banner 728x250

PBB Geger! Prabowo Siap Berpidato, Akankah Palestina Bikin AS-Israel ‘Kalah’ Lagi di Sidang Umum ke-80?

Ilustrasi bendera Palestina di depan gedung Markas PBB di New York.
Isu Palestina diperkirakan akan menjadi sorotan utama di Sidang Umum PBB.
banner 120x600
banner 468x60

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 akan segera digelar pada 23 September 2025. Momen ini selalu menjadi panggung bagi para pemimpin dunia untuk menyuarakan isu-isu krusial, termasuk perdamaian global. Namun, tahun ini, sorotan utama tak bisa dilepaskan dari nasib Palestina.

Antisipasi global memuncak, terutama setelah beredar kabar bahwa ratusan negara siap mendukung kemerdekaan Palestina. Ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah pertarungan diplomatik yang bisa mengubah peta politik dunia.

banner 325x300

Momen Krusial di Sidang Umum PBB ke-80

Setiap tahun, Sidang Majelis Umum PBB adalah forum paling penting bagi negara-negara anggota untuk membahas tantangan global. Mulai dari perubahan iklim, krisis ekonomi, hingga konflik kemanusiaan, semuanya menjadi agenda utama. Namun, kali ini, isu kedaulatan Palestina diprediksi akan mendominasi perdebatan.

Dunia akan menyaksikan bagaimana para pemimpin negara menyikapi isu yang telah berlarut-larut ini. Apakah akan ada terobosan signifikan, ataukah hanya retorika yang berulang? Jawabannya akan terkuak dalam beberapa hari ke depan.

Prabowo Subianto: Suara Indonesia di Panggung Dunia

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar dan pendukung setia Palestina, akan diwakili oleh Presiden Prabowo Subianto. Kehadirannya di forum internasional ini tentu sangat dinantikan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan pidato pada sesi Debat Umum PBB. Sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.

Prabowo akan berpidato pada urutan ketiga, setelah Presiden Brasil dan Presiden Amerika Serikat. Posisi ini menunjukkan betapa pentingnya suara Indonesia di mata dunia, terutama dalam isu-isu sensitif seperti Palestina.

Pidato Presiden Prabowo diharapkan akan menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Ini adalah kesempatan emas untuk menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia dan dunia yang mendambakan keadilan bagi Palestina.

Palestina: Sorotan Utama yang Tak Terbantahkan

Tak bisa dimungkiri, isu kedaulatan Palestina akan menjadi magnet utama perhatian di Sidang Umum PBB ke-80. Setelah puluhan tahun konflik dan perjuangan, momentum dukungan internasional terhadap Palestina semakin menguat.

Ada harapan besar bahwa Sidang Umum kali ini akan menjadi titik balik. Ratusan negara dikabarkan siap memberikan dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina, sebuah langkah yang bisa memberikan tekanan diplomatik luar biasa.

Dukungan ini bukan hanya sekadar simbolis. Ini adalah cerminan dari meningkatnya kesadaran global akan penderitaan rakyat Palestina dan perlunya solusi yang adil dan permanen.

Menguak Sejarah: Pidato Ikonik Yasser Arafat 1974

Membahas Palestina di PBB, ingatan kita tak bisa lepas dari pidato legendaris Yasser Arafat. Pada 13 November 1974, Arafat, yang kala itu menjabat Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), membuat sejarah dengan pidato pertamanya di forum PBB.

Kehadirannya saat itu adalah sebuah revolusi. Seorang pemimpin Palestina, yang sebelumnya dianggap "teroris" oleh sebagian pihak, kini berdiri di panggung dunia untuk menyuarakan hak-hak bangsanya.

Pidatonya sangat terkenal, bahkan sering dikutip hingga kini. "Hari ini saya datang membawa ranting zaitun dan senjata pejuang kemerdekaan. Jangan biarkan ranting zaitun jatuh dari tangan saya. Saya ulangi. Jangan biarkan ranting zaitun jatuh dari tangan saya," kata Arafat dengan penuh emosi.

Kutipan tersebut menjadi simbol perjuangan Palestina: keinginan untuk perdamaian (ranting zaitun) diiringi dengan tekad untuk membela diri (senjata pejuang kemerdekaan). Sebuah pesan yang menggugah dan penuh makna.

Kemenangan Diplomatik yang Mengguncang AS-Israel

Pidato Arafat pada tahun 1974 itu dicatat sebagai kemenangan besar bagi Palestina dan kekalahan diplomatik telak bagi Israel dan sekutunya, Amerika Serikat. Situs Washington Report on Middle East Affairs bahkan menyebutnya sebagai salah satu kemenangan terbesar Palestina dan PBB.

Mengapa disebut kekalahan? Karena kehadiran dan penerimaan Arafat di PBB secara efektif melegitimasi PLO sebagai perwakilan sah rakyat Palestina di mata dunia. Ini menantang narasi yang selama ini dipegang oleh AS dan Israel.

Dunia mulai melihat perjuangan Palestina dari sudut pandang yang berbeda, bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan perjuangan untuk penentuan nasib sendiri. Ini adalah pukulan telak bagi upaya isolasi diplomatik terhadap Palestina.

Revolusioner atau Teroris? Definisi Arafat yang Mengguncang

Dalam pidatonya, Arafat juga secara tegas membedakan antara revolusioner dan teroris. Sebuah pernyataan yang hingga kini masih relevan dan sering diperdebatkan.

"Perbedaan antara revolusioner dan teroris terletak pada alasan masing-masing berjuang. Siapa pun yang berdiri di atas dasar kebenaran dan berjuang untuk pembebasan dari penjajah dan penjajah tidak dapat disebut teroris?" tegas Arafat.

Ia melanjutkan, "Mereka yang berperang untuk menduduki, menjajah, dan menindas orang lain adalah teroris. Rakyat Palestina terpaksa menggunakan perjuangan bersenjata ketika mereka kehilangan kepercayaan pada komunitas internasional, yang mengabaikan hak-hak mereka, dan ketika menjadi jelas bahwa tidak satu inci pun wilayah Palestina dapat direbut kembali melalui cara-cara politik semata…"

Pernyataan ini adalah sebuah tantangan langsung terhadap narasi yang mendiskreditkan perjuangan Palestina. Arafat ingin dunia memahami bahwa perjuangan bersenjata adalah respons terakhir setelah jalur diplomatik terasa buntu dan hak-hak dasar diabaikan.

Akankah Sejarah Terulang? Harapan dan Tantangan Palestina Kini

Kini, lebih dari lima puluh tahun kemudian, dunia kembali menatap PBB dengan harapan yang sama. Akankah Sidang Umum ke-80 ini menjadi momen di mana sejarah kemenangan diplomatik Palestina terulang?

Tentu saja, kondisi global telah banyak berubah. Namun, esensi perjuangan Palestina tetap sama: mencari keadilan dan kedaulatan. Dengan dukungan ratusan negara dan suara-suara kuat seperti Indonesia melalui Presiden Prabowo, harapan itu kembali menyala.

Tantangannya tidak kecil. Konflik di lapangan masih berlanjut, dan jalan menuju perdamaian sejati masih panjang. Namun, setiap pidato, setiap dukungan, dan setiap resolusi di PBB adalah langkah kecil yang membangun momentum besar.

Kita semua menanti dengan napas tertahan. Akankah ranting zaitun yang dibawa para pemimpin dunia kali ini berhasil menumbuhkan perdamaian yang abadi bagi Palestina? Sidang Umum PBB ke-80 akan menjadi saksi bisu, apakah dunia akhirnya berani mengambil sikap tegas demi keadilan.

banner 325x300