banner 728x250

Israel ‘Bolos’ Rapat Darurat PBB Gaza: Alasan Tahun Baru Yahudi Bikin Geger!

Ruang sidang DK PBB dengan delegasi dari berbagai negara anggota.
Rapat DK PBB bahas krisis Gaza, Israel absen karena Rosh Hashanah.
banner 120x600
banner 468x60

Absen di Tengah Krisis Gaza yang Memanas

Israel membuat keputusan mengejutkan dengan menyatakan tidak akan hadir dalam rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang membahas situasi di Gaza. Pertemuan penting ini dijadwalkan pada Selasa, 23 September 2025, di tengah eskalasi konflik yang tak kunjung mereda di wilayah tersebut. Absennya Israel sontak menjadi sorotan dan menimbulkan berbagai pertanyaan di kancah diplomasi internasional.

banner 325x300

Alasan di balik ketidakhadiran delegasi Israel cukup spesifik dan mengundang perdebatan. Mereka berdalih bahwa jadwal rapat tersebut bertepatan dengan peringatan Rosh Hashanah, atau Tahun Baru Yahudi, salah satu hari raya terpenting dalam kalender agama Yahudi. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, secara terbuka menyatakan penyesalannya atas jadwal yang dianggapnya "sangat disesalkan" itu.

Mengapa Rapat Darurat Ini Begitu Penting?

Rapat darurat DK PBB ini diselenggarakan untuk membahas krisis kemanusiaan dan konflik yang terus berkecamuk di Gaza. Sebagai negara yang secara langsung terlibat dan terdampak oleh konflik tersebut, Israel sebenarnya telah diundang untuk menyampaikan pidatonya. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan perspektif langsung dan mungkin membuka ruang dialog.

Namun, dengan absennya Israel, pembahasan di DK PBB mungkin akan berjalan tanpa salah satu pihak kunci. Hal ini berpotensi mempersulit upaya pencarian solusi diplomatik yang komprehensif dan adil. DK PBB, sebagai badan utama PBB yang bertanggung jawab menjaga perdamaian dan keamanan internasional, memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak terkait untuk mencapai keputusan yang efektif.

Tahun Baru Yahudi: Prioritas Utama di Tengah Konflik?

Rosh Hashanah bukan sekadar perayaan biasa bagi umat Yahudi; ini adalah awal dari Hari Raya Suci yang penuh makna spiritual. Selama periode ini, banyak umat Yahudi beribadah dan berkumpul bersama keluarga, menjadikannya momen yang sangat sakral. Oleh karena itu, bagi Israel, peringatan ini memiliki prioritas yang sangat tinggi.

Dubes Danny Danon dalam pernyataan videonya pada Senin (22/9) menegaskan, "Sangat disayangkan Dewan Keamanan akan menggelar pertemuan tanpa Israel." Ia juga mengirimkan surat terpisah kepada presiden bergilir Dewan Keamanan PBB, menjelaskan bahwa delegasi Israel tidak akan berpartisipasi karena bentrok dengan Rosh Hashanah. Permintaan Israel untuk menjadwal ulang pertemuan ini sayangnya tidak dikabulkan.

Di Balik Panggung Diplomasi PBB yang Memanas

Ketidakhadiran Israel ini terjadi di tengah pekan tingkat tinggi PBB yang penuh gejolak diplomatik. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sendiri dijadwalkan akan berpidato di Majelis Umum PBB pada Jumat (26/9). Pidato Netanyahu ini sangat dinanti, terutama mengingat serangkaian pengakuan negara-negara Barat terhadap negara Palestina.

Perubahan kebijakan besar dari beberapa negara Barat ini telah memicu kemarahan dan kecaman keras dari Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu. Pengakuan terhadap Palestina sebagai negara berdaulat dianggap Israel sebagai langkah sepihak yang merusak prospek perdamaian. Situasi ini menambah kompleksitas dinamika politik di sekitar konflik Israel-Palestina.

Kilas Balik Konflik Gaza yang Tak Kunjung Usai

Konflik di Gaza yang menjadi fokus rapat darurat DK PBB ini berakar dari serangan mendadak Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut diklaim menewaskan 1.139 orang di Israel, memicu respons militer besar-besaran dari Negara Zionis. Sejak saat itu, Israel terus melancarkan serangan udara dan darat ke wilayah Gaza dengan dalih memburu Hamas dan menghancurkan infrastruktur kelompok tersebut.

Operasi militer Israel telah mengubah Gaza menjadi lautan reruntuhan. Wilayah yang padat penduduk ini luluh lantak akibat bombardir bertubi-tubi, menyebabkan kehancuran infrastruktur sipil yang masif. Blokade yang diterapkan Israel juga memperparah kondisi, membatasi masuknya bantuan kemanusiaan dan kebutuhan pokok bagi jutaan warga Gaza.

Korban Berjatuhan dan Krisis Kemanusiaan yang Mencekam

Dampak paling tragis dari konflik ini adalah jumlah korban jiwa yang terus bertambah. Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan setempat yang dikutip oleh Aljazeera, setidaknya 64.344 orang tewas di Gaza sejak Oktober 2023. Angka ini mencakup sebagian besar warga sipil, termasuk ribuan anak-anak dan perempuan, yang menjadi korban tak berdosa dari pertempuran.

Krisis kemanusiaan di Gaza mencapai titik yang mengkhawatirkan. Jutaan warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka, hidup dalam kondisi serba kekurangan di tenda-tenda pengungsian yang padat. Kelangkaan pangan, air bersih, obat-obatan, dan fasilitas medis menjadi masalah kronis. Kondisi ini memicu seruan global untuk gencatan senjata segera dan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.

Dampak Absennya Israel: Apa Kata Dunia?

Absennya Israel dari rapat sepenting ini tentu memiliki implikasi diplomatik yang signifikan. Keputusan ini dapat diinterpretasikan sebagai penolakan untuk berpartisipasi dalam dialog internasional mengenai konflik yang mereka sendiri terlibat di dalamnya. Hal ini berpotensi memperburuk citra Israel di mata komunitas internasional, terutama di tengah tekanan global untuk menghentikan kekerasan di Gaza.

DK PBB mungkin akan tetap melanjutkan rapat dan mengeluarkan resolusi atau pernyataan tanpa kehadiran Israel. Namun, efektivitas keputusan tersebut bisa dipertanyakan tanpa masukan langsung dari salah satu pihak utama. Ini bisa meningkatkan isolasi diplomatik Israel dan memperkuat narasi bahwa mereka tidak bersedia bekerja sama dalam mencari solusi damai.

Menanti Langkah Selanjutnya di Tengah Ketegangan

Meskipun absen dari rapat darurat DK PBB, dunia akan tetap menantikan pidato Perdana Menteri Netanyahu di Majelis Umum PBB beberapa hari kemudian. Pidato tersebut akan menjadi kesempatan bagi Israel untuk menjelaskan posisinya dan merespons tekanan internasional. Namun, dengan semakin banyaknya negara yang mengakui Palestina, posisi diplomatik Israel semakin rumit.

Konflik di Gaza tetap menjadi luka terbuka yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh dunia. Peran PBB dalam mencari solusi damai sangat krusial, dan partisipasi semua pihak, termasuk Israel, adalah kunci. Ketegangan diplomatik ini menunjukkan betapa peliknya upaya untuk mencapai perdamaian abadi di Timur Tengah.

banner 325x300