banner 728x250

Indonesia & Australia Resmi Jalin Pakta Keamanan: Siap Saling Bantu Jika Terancam, Mirip NATO?

indonesia australia resmi jalin pakta keamanan siap saling bantu jika terancam mirip nato portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Indonesia dan Australia baru saja menorehkan sejarah baru dalam hubungan bilateral mereka. Kedua negara resmi menyepakati sebuah traktat keamanan dan pertahanan bersama yang berpotensi mengubah lanskap stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Perjanjian ini memungkinkan Indonesia dan Australia untuk saling membantu jika salah satu pihak merasa keamanannya terancam oleh musuh, menandai era baru kerja sama yang lebih erat dan strategis.

Pakta Keamanan Bersejarah: Apa Isinya?

banner 325x300

Kesepakatan penting ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, bersama Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Momen bersejarah tersebut berlangsung di atas kapal perang HMAS Canberra, Sydney, pada Rabu, 12 Juni 2024, memberikan simbolisme kuat akan komitmen maritim kedua negara. Albanese menegaskan bahwa perjanjian bilateral baru tentang keamanan bersama ini telah melalui negosiasi substansial.

Ini bukan sekadar formalitas, melainkan komitmen serius untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah Indo-Pasifik yang semakin kompleks. Inti dari perjanjian ini adalah janji untuk berkonsultasi dan mempertimbangkan langkah-langkah yang dapat diambil, baik secara individu maupun bersama-sama, jika keamanan salah satu atau kedua negara terancam.

Era Baru Kemitraan: Visi PM Albanese

Menurut Albanese, traktat keamanan ini secara jelas menggambarkan era baru kemitraan antara Australia dan Indonesia, khususnya dalam sektor keamanan dan pertahanan. Kedua negara akan rutin berkonsultasi mengenai isu-isu keamanan yang menjadi perhatian bersama, menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Konsultasi ini akan dilakukan "on daily basis" pada tingkat kementerian, bahkan hingga ke level pemimpin negara.

PM Australia itu juga menuturkan bahwa perjanjian ini merupakan pengakuan kedua negara bahwa cara terbaik untuk mengamankan perdamaian dan stabilitas adalah dengan bertindak bersama. Komitmen ini diharapkan dapat menciptakan stabilitas yang lebih besar di kawasan yang strategis ini.

Mengenang Sejarah: Fondasi Perjanjian Lama

Perjanjian keamanan ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru, melainkan dibangun di atas fondasi yang sudah ada. Albanese menjelaskan bahwa traktat ini didasari oleh perjanjian keamanan yang diteken oleh PM Paul Keating dan Presiden Soeharto sekitar 30 tahun yang lalu, menunjukkan kontinuitas dalam visi strategis. Selain itu, kesepakatan ini juga dibangun berdasarkan Perjanjian Lombok 2006 (Lombok Treaty).

Perjanjian Lombok sendiri menegaskan kembali integritas dan kedaulatan wilayah Indonesia, menjadi fondasi penting bagi kerja sama keamanan yang lebih mendalam. Dengan demikian, traktat baru ini merupakan evolusi dari komitmen-komitmen sebelumnya, memperkuat kerangka kerja sama yang telah terjalin.

Mirip NATO? Ini Bedanya dan Persamaannya

Sekilas, traktat keamanan antara Indonesia dan Australia ini memang memiliki kemiripan dengan skema aliansi militer NATO di Eropa. Di NATO, serangan atau ancaman terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan dan ancaman terhadap seluruh negara anggota, memicu respons kolektif. Konsep "serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua" ini memungkinkan NATO untuk mengerahkan seluruh kekuatan militer negara anggota guna membantu negara yang menghadapi serangan musuh.

Namun, apakah traktat RI-Australia akan berfungsi persis seperti itu? Meskipun ada kemiripan dalam semangat saling bantu, detail pelaksanaan traktat keamanan RI-Australia ini masih belum sepenuhnya jelas. Perjanjian ini mungkin lebih berfokus pada konsultasi dan koordinasi respons, daripada otomatisasi pengerahan kekuatan militer seperti NATO. Perbedaan mendasar mungkin terletak pada tingkat integrasi militer dan komitmen pertahanan kolektif yang lebih eksplisit di NATO.

