banner 728x250

Jauh Sebelum Ramai, KH Agus Salim Sudah ‘Ramal’ Kekejaman Israel dan Inggris di Palestina Sejak 1936!

Potret pemimpin Iran Ali Khamenei dan PM Israel Benjamin Netanyahu, simbol konflik Gaza.
Kecaman global memanas terhadap agresi Israel di Gaza. Konflik ini telah 'diramalkan' KH Agus Salim puluhan tahun lalu.
banner 120x600
banner 468x60

Kecaman global terhadap agresi Israel di Gaza kini semakin memanas, namun tahukah kamu bahwa jauh sebelum konflik ini mencapai puncaknya, para pemimpin Indonesia sudah membaca gelagat agresif negara zionis tersebut? Salah satu Bapak Bangsa kita, KH Agus Salim, bahkan sudah menyuarakan kekhawatirannya sejak puluhan tahun lalu, sebuah "ramalan" yang kini terbukti menjadi kenyataan pahit.

Siapa KH Agus Salim, Diplomat Visioner yang ‘Meramal’ Konflik Palestina?

banner 325x300

KH Agus Salim bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah seorang pahlawan nasional, diplomat ulung, dan intelektual brilian yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia di awal kemerdekaan, antara November 1947 hingga Januari 1948. Dikenal dengan pemikirannya yang tajam dan pandangan jauh ke depan, Agus Salim sudah melihat benih-benih konflik di Palestina jauh sebelum negara Israel berdiri.

Pada tahun 1936, ketika banyak orang mungkin belum menyadari potensi bahaya, Agus Salim sudah terang-terangan mengecam kebijakan Inggris dan negara-negara Barat. Ia mengkritik keras tindakan mereka yang memberikan lahan kepada kaum Yahudi, tanpa sedikit pun bertanya atau bermusyawarah dengan masyarakat Arab yang sudah lama berdiam di sana. Kecaman ini ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya yang dimuat di koran Pedoman Masjarakat.

Kecaman Tegas di Koran Pedoman Masjarakat 1936: Membongkar Kebohongan Inggris

Dalam artikelnya yang terbit pada 10 Juli 1936, atau 89 tahun silam, Agus Salim mengawali tulisannya dengan kabar kematian Jenderal Allenby. Allenby adalah jenderal Inggris yang memimpin Pasukan Ekspedisi Mesir (EEF) selama Kampanye Sinai dan Palestina dalam Perang Dunia I (1914-1918), yang berhasil menaklukkan Palestina dari Kesultanan Utsmaniyah Turki.

Agus Salim mengecam keras pernyataan Allenby yang menyebut kekalahan Turki di Palestina sebagai "Perang Salib yang Penghabisan." Bagi Salim, pernyataan itu adalah kebohongan besar dan sangat menyesatkan. Ia menegaskan bahwa Perang Dunia I sama sekali tidak pantas disamakan dengan perang salib, karena itu adalah konflik antar kekuatan Barat sendiri dan tidak melibatkan negara-negara Islam dalam esensinya.

Deklarasi Balfour dan ‘Benih Nista’ yang Menghancurkan Perdamaian

Setelah mengkritik pernyataan Allenby yang dinilainya bohong dan manipulatif, Agus Salim kemudian mengarahkan sorotannya pada Inggris. Ia menyalahkan Inggris yang dengan semena-mena memberikan wilayah Palestina kepada orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai negara Eropa. Ini adalah inti dari "benih yang salah dan nista" yang ia maksud.

"Benih yang salah dan nista itu segera pula bertambah jahatnya oleh keputusan Inggris mengadakan ‘negeri kediaman nasional’ bagi bangsa Yahudi di Palestina itu dengan tidak menanyai apalagi membawa musyawarah bangsa Arab yang sudah bernegeri di situ semenjak lebih dari 1.300 tahun," tulisnya, seperti dikutip dari buku "Seratus Tahun Haji Agus Salim" (Sinar Harapan, 1996). Pernyataan ini menunjukkan betapa jeli dan visionernya Agus Salim dalam melihat akar masalah.

Kebijakan Inggris yang dimaksud adalah Deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Deklarasi ini merupakan surat dari Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour kepada Lord Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Inggris, yang menyatakan dukungan Inggris untuk pembentukan "tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi" di Palestina. Deklarasi inilah yang menjadi dasar bagi imigrasi massal kaum Yahudi ke Palestina dan, pada akhirnya, pembentukan negara Israel.

Dari Koeksistensi Damai Menuju Tragedi Kemanusiaan: Ramalan yang Jadi Nyata

Sebelum adanya kebijakan Inggris yang kontroversial ini, Palestina adalah rumah bagi berbagai ras dan agama yang hidup berdampingan secara damai. Agus Salim menjelaskan bahwa semenjak kerajaan Islam berkuasa di Asia Kecil, Suriah, dan Palestina, semua golongan agama – Islam, Kristen, Yahudi, bahkan kaum Druze di pegunungan Suriah – hidup dengan aman dan damai.

Bangsa Yahudi yang menetap di Palestina saat itu tidak pernah terganggu keamanannya. Mereka hidup sebagai bagian dari masyarakat yang lebih besar, tanpa ada gesekan berarti. Namun, semua itu berubah drastis setelah Inggris memberikan tanah kepada bangsa Yahudi melalui Deklarasi Balfour. Inilah titik awal ketegangan dan konflik yang terus membara hingga hari ini.

Agus Salim dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan Inggris itu telah melukai hati rakyat Arab di Palestina. Ia melihat bahwa tindakan sepihak Inggris tersebut tidak hanya tidak adil, tetapi juga secara fundamental merusak tatanan sosial dan perdamaian yang telah terbangun selama berabad-abad. Ramalannya bahwa "benih nista" itu akan membawa kehancuran kini terbukti nyata dalam bentuk genosida dan kekejaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

Pelajaran Berharga dari Sejarah: Suara Hati Indonesia untuk Palestina

Kecaman keras KH Agus Salim 89 tahun silam adalah bukti nyata bahwa Indonesia, melalui para pemimpinnya, memiliki kepekaan dan keberanian untuk menyuarakan keadilan di panggung dunia. Pandangan visioner Agus Salim tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga menjadi cerminan dari prinsip dasar politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan menentang segala bentuk penjajahan serta penindasan.

Apa yang terjadi di Gaza saat ini, dengan segala puka-puka dan tragedi kemanusiaan yang tak berkesudahan, adalah konsekuensi langsung dari "benih nista" yang ditanam oleh Inggris dan negara-negara Barat di masa lalu. Kata-kata Agus Salim bukan sekadar kritik, melainkan sebuah peringatan dini yang sayangnya tidak diindahkan oleh dunia.

Mempelajari kembali pemikiran KH Agus Salim tentang Palestina bukan hanya sekadar menengok sejarah, tetapi juga memahami akar masalah konflik yang kompleks ini. Ini adalah pengingat bahwa suara keadilan, meskipun datang dari masa lalu, tetap bergema kuat dan relevan untuk masa kini. Indonesia, melalui suara para pahlawannya, selalu berdiri di sisi kemanusiaan dan keadilan, sebuah warisan yang harus terus kita jaga dan perjuangkan.

banner 325x300