Suasana di Parlemen Belanda mendadak tegang pada Kamis (18/9) lalu, ketika seorang anggota DPR, Esther Ouwehand, diminta untuk mengganti pakaiannya. Bukan karena melanggar kode etik busana, melainkan karena blouse yang dikenakannya menampilkan warna bendera Palestina. Insiden ini sontak memicu perdebatan sengit tentang netralitas parlemen dan kebebasan berekspresi.
CNN Indonesia melaporkan pada Sabtu, 20 September 2025, bahwa kejadian ini bermula saat Ouwehand, yang dikenal vokal menyuarakan dukungan untuk Palestina, sedang berbicara dalam debat mengenai anggaran nasional. Namun, penampilannya dengan blouse berwarna merah, hijau, putih, dan hitam—yang jelas merepresentasikan bendera Palestina—membuat beberapa anggota lain dan pimpinan DPR keberatan.
Momen Panas di Tengah Debat Anggaran Nasional
Ketua DPR Belanda, Martin Bosma, langsung menyuarakan ketidaksetujuannya. "Saya merasa keberatan Anda sekarang berdiri di sini dengan bendera ini," katanya, seperti diberitakan Al Jazeera. Bosma menegaskan bahwa parlemen harus tetap netral, dan pernyataan politik apa pun melalui pakaian dianggap merusak netralitas tersebut.
Namun, Esther Ouwehand tidak tinggal diam. Ia dengan tegas membela pilihannya, menantang Bosma dan aturan yang disebutnya tidak jelas. "Saya membaca aturan dan tidak melihat yang menyatakan larangan menyampaikan pidato hari ini saat mengenakan blus berwarna merah, hijau, putih, dan hitam," jawab Ouwehand, menunjukkan bahwa ia telah mempersiapkan diri.
Bukan Sekadar Pakaian Biasa: Simbol Solidaritas yang Menggema
Bagi Ouwehand, pakaiannya bukan sekadar mode, melainkan sebuah pernyataan politik yang kuat. Di ruang sidang DPR, ia kembali menegaskan pentingnya menempatkan warga Gaza, kelompok rentan yang tidak bisa membela diri, sebagai pusat perhatian. "Kami berdiri di sini sebagai bentuk solidaritas untuk Palestina," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemajuan hanya bisa dicapai jika keberanian menempatkan kelompok paling rentan sebagai prioritas utama. "Saya akan sangat menghargai jika saya dapat memberikan kontribusi tanpa harus berganti pakaian," kata Ouwehand. Namun, Bosma bersikeras, "Sekali lagi, saya ingin meminta Anda untuk berganti pakaian lain lalu kembali lagi."
Pesan Tersembunyi di Balik Motif Semangka yang Ikonik
Setelah perdebatan sengit itu, Ouwehand akhirnya meninggalkan ruang parlemen. Banyak yang mungkin mengira ia akan menyerah dan mengenakan pakaian netral. Namun, Ouwehand kembali dengan sebuah kejutan yang lebih cerdas dan penuh makna.
Ia muncul mengenakan kemeja berwarna merah muda dengan bintik-bintik hitam, dipadukan dengan celana hijau. Sekilas, mungkin terlihat seperti pakaian biasa, tetapi bagi mereka yang memahami simbolisme perjuangan Palestina, ini adalah pesan yang jauh lebih dalam. Setelan tersebut merepresentasikan semangka, buah yang sudah sejak 1960-an digunakan sebagai simbol dukungan bagi warga Palestina.
Mengapa Semangka? Kisah di Balik Simbol Perlawanan
Penggunaan semangka sebagai simbol ini memiliki sejarah panjang dan mengharukan. Pada tahun 1967, selama Perang Enam Hari dengan Mesir, Suriah, dan Yordania, pemerintah Israel melarang pengibaran bendera Palestina. Larangan ini membuat warga Palestina mencari cara lain untuk mengekspresikan identitas dan solidaritas mereka.
Buah semangka menjadi pilihan yang sempurna karena warnanya yang mencakup seluruh warna bendera Palestina: merah pada dagingnya, hitam pada bijinya, putih pada kulit bagian dalam, dan hijau pada kulit luarnya. Dengan mengenakan motif semangka, Ouwehand tidak hanya menghindari larangan langsung, tetapi juga mengirimkan pesan yang lebih halus namun kuat, merangkul sejarah perlawanan damai dan identitas Palestina.
Suara Lantang Esther Ouwehand untuk Kemanusiaan di Gaza
Esther Ouwehand bukan nama baru dalam menyuarakan isu kemanusiaan. Ia merupakan salah satu dari sedikit politikus Belanda yang secara konsisten dan vokal menyuarakan dukungan untuk Gaza. Partainya, Partij voor de Dieren (PvdD) atau Partai untuk Hewan, berulang kali menyuarakan dukungan gencatan senjata di Gaza.
Sikapnya ini menunjukkan komitmennya yang kuat terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, melampaui batasan politik partai. Tindakannya di parlemen, baik dengan blouse bendera Palestina maupun motif semangka, adalah manifestasi nyata dari keyakinan tersebut, menjadikannya ikon solidaritas di mata banyak orang.
Ketika Aturan Parlemen Bertemu Kebebasan Berekspresi
Insiden ini juga menyoroti konvensi parlemen Belanda yang menetapkan bahwa anggota DPR tidak boleh menyampaikan pesan politik melalui pakaian atau atribut mereka. Media Belanda de Volkskrant memberitakan bahwa anggota parlemen harus tampil netral, menjaga integritas dan objektivitas lembaga legislatif.
Ini bukan kali pertama parlemen Belanda menghadapi isu serupa. Sidang DPR Belanda baru-baru ini juga sempat ditangguhkan setelah seorang anggota sayap kanan FVD mengenakan cetakan anti-aborsi yang kontroversial. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar: di mana batas antara netralitas yang diharapkan dari seorang legislator dan hak individu untuk berekspresi, terutama dalam isu-isu yang sangat mendesak dan relevan secara global?
Resonansi Global dan Pertanyaan tentang Batasan Etika
Tindakan Esther Ouwehand dan respons parlemen Belanda ini tidak hanya menjadi berita lokal, tetapi juga resonansi global. Di era media sosial, pesan simbolis seperti ini dapat menyebar dengan cepat, memicu diskusi tentang kebebasan berekspresi, peran politisi, dan solidaritas internasional. Banyak yang memuji keberanian Ouwehand, sementara yang lain mendukung aturan parlemen demi menjaga ketertiban.
Insiden ini bukan hanya tentang sehelai kain, melainkan tentang perjuangan untuk bersuara dan menegaskan posisi di tengah tekanan. Esther Ouwehand telah menunjukkan bahwa bahkan dalam batasan aturan, ada cara-cara kreatif dan bermakna untuk menyampaikan pesan solidaritas yang mendalam, meninggalkan jejak pertanyaan tentang etika dan batasan ekspresi di panggung politik dunia.


















