banner 728x250

Paradoks Pasifik: Lantang Bela Papua, Tapi ‘Acuh’ pada Palestina? Ini Alasan di Baliknya!

Bendera Palestina berkibar di tengah lanskap berbatu yang tandus.
Sikap kontradiktif negara Pasifik dalam isu Palestina menimbulkan pertanyaan besar terkait kemerdekaan.
banner 120x600
banner 468x60

Sejak agresi brutal Israel pecah pada Oktober 2023, Palestina terperosok dalam bencana kemanusiaan yang memilukan. Dunia terpecah, sebagian lantang menyuarakan dukungan, sebagian lagi memilih diam. Namun, ada satu kelompok negara yang menarik perhatian karena sikapnya yang terkesan kontradiktif: negara-negara Pasifik. Mereka dikenal sangat vokal menyuarakan kemerdekaan Papua, tapi justru enggan mengakui Palestina. Sebuah paradoks yang mengundang tanya besar.

Negara-negara seperti Papua Nugini, Nauru, Palau, Tonga, Vanuatu, Selandia Baru, dan Micronesia adalah contoh nyata. Mereka tak segan-segan membawa isu konflik Papua ke forum internasional, bahkan Nauru secara khusus berusaha memasukkannya dalam pembahasan. Namun, ketika tiba giliran Palestina, sikap mereka berubah drastis.

banner 325x300

Sikap Berbeda di PBB: Antara Papua dan Palestina

Saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pemungutan suara resolusi terkait Palestina, beberapa negara Pasifik ini justru kerap abstain. Bahkan, pekan lalu, mereka menolak resolusi Deklarasi New York yang secara garis besar berisi peta jalan menuju Solusi Dua Negara. Sebuah penolakan yang cukup mengejutkan, mengingat kondisi Palestina yang sedang luluh lantak.

Kontrasnya sikap ini memicu pertanyaan krusial: mengapa negara-negara Pasifik yang begitu gigih membela hak penentuan nasib sendiri bagi Papua, justru terkesan mengabaikan penderitaan Palestina? Apakah ada faktor-faktor tersembunyi yang membentuk kebijakan luar negeri mereka? Para ahli mencoba mengurai benang kusut di balik fenomena ini.

Pengaruh Agama: Tanah Suci dan Orang Terpilih?

Salah satu faktor yang disebut-sebut paling dominan adalah pandangan keagamaan. Menurut pakar politik dan keamanan internasional dari Universitas Murdoch Australia, Ian Wilson, negara-negara Kepulauan Pasifik memiliki pandangan yang kuat terhadap Israel. Mereka memandang Israel sebagai tanah suci dan meyakini warga Yahudi adalah orang-orang terpilih.

"Jadi mendukung Israel disamakan dengan melindungi tanah suci. Ini berpengaruh pada tingkat pemerintahan," kata Ian Wilson. Pandangan ini, yang seringkali berakar pada interpretasi ajaran Kristen evangelis yang kuat di banyak negara Pasifik, menciptakan ikatan emosional dan spiritual yang mendalam dengan Israel. Bagi mereka, dukungan terhadap Israel bukan sekadar politik, melainkan juga bagian dari keyakinan iman.

Bayang-bayang Amerika Serikat: Sekutu Kuat Israel

Selain faktor agama, pengaruh geopolitik juga memainkan peran besar. Negara-negara Kepulauan Pasifik berada di bawah pengaruh kuat Amerika Serikat, sekutu dekat Israel. Washington memiliki kepentingan strategis yang besar di kawasan Pasifik, dan dukungan terhadap Israel adalah salah satu pilar utama kebijakan luar negeri AS.

Situasi ini secara tidak langsung "memaksa" negara-negara Pasifik untuk mengikuti arah dan jalan Washington. Sebagai negara yang secara historis dan ekonomis bergantung pada AS, menentang kebijakan Washington terkait Israel bisa berisiko tinggi. Israel sendiri, sebagai mitra strategis AS, memanfaatkan posisi ini untuk meraup dukungan di PBB dari negara-negara kecil tersebut.

Diplomasi Dolar Israel: Hubungan Ekonomi yang ‘Spesial’

Tak hanya pengaruh politik dan agama, hubungan ekonomi juga menjadi kunci. Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, mengungkapkan bahwa negara-negara kepulauan Pasifik itu memiliki hubungan ekonomi "secara khusus" dengan Israel. "Sehingga otomatis mereka mendukung Israel dan menolak Palestina," kata Yon.

Israel diduga menjalankan apa yang dikenal sebagai checkbook diplomacy atau diplomasi ekonomi terhadap negara-negara ini. Negeri Zionis dilaporkan telah menggelontorkan jutaan dolar untuk Nauru dan negara-negara Pasifik lainnya dalam membantu mengembangkan infrastruktur. Bantuan ini, meskipun terlihat sebagai uluran tangan pembangunan, seringkali datang dengan "harga" berupa dukungan politik di forum internasional. Bagi negara-negara kecil dengan sumber daya terbatas, tawaran bantuan ekonomi semacam ini tentu sulit ditolak.

Perebutan Pengaruh Global: AS vs. China di Pasifik

Lokasi geografis negara-negara Pasifik yang strategis di Asia-Pasifik juga dimanfaatkan secara penuh oleh Amerika Serikat. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, memandang Washington memberi pengawasan ketat agar mereka tak jatuh dalam lingkaran pengaruh China.

"Empat negara di Pasifik Selatan tersebut juga secara khusus diawasi Amerika Serikat, agar tidak masuk dalam wilayah pengaruh China, yang saat ini marak memperkenalkan paket ekonomi yang sangat menggiurkan," jelas Rezasyah. Dalam konteks persaingan geopolitik antara AS dan China, negara-negara Pasifik menjadi medan perebutan pengaruh. Dukungan terhadap Israel bisa jadi merupakan salah satu cara bagi negara-negara ini untuk tetap berada dalam "lingkaran aman" AS, sekaligus mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik dari kedua belah pihak.

Kompleksitas di Balik Sikap Negara Kecil

Fenomena ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika hubungan internasional, terutama bagi negara-negara kecil. Mereka seringkali harus menyeimbangkan antara nilai-nilai moral, kepentingan ekonomi, tekanan geopolitik, dan keyakinan agama. Dukungan lantang terhadap Papua mungkin didasari oleh solidaritas regional dan sejarah dekolonisasi, sementara sikap terhadap Palestina dibentuk oleh jalinan kepentingan yang lebih rumit.

Pada akhirnya, paradoks sikap negara-negara Pasifik ini bukan sekadar tentang Palestina atau Papua. Ini adalah cerminan dari bagaimana kekuatan besar membentuk narasi dan bagaimana negara-negara kecil harus menavigasi lautan politik global yang penuh intrik, demi kelangsungan hidup dan kepentingan nasional mereka. Sebuah pelajaran berharga tentang realitas politik yang seringkali jauh dari idealisme.

banner 325x300