptakan rasa takut dan ketidakamanan di masyarakat. Warga merasa pemerintah gagal melindungi mereka dari ancaman kriminalitas yang semakin merajalela. Situasi ini diperparah dengan kondisi ekonomi yang morat-marit, membuat rakyat semakin tercekik.

Puncaknya, parlemen meloloskan undang-undang yang mewajibkan warga dewasa untuk ikut serta dalam dana pensiun swasta. Kebijakan ini menjadi pemicu utama kemarahan Gen Z, yang merasa dipaksa menginvestasikan masa depan mereka pada sistem yang tidak stabil, di tengah ketidakpastian ekonomi dan krisis kepercayaan terhadap institusi negara. Bagi mereka, ini adalah pukulan telak di saat kondisi sudah sulit.

Bentrokan Tak Terhindarkan: Gas Air Mata dan Korban Berjatuhan

Aksi protes yang seharusnya menjadi ruang ekspresi demokrasi justru berubah menjadi medan bentrokan. Aparat keamanan merespons demonstrasi dengan menembakkan gas air mata ke arah kerumunan, memicu kekacauan dan kepanikan. Akibatnya, setidaknya 18 orang dilaporkan terluka dalam insiden tersebut.

Pada malam hari, situasi semakin memanas ketika sekelompok demonstran yang marah mulai melemparkan batu dan bom molotov ke arah polisi. Aparat pun membalas dengan tembakan gas air mata yang lebih intens, menciptakan suasana mencekam di jalan-jalan ibu kota. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari kepolisian mengenai jumlah pasti warga yang ditangkap dalam rangkaian demonstrasi ini.

Suara dari Garis Depan: Kekecewaan dan Kebangkitan

Di tengah hiruk pikuk bentrokan, suara-suara dari para demonstran Gen Z menjadi sorotan. Jonatan Esquen, seorang pelajar berusia 18 tahun, dengan tegas menyatakan bahwa protes ini adalah "kebangkitan warga Peru." Ia percaya bahwa generasi muda kini lebih sadar dan aktif, baik di media sosial maupun di arena politik, untuk menyuarakan perubahan yang mereka inginkan.

Senada dengan Jonatan, Xiomi Aguilar, warga lainnya, mengungkapkan kekecewaan mendalamnya terhadap pemerintah. Ia bahkan tak segan menyebut partai-partai politik di negaranya sebagai "mafia." "Saya sangat marah, saya merasa benar-benar disesatkan oleh pemerintah ini… Dan Kongres ini yang melayani partai-partai politik," ujarnya, mencerminkan frustrasi kolektif terhadap sistem yang dianggap korup dan tidak berpihak pada rakyat.

Jurnalis Jadi Target: Ancaman Terhadap Kebebasan Pers

Ironisnya, kekerasan aparat juga menyasar para jurnalis yang tengah meliput. Cesar Zamalloa, seorang jurnalis foto dari Hildebrandt En Sus Trece, menceritakan pengalamannya saat polisi mulai menembakkan peluru langsung ke tubuh orang-orang. "Saat itulah saya merasakan benturan di kaki dan pinggul saya," ungkapnya, menggambarkan betapa berbahayanya situasi di lapangan.

Asosiasi Jurnalis Nasional Peru (ANP) melaporkan bahwa setidaknya enam jurnalis terkena peluru yang ditembakkan polisi saat menjalankan tugas mereka. Selain itu, video yang beredar luas di media sosial juga menunjukkan seorang pengunjuk rasa terluka parah, diduga akibat tembakan polisi. Insiden ini menjadi alarm serius terhadap kebebasan pers dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Gelombang Gen Z Global: Peru Bukan Satu-satunya

Apa yang terjadi di Peru bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Gerakan protes yang dipelopori oleh Generasi Z kini menjadi tren global. Di berbagai belahan dunia, mulai dari Indonesia, Nepal, Prancis, hingga Filipina, anak muda turun ke jalan menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap berbagai isu, mulai dari ketidakadilan sosial, krisis iklim, hingga korupsi.

Di Filipina, misalnya, demonstrasi Gen Z juga diwarnai kerusuhan, di mana aparat merespons dengan gas air mata dan menangkap puluhan remaja. Pola serupa menunjukkan bahwa Gen Z di seluruh dunia memiliki kesamaan dalam menyikapi masalah. Mereka adalah generasi yang tumbuh di era digital, terhubung satu sama lain, dan tidak takut untuk menuntut perubahan. Mereka melihat ketidakadilan dan korupsi sebagai musuh bersama yang harus dilawan, dan mereka siap menggunakan suara serta kekuatan kolektif mereka untuk mengguncang status quo.

Peru kini berada di persimpangan jalan. Suara Gen Z yang mendidih di jalanan adalah cerminan dari krisis kepercayaan yang mendalam. Pertanyaannya, apakah pemerintah akan mendengarkan tuntutan mereka, atau justru semakin memperparah situasi dengan respons represif? Masa depan Peru, dan mungkin juga banyak negara lain, akan sangat bergantung pada bagaimana dialog antara generasi muda dan penguasa ini berkembang.

banner 325x300