banner 728x250

Haiti Mencekam! Puluhan Mayat Dimakan Anjing, Negara di Ambang Kehancuran Total

haiti mencekam puluhan mayat dimakan anjing negara di ambang kehancuran total portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Haiti kembali menjadi sorotan dunia dengan kabar yang sangat memilukan dan mengerikan. Lebih dari 50 nyawa melayang dalam serangan brutal kelompok kriminal di wilayah Cabaret pekan lalu. Yang lebih tragis, laporan menyebutkan mayat-mayat korban dibiarkan tergeletak dan menjadi santapan anjing liar.

Kondisi ini semakin memperparah krisis kemanusiaan dan keamanan yang telah lama melanda negara Karibia tersebut. Kekerasan geng yang tak terkendali kini mengancam untuk meruntuhkan struktur negara sepenuhnya.

banner 325x300

Serangan Brutal Viv Ansanm yang Mematikan

Jaringan Pertahanan Hak Asasi Manusia Nasional (RNDDH) merilis laporan mengejutkan mengenai insiden ini. Mereka mengonfirmasi bahwa serangan mematikan itu terjadi pada 11-12 September di beberapa area di Haiti, khususnya di kota Cabaret.

Kelompok kriminal yang dikenal dengan nama Viv Ansanm disebut-sebut sebagai dalang di balik pembantaian warga sipil ini. Mereka tidak hanya membunuh puluhan orang, tetapi juga membakar puluhan rumah penduduk, meninggalkan jejak kehancuran yang parah.

Laporan RNDDH secara eksplisit menyebutkan bahwa geng Viv Ansanm melakukan "pembantaian" terhadap penduduk lokal. Kekejaman ini menunjukkan tingkat kekerasan yang ekstrem dan tanpa ampun yang kini menjadi ciri khas konflik di Haiti.

Kondisi Mengerikan: Mayat Tak Terurus, Warga Mengungsi

Laporan RNDDH semakin memperparah suasana dengan mengungkapkan kondisi pasca-serangan. Hingga 14 September 2025, banyak korban yang masih belum ditemukan, sementara mayat-mayat yang tergeletak di semak-semak menjadi pemandangan yang tak terbayangkan.

Ketiadaan penanganan jenazah yang layak memaksa mayat-mayat tersebut menjadi santapan anjing liar, sebuah gambaran yang mencerminkan runtuhnya tatanan sosial dan kemanusiaan. Para penyintas berusaha menyelamatkan diri dengan segala cara, sebagian besar melarikan diri ke wilayah tetangga.

Ada pula yang nekat naik perahu, berharap bisa menemukan tempat aman dari kekejaman yang mereka alami. Trauma mendalam pasti membekas pada mereka yang berhasil lolos dari maut.

Cabaret sendiri merupakan kota yang strategis, berjarak sekitar 25 kilometer dari Ibu Kota Haiti, Port-au-Prince. Sejak tahun 2024, kota ini memang telah berada di bawah kendali geng Viv Ansanm, menandakan cengkeraman kelompok kriminal yang semakin kuat.

Haiti dalam Pusaran Konflik: Sejak Maret 2024

Kekerasan yang terjadi di Cabaret bukanlah insiden tunggal, melainkan bagian dari krisis yang lebih besar di Haiti. Negara ini telah bergejolak hebat sejak Maret 2024, ketika koalisi geng kriminal melancarkan serangan besar-besaran.

Target utama mereka adalah menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Ariel Henry, yang dianggap gagal mengatasi krisis. Serangan ini memicu gelombang kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengubah lanskap politik dan keamanan Haiti.

Saat ini, sebagian besar wilayah, termasuk Port-au-Prince dan area-area strategis lainnya, telah jatuh ke tangan geng kriminal. Situasi ini menciptakan kekosongan kekuasaan dan anarki yang meluas di seluruh negeri.

Geng-geng ini tidak hanya menguasai jalanan, tetapi juga mengendalikan pasokan makanan, bahan bakar, dan akses ke layanan dasar. Mereka menjadi kekuatan de facto yang menindas penduduk sipil.

Reaksi Internasional: PBB Mendesak Bantuan Segera

Melihat situasi yang semakin memburuk, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, tidak tinggal diam. Ia mengutuk keras serangan di Cabaret dan menyerukan komunitas internasional untuk bertindak cepat.

Guterres mendesak negara-negara anggota untuk "mempercepat upaya penguatan misi Dukungan Keamanan Multinasional." Bantuan logistik, personel, dan pendanaan sangat dibutuhkan untuk membantu Haiti keluar dari jurang kekerasan ini.

Bulan lalu, Guterres juga telah memperingatkan bahwa otoritas negara di Haiti sedang berada di ambang keruntuhan total akibat kekerasan kelompok kriminal. Peringatan ini menjadi semakin relevan dengan insiden mengerikan yang terjadi di Cabaret.

Dukungan internasional dianggap krusial untuk memulihkan ketertiban dan melindungi warga sipil yang tak berdaya. Namun, hingga kini, implementasi bantuan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan.

Masa Depan Haiti di Ujung Tanduk

Krisis di Haiti bukan hanya sekadar konflik lokal, melainkan tragedi kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius dari dunia. Dengan puluhan nyawa melayang, rumah-rumah terbakar, dan mayat-mayat yang tak terurus, masa depan Haiti tampak semakin suram.

Ancaman keruntuhan negara bukan lagi sekadar retorika, melainkan kenyataan yang menghantui setiap sudut negeri. Tanpa intervensi dan dukungan yang kuat, negara ini berisiko jatuh lebih dalam ke dalam jurang kekacauan yang tak berujung.

Pertanyaan besar kini adalah, sampai kapan penderitaan rakyat Haiti akan terus berlanjut? Dan apakah dunia akan menyaksikan kehancuran total sebuah negara tanpa bertindak lebih jauh?

banner 325x300