Dunia politik Amerika Serikat sedang dihebohkan dengan sebuah fakta mencengangkan. Sejumlah konglomerat dan miliarder dilaporkan telah menghamburkan dana fantastis, mencapai US$22 juta atau setara Rp367 miliar, hanya untuk menjegal satu nama: Zohran Mamdani. Sosok yang satu ini tengah menjadi sorotan karena ambisinya untuk menjadi Wali Kota New York, sebuah posisi yang ternyata membuat para elite kota dan negara bagian lain ketar-ketir.
Siapa Zohran Mamdani? Sosok yang Bikin Miliarder Ketar-ketir
Zohran Mamdani bukanlah politikus biasa. Ia adalah seorang kandidat progresif yang visi dan misinya sangat bertolak belakang dengan kepentingan para super kaya di Amerika Serikat. Kemenangannya dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada 24 Juni lalu menjadi pukulan telak bagi para penentangnya, meski sudah digelontorkan dana miliaran.
Mamdani dikenal dengan retorikanya yang tajam terhadap ketimpangan ekonomi dan kekuasaan korporasi. Ia berani menyuarakan bahwa masyarakat tidak membutuhkan miliarder, terutama di tengah kesenjangan sosial yang semakin melebar. Pandangan ini tentu saja menjadi ancaman serius bagi status quo yang dipegang teguh oleh para taipan.
Rp367 Miliar untuk Menjegal: Bagaimana Caranya?
Angka Rp367 miliar bukanlah jumlah yang sedikit. Dana sebesar itu digunakan untuk membanjiri warga New York dengan kampanye negatif anti-Mamdani. Berbagai platform, mulai dari iklan di media massa hingga surat-surat kampanye yang dikirim langsung ke rumah warga, semuanya bertujuan untuk merusak citra Mamdani dan menghalanginya meraih kursi Wali Kota.
Kampanye ini dirancang untuk menciptakan persepsi negatif tentang Mamdani di mata pemilih. Mereka berusaha menggambarkan Mamdani sebagai sosok yang terlalu radikal atau tidak realistis dalam janji-janji politiknya. Tujuannya jelas: membuat pemilih ragu dan mengalihkan dukungan mereka ke kandidat lain yang lebih "aman" bagi kepentingan elite.
Dana Fantastis yang Digelontorkan Sebelum Kemenangan Pendahuluan
Ironisnya, sebagian besar dana, sekitar US$13,6 juta atau Rp217 miliar, sudah digelontorkan bahkan sebelum Mamdani berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat. Ini menunjukkan betapa seriusnya para miliarder ini dalam upaya mereka untuk menghentikan laju Mamdani sejak awal. Mereka rela mengeluarkan uang tunai dalam jumlah besar, berharap bisa mematikan langkah Mamdani sebelum ia mendapatkan momentum.
Namun, strategi ini tampaknya tidak sepenuhnya berhasil. Kemenangan Mamdani di pemilihan pendahuluan membuktikan bahwa kekuatan uang tidak selalu bisa mendikte hasil akhir. Ini menjadi sinyal kuat bahwa ada pergeseran dinamika politik di New York, di mana suara rakyat bisa mengalahkan dominasi finansial.
Daftar Miliarder yang Ikut Patungan Menjegal Mamdani
Siapa saja para taipan yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi menjegal Mamdani? Daftarnya cukup panjang dan mencakup nama-nama besar di dunia bisnis AS. Investor Hedge Fund, Bill Ackman, menyumbang US$1,75 juta (sekitar Rp28 miliar) untuk kelompok penentang Mamdani. Sementara itu, pewaris bisnis kosmetik Ronald Lauder juga tak ketinggalan dengan sumbangan US$750 ribu (sekitar Rp12 miliar).
Mantan Wali Kota New York, Michael Bloomberg, menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan US$8,3 juta (Rp132,8 miliar) kepada kelompok Fix The City, Inc. pada Juni lalu, mendukung Andrew Cuomo. Ini menunjukkan bahwa pertarungan ini bukan hanya tentang Mamdani, tetapi juga tentang mempertahankan kendali politik oleh kelompok tertentu.
Tidak hanya itu, pendiri Netflix, Reed Hastings, dan pengusaha media Barry Diller juga ikut menyumbang masing-masing US$250 ribu (sekitar Rp4 miliar) ke kelompok yang sama sebelum pemilihan pendahuluan. Keterlibatan mereka menunjukkan betapa luasnya jaringan elite yang merasa terancam oleh kehadiran Mamdani.
Bahkan, pendukung Presiden Donald Trump seperti pengusaha kasino Steve Wynn menyumbang setengah juta dolar AS, dan taipan minyak John Hess menggelontorkan US$1 juta (Rp16 miliar) sejak Mei. Kehadiran nama-nama dari spektrum politik yang berbeda ini menggarisbawahi bahwa ancaman Mamdani dirasakan lintas faksi elite.