Traktat RI-Australia kemungkinan besar akan lebih fleksibel dan disesuaikan dengan konteks regional serta prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia. Ini berarti respons terhadap ancaman akan dipertimbangkan secara kasus per kasus, dengan mempertimbangkan kedaulatan dan kepentingan nasional masing-masing.

Prabowo: Tak Bisa Pilih Tetangga, Harus Saling Melengkapi

Presiden Prabowo Subianto menyambut baik kesepakatan traktat keamanan ini dengan optimisme yang tinggi. Ia menyatakan bahwa diskusi berjalan sangat baik dan menghasilkan perjanjian penting yang berkomitmen pada kerja sama erat di bidang pertahanan dan keamanan. Prabowo menyinggung filosofi penting bahwa negara tidak bisa memilih siapa tetangganya, sebuah realitas geopolitik yang harus dihadapi.

Oleh karena itu, Indonesia dan Australia, sebagai tetangga langsung, harus saling bekerja sama untuk melengkapi, terutama dalam bidang pertahanan dan keamanan. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas di kawasan. "Determinasi kami adalah menjaga hubungan terbaik untuk menjamin keamanan bagi kedua negara. Saya rasa, pada dasarnya, itulah tujuannya," ujar Prabowo.

Ia menambahkan, "Adalah nasib kita untuk menjadi tetangga langsung. Jadi mari kita hadapi nasib kita dengan tujuan terbaik. Saya percaya dengan good neighbour policy." Pernyataan ini menekankan pentingnya diplomasi dan kerja sama harmonis antarnegara bertetangga untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sejahtera.

Dampak Potensial bagi Kawasan Indo-Pasifik

Penandatanganan traktat keamanan ini memiliki implikasi yang signifikan bagi stabilitas dan dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Ini mengirimkan sinyal kuat tentang komitmen kedua negara untuk menjaga perdamaian di tengah meningkatnya ketegangan regional dan persaingan kekuatan besar. Kerja sama yang lebih erat antara dua kekuatan regional ini dapat menjadi penyeimbang penting, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan non-tradisional seperti kejahatan transnasional, terorisme, dan keamanan maritim.

Ini juga dapat mendorong negara-negara lain di kawasan untuk meningkatkan kerja sama keamanan bilateral atau multilateral mereka, menciptakan jaringan stabilitas yang lebih luas. Traktat ini berpotensi meningkatkan kapasitas pertahanan kedua negara melalui latihan bersama yang lebih intensif, pertukaran informasi intelijen yang lebih mendalam, dan pengembangan kapabilitas militer yang saling melengkapi. Hal ini akan memperkuat posisi Indonesia dan Australia sebagai aktor kunci dalam menjaga keamanan maritim dan regional, khususnya di jalur pelayaran vital.

Namun, di sisi lain, perjanjian ini juga mungkin memicu pertanyaan dari negara-negara lain tentang tujuan dan ruang lingkupnya, terutama jika tidak dikomunikasikan dengan jelas. Transparansi dan komunikasi yang efektif akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa traktat ini dipandang sebagai kontribusi positif terhadap stabilitas, bukan sebagai aliansi eksklusif yang berpotensi memecah belah.

Menanti Implementasi dan Tantangan ke Depan

Meskipun kesepakatan telah tercapai, tantangan terbesar ada pada implementasinya. Bagaimana mekanisme konsultasi harian akan berjalan secara praktis? Apa definisi spesifik dari "ancaman keamanan" yang akan memicu bantuan bersama, dan sejauh mana bentuk bantuan tersebut akan diberikan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab seiring berjalannya waktu dan detail teknis perjanjian dirumuskan dalam kerangka hukum yang lebih konkret.

Namun, satu hal yang pasti, traktat ini telah membuka babak baru yang transformatif dalam hubungan Indonesia-Australia. Ini adalah langkah maju yang berani, menunjukkan kemauan kedua negara untuk berinvestasi dalam keamanan bersama demi masa depan kawasan yang lebih stabil dan damai. Dunia kini menanti bagaimana "aliansi" baru ini akan membentuk lanskap geopolitik Indo-Pasifik dan memberikan kontribusi nyata bagi keamanan regional.

banner 325x300