Dunia internasional kembali dihebohkan dengan serangkaian peristiwa geopolitik yang menguras perhatian. Empat negara Barat yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, yakni Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal, secara mengejutkan kompak mengakui kemerdekaan negara Palestina. Keputusan ini sontak memicu reaksi keras dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang merasa keberatan dan menganggap langkah tersebut membahayakan negaranya.
Di sisi lain, ketegangan di Eropa juga memuncak setelah Aliansi Pertahanan Negara Atlantik Utara (NATO) harus menggelar rapat darurat. Pertemuan penting ini dilakukan menyusul provokasi jet tempur dan drone Rusia yang dilaporkan menerobos wilayah udara tiga negara Eropa, menimbulkan kekhawatiran serius akan keamanan regional. Dua isu besar ini menjadi sorotan utama yang menggambarkan dinamika politik global yang semakin kompleks dan penuh tantangan.
Empat Sekutu AS Kompak Akui Palestina: Sebuah Pergeseran Penting
Pada Minggu (21/9) lalu, dunia dikejutkan dengan pengumuman dari Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal yang secara resmi mengakui Negara Palestina. Langkah ini diambil menjelang Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang akan segera digelar pekan ini, memberikan sinyal kuat tentang pergeseran dukungan global terhadap Palestina. Pengakuan ini menambah panjang daftar negara yang mendukung pembentukan tanah air Palestina, kini mencapai lebih dari 140 negara.
Keputusan keempat negara Barat ini memiliki bobot tersendiri, mengingat posisi mereka sebagai sekutu dekat Amerika Serikat yang selama ini cenderung mendukung Israel. Inggris, misalnya, menyatakan bahwa pengakuan negara Palestina adalah upaya untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian bagi Palestina dan Israel. Mereka melihat solusi dua negara sebagai kunci utama untuk mencapai stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.
Senada dengan Inggris, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese juga menegaskan pentingnya menghentikan siklus kekerasan yang terus terjadi di Gaza. Baginya, pengakuan Palestina adalah bagian dari upaya global untuk menekan pihak-pihak yang berkonflik agar kembali ke meja perundingan dan mencari solusi damai. Dukungan dari negara-negara berpengaruh ini diharapkan dapat memberikan momentum baru bagi upaya perdamaian yang selama ini terhenti.
Netanyahu Meradang: “Membahayakan Kelangsungan Hidup Israel”
Tak butuh waktu lama, reaksi keras pun datang dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia secara terbuka menyatakan kemarahannya atas keputusan Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal yang mengakui Negara Palestina. Netanyahu berargumen bahwa pembentukan negara Palestina akan secara langsung membahayakan kelangsungan hidup Israel, mengancam keamanan nasional mereka di tengah konflik yang tak berkesudahan.
Dalam pernyataannya, Netanyahu berjanji akan menentang keras upaya pengakuan Palestina ini dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pekan ini. Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan tinggal diam dan akan terus memperjuangkan kepentingannya. Bahkan, Netanyahu secara gamblang menyatakan bakal terus memperluas permukiman Yahudi di wilayah Tepi Barat yang diduduki, sebuah langkah yang kerap menjadi pemicu ketegangan dengan Palestina.
Sikap Netanyahu ini mencerminkan pandangan garis keras pemerintahannya yang menolak solusi dua negara jika dianggap mengancam keamanan Israel. Bagi Netanyahu, pengakuan Palestina tanpa jaminan keamanan yang kuat adalah sebuah kesalahan fatal. Ini menunjukkan betapa dalamnya perbedaan pandangan antara Israel dengan sebagian besar komunitas internasional terkait masa depan Palestina.
NATO Rapat Darurat: Ancaman Jet dan Drone Rusia di Eropa
Di tengah hiruk pikuk pengakuan Palestina, Eropa juga dilanda ketegangan serius yang memaksa Aliansi Pertahanan Negara Atlantik Utara (NATO) untuk menggelar rapat darurat. Pertemuan penting ini dijadwalkan pada Selasa (23/9) sebagai respons terhadap serangkaian provokasi yang dilakukan oleh jet tempur dan drone Rusia di wilayah udara tiga negara Eropa. Insiden ini memicu kekhawatiran serius akan eskalasi konflik di benua biru.
Permintaan untuk menggelar rapat darurat ini datang dari Estonia, salah satu negara Eropa terbaru yang menghadapi provokasi Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Estonia meminta konsultasi darurat NATO berdasarkan Pasal 4 dari traktat aliansi tersebut. Pasal 4 memungkinkan setiap negara anggota untuk meminta pembahasan darurat ketika merasa "integritas teritorial, kemerdekaan politik, atau keamanannya" berada dalam ancaman musuh.
Ini bukan kali pertama Pasal 4 diaktifkan. Pertemuan darurat NATO kali ini akan menjadi rapat ketiga yang dilakukan berdasarkan pengajuan Pasal 4 sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada tahun 2022. Frekuensi aktivasi pasal ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dirasakan oleh negara-negara anggota NATO terhadap agresi Rusia, dan betapa tegangnya situasi keamanan di Eropa saat ini.
Provokasi yang dilakukan oleh jet tempur dan drone Rusia ini bukan hanya sekadar pelanggaran wilayah udara. Bagi negara-negara Eropa, ini adalah sinyal peringatan akan potensi ancaman yang lebih besar, terutama mengingat konflik yang masih berlangsung di Ukraina. Kekhawatiran akan meluasnya konflik dan destabilisasi regional menjadi alasan utama di balik urgensi rapat darurat NATO ini.
Dua Isu, Satu Benang Merah: Geopolitik yang Bergejolak
Dua peristiwa besar ini, pengakuan Palestina oleh sekutu AS dan rapat darurat NATO terkait provokasi Rusia, menggambarkan betapa dinamis dan tidak terduganya lanskap geopolitik global saat ini. Keduanya menunjukkan adanya pergeseran aliansi, peningkatan ketegangan, dan kebutuhan mendesak akan solusi diplomatik yang efektif. Dunia seolah-olah berada di persimpangan jalan, di mana setiap keputusan memiliki konsekuensi besar bagi perdamaian dan stabilitas global.
Pengakuan Palestina oleh negara-negara Barat bisa menjadi katalisator baru dalam upaya perdamaian Timur Tengah, sekaligus menekan Israel untuk mempertimbangkan kembali kebijakannya. Sementara itu, respons NATO terhadap provokasi Rusia menegaskan komitmen aliansi untuk menjaga keamanan anggotanya di tengah ancaman yang nyata. Kedua isu ini akan terus menjadi sorotan utama dalam agenda internasional, membentuk narasi masa depan dunia yang penuh tantangan.


