Menariknya, sumbangan tidak hanya datang dari New York. Miliarder dari luar kota seperti pewaris Walmart Texas, Alice Walton; pengusaha Hedge Fund Florida, Daniel Och (mantan warga New York); dan pengembang Boston, John Fish, juga turut berpartisipasi. Ini membuktikan bahwa posisi Wali Kota New York memiliki dampak simbolis yang besar, menarik perhatian dan dana dari para elite di seluruh penjuru Amerika Serikat. Mereka khawatir jika Mamdani berhasil, gelombang progresif serupa bisa menyebar ke kota-kota lain.
Visi Mamdani yang Bikin Panas Dingin Para Miliarder
Mamdani tidak segan-segan menyuarakan pandangannya yang radikal terhadap ketimpangan ekonomi. "Saya rasa kita tidak perlu memiliki miliarder," ujarnya kepada NBC News pada Juni lalu. Menurutnya, jumlah uang yang dimiliki para miliarder terlalu besar di tengah kesenjangan sosial yang semakin melebar saat ini. Pernyataan ini tentu saja membuat para elite gerah dan merasa terancam.
Dalam platform kampanyenya, Mamdani menjanjikan sejumlah program yang pro-rakyat kecil, seperti pembekuan sewa di apartemen subsidi, bus kota gratis, dan penyediaan layanan penitipan anak yang terjangkau. Janji-janji ini sangat menarik bagi mayoritas warga New York yang berjuang dengan biaya hidup tinggi, namun menjadi mimpi buruk bagi para pemilik properti dan pengusaha.
Program-program ini dirancang untuk meringankan beban ekonomi warga kelas menengah dan bawah. Pembekuan sewa akan memberikan stabilitas bagi penyewa, bus gratis akan mengurangi biaya transportasi, dan layanan penitipan anak akan membantu keluarga pekerja. Ini adalah janji-janji yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari warga.
Rencana Pendanaan yang Kontroversial: Pajak Tinggi untuk Orang Kaya
Lalu, dari mana Mamdani akan mendapatkan dana untuk merealisasikan janji-janji manisnya itu? Tentu saja dari kantong para orang kaya dan korporasi besar. Ia berencana menaikkan pajak penghasilan tertinggi di New York sebesar dua poin dan menaikkan pajak korporasi dari 7,25% menjadi 11,5%, meniru model yang diterapkan di New Jersey.
Inilah inti dari "perang" antara Mamdani dan para miliarder. Visi Mamdani secara langsung mengancam keuntungan dan kekayaan mereka, sehingga mereka mati-matian berusaha menjegalnya. Kenaikan pajak ini akan secara signifikan mengurangi pendapatan bersih para individu dan perusahaan terkaya di New York, yang selama ini menikmati tarif pajak yang relatif lebih rendah.
Rencana ini bukan hanya tentang menaikkan pajak, tetapi juga tentang redistribusi kekayaan. Mamdani percaya bahwa kekayaan yang terakumulasi di tangan segelintir orang harus digunakan untuk kepentingan publik yang lebih luas. Ide ini, meskipun populer di kalangan progresif, sangat ditentang oleh mereka yang akan menanggung beban pajak lebih besar.
Mengapa New York Begitu Penting? Simbol Kekuasaan dan Pengaruh
Posisi Wali Kota New York memiliki arti simbolis yang sangat besar, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di kancah global. New York adalah pusat keuangan, budaya, dan media dunia. Siapa pun yang menduduki kursi Wali Kota New York memiliki platform yang sangat kuat untuk menyuarakan ide-ide dan memengaruhi kebijakan di tingkat nasional.
Oleh karena itu, para miliarder dari berbagai negara bagian rela menggelontorkan dana untuk memengaruhi hasil pemilihan di kota ini. Mereka memahami bahwa jika seorang progresif seperti Mamdani berhasil memimpin New York, hal itu bisa menjadi preseden berbahaya dan memicu gerakan serupa di kota-kota besar lainnya. Ini adalah pertarungan untuk mempertahankan ideologi ekonomi dan politik yang mereka yakini.
Pertarungan David vs. Goliath Berlanjut
Kemenangan Zohran Mamdani di pemilihan pendahuluan Partai Demokrat adalah bukti bahwa kekuatan uang tidak selalu bisa membeli segalanya dalam politik. Namun, pertarungan ini belum berakhir. Dengan posisi Wali Kota New York yang memiliki arti simbolis dan strategis, para miliarder dipastikan tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan terus mencari cara untuk menghalangi Mamdani meraih kemenangan akhir.
Kisah Zohran Mamdani menjadi cerminan pertarungan klasik antara "David dan Goliath" di era modern, di mana seorang kandidat progresif berani menantang kemapanan dan kekuatan finansial yang luar biasa. Ini adalah pertarungan ideologi, kekuasaan, dan masa depan kota New York. Apakah Mamdani akan berhasil mewujudkan visinya dan benar-benar menjadi Wali Kota New York? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti, pertarungan ini akan terus menjadi sorotan publik dan menjadi salah satu kisah politik paling menarik tahun ini.


















