Momen tak terduga terjadi saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada Senin (22/9) waktu setempat. Di tengah-tengah pidatonya yang penting, pengeras suara yang digunakannya tiba-tiba mati total, membuat banyak pihak bertanya-tanya.
Insiden ini sontak menjadi perbincangan. Namun, bukan karena kerusakan teknis atau gangguan yang disengaja, kejadian ini ternyata disebabkan oleh sebuah aturan prosedur yang mungkin belum banyak diketahui publik. Aturan ini bahkan sudah ada sejak puluhan tahun lalu, mengatur jalannya diplomasi global.
Bukan Rusak, Ini Alasan Sebenarnya di Balik Insiden Mic Prabowo
Direktur Informasi dan Media Kementerian Luar Negeri RI, Hartyo Harkomoyo, menjelaskan duduk perkara di balik insiden mati mendadak mikrofon Presiden Prabowo. Menurutnya, hal itu terjadi karena waktu yang digunakan untuk berpidato sudah melebihi batas yang ditetapkan.
"Terdapat aturan prosedur bahwa setiap negara mendapat kesempatan 5 menit. Apabila pidato lebih dari 5 menit maka mikrofon akan dimatikan," kata Hartyo. Ini adalah mekanisme otomatis yang diterapkan PBB untuk memastikan efisiensi dan keadilan bagi semua negara anggota.
Aturan Ketat Waktu Pidato di PBB: Sejak Kapan?
Setiap pertemuan PBB memang memiliki aturan tersendiri, termasuk alokasi waktu yang diberikan kepada setiap delegasi. Aturan alokasi waktu di Majelis Umum PBB ini baru diberlakukan secara resmi pada tahun 1972, yang tercantum dalam Peraturan 72 Tata Tertib Majelis Umum (A/520/Rev.20).
Artinya, sejak lebih dari lima dekade lalu, para pemimpin dunia harus mematuhi batasan waktu yang ketat. Selain aturan 5 menit untuk sesi tertentu, di sesi debat Sidang Majelis Umum PBB, setiap kepala negara biasanya diberikan porsi waktu maksimal 15 menit untuk menyampaikan pandangannya.
Dulu Bebas Bicara Berjam-jam, Siapa Saja Pemimpin yang Pernah Berpidato Terlama?
Jauh sebelum aturan ketat ini diberlakukan, panggung PBB adalah arena di mana para pemimpin dunia bisa berpidato berjam-jam tanpa batas waktu yang ditetapkan. Momen-momen epik dengan pidato super panjang ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah diplomasi global.
Dalam catatan persidangan PBB yang dikutip dari situs United Nations (ask.un.org), ada beberapa kepala negara yang tercatat berpidato sangat panjang, mengukir rekor yang sulit dipecahkan di era modern. Kisah mereka menunjukkan bagaimana dinamika diplomasi telah berubah drastis.
Fidel Castro: 4,5 Jam Mengutuk Amerika Serikat
Pemimpin revolusioner Kuba, Fidel Castro, memegang rekor sebagai pemimpin dunia terlama yang menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB. Pada sidang pleno ke-872 Majelis Umum tanggal 26 September 1960, ia menghabiskan waktu sampai 269 menit atau sekitar 4,5 jam!
Pidato maratonnya itu tak lebih dari mengutuk Amerika Serikat. Pada tahun 1960, pemerintahan Castro yang baru saja menerapkan sistem sosialis telah menasionalisasi perusahaan-perusahaan swasta, termasuk ratusan cabang perusahaan asal Amerika Serikat. Ia juga menaikkan pajak tinggi untuk produk-produk AS.
Di tengah memanasnya hubungan dan embargo ekonomi dari AS, Castro dengan lantang menyatakan bahwa monopoli bisnis Amerika telah menyengsarakan rakyat Kuba. Pidatonya menjadi simbol perlawanan dan keberanian di tengah Perang Dingin, menarik perhatian dunia pada perjuangan Kuba.
Sekou Toure: 2,5 Jam Mengukir Sejarah Guinea
Posisi kedua ditempati oleh Sekou Toure, Presiden Guinea. Ia berpidato selama 144 menit atau sekitar 2,5 jam pada tanggal 10 Oktober 1960. Toure adalah tokoh politik penting dan negarawan Afrika yang menjadi presiden pertama Guinea dari tahun 1958 hingga kematiannya pada tahun 1984.
Toure dikenal sebagai salah satu nasionalis Guinea utama yang berhasil memperoleh kemerdekaan negaranya dari Prancis. Pidatonya di PBB menjadi suara lantang bagi negara-negara Afrika yang baru merdeka, menyerukan penentuan nasib sendiri dan menentang sisa-sisa kolonialisme.
Ketika Aturan Kadang Dikesampingkan: Kasus Donald Trump
Meskipun PBB memiliki aturan waktu yang ketat, ada kalanya batasan ini seolah "dikesampingkan" atau setidaknya diperlakukan dengan fleksibilitas. Salah satu contoh yang menarik adalah ketika Presiden AS Donald Trump berpidato.
Dalam salah satu sesi debat Sidang Majelis Umum PBB, pidato Trump dilaporkan memakan waktu nyaris satu jam, jauh melebihi batas waktu 15 menit yang ditetapkan untuk kepala negara. Insiden ini menunjukkan bahwa meskipun ada aturan, implementasinya bisa bervariasi tergantung konteks atau mungkin pengaruh negara tertentu.
Pentingnya Batasan Waktu dalam Diplomasi Modern
Perubahan dari pidato berjam-jam menjadi batasan waktu yang ketat mencerminkan evolusi diplomasi internasional. Di era modern, efisiensi dan inklusivitas menjadi kunci. Dengan ratusan negara anggota, memberikan waktu yang tak terbatas kepada setiap pemimpin akan membuat Sidang Umum PBB menjadi tidak efektif.
Batasan waktu memastikan bahwa lebih banyak negara memiliki kesempatan untuk menyuarakan kepentingannya. Ini juga mendorong para pemimpin untuk menyampaikan poin-poin penting mereka secara ringkas dan padat, sebuah keterampilan yang sangat berharga dalam komunikasi global.
Lebih dari Sekadar Pidato: Makna di Balik Aturan PBB
Insiden mikrofon Presiden Prabowo yang mati di PBB, meski terkesan sepele, sebenarnya membawa pesan penting. Ini adalah pengingat bahwa di panggung diplomasi global, bahkan seorang kepala negara sekalipun harus tunduk pada protokol dan aturan yang berlaku.
Aturan-aturan ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan fondasi untuk menjaga ketertiban, keadilan, dan efektivitas dalam forum internasional. Dari pidato maraton Fidel Castro hingga insiden mic Prabowo, setiap momen di PBB adalah cerminan dari dinamika dan evolusi hubungan antarnegara di dunia.


















