banner 728x250

Geger G20! Kesetaraan Gender Butuh 134 Tahun, Indonesia Desak Perubahan Sekarang!

geger g20 kesetaraan gender butuh 134 tahun indonesia desak perubahan sekarang portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dunia sedang tidak baik-baik saja dalam urusan kesetaraan gender. Laporan Global Gender Gap Report 2024 baru-baru ini mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: planet kita baru mencapai 68,5 persen terkait kesetaraan gender. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari ketimpangan yang masih mengakar kuat di berbagai belahan dunia.

Lebih mirisnya lagi, laporan tersebut memproyeksikan bahwa kita membutuhkan waktu hingga 134 tahun untuk menutup kesenjangan gender sepenuhnya. Bayangkan, lebih dari satu abad! Sebuah durasi yang terasa sangat panjang, terutama bagi mereka yang mendambakan perubahan segera.

banner 325x300

Alarm Merah dari Johannesburg: Indonesia Bersuara Tegas

Fakta mencengangkan ini menjadi sorotan utama perwakilan Indonesia, Rinawati Prihatiningsih, yang juga menjabat sebagai Co-Chair G20 EMPOWER Indonesia. Dalam pertemuan penting G20 Empowerment of Women Working Group (EWWG) dan G20 EMPOWER Alliance di Johannesburg, Afrika Selatan, Rina menyampaikan pesan yang tegas dan lugas.

"Kita tidak bisa menunggu 134 tahun untuk kesetaraan gender," ujar Rina dalam keterangan tertulisnya. Ia menegaskan bahwa perempuan harus menjadi bagian integral dari ekonomi masa depan, bukan nanti, melainkan sekarang juga. Ini adalah seruan untuk aksi nyata, bukan sekadar wacana.

Mengapa 134 Tahun Terlalu Lama? Dampak Nyata Ketimpangan Gender

Angka 134 tahun bukan hanya soal menunggu, tetapi juga soal kerugian besar yang ditanggung oleh masyarakat global. Ketika perempuan tidak memiliki akses dan kesempatan yang setara, potensi ekonomi dan inovasi sebuah negara akan terhambat. Ini berarti miliaran dolar potensi ekonomi hilang begitu saja setiap tahunnya.

Ketimpangan gender juga berdampak pada kualitas hidup individu. Perempuan seringkali menghadapi diskriminasi dalam pendidikan, pekerjaan, hingga akses kesehatan. Ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan dan ketidakberdayaan yang sulit diputus, memengaruhi generasi demi generasi.

G20 EMPOWER: Penjaga Momentum Kesetaraan

Indonesia sangat menyadari pentingnya menjaga kesinambungan G20 EMPOWER. Forum ini merupakan platform krusial untuk mendorong kemajuan perempuan di tingkat global. Namun, sempat terjadi jeda pada tahun 2024, yang menimbulkan kekhawatiran akan mundurnya komitmen global terhadap isu ini.

"Jeda pada 2024 mengingatkan kita bahwa momentum adalah aset," kata Rina. Indonesia secara aktif mendorong mekanisme yang memastikan tidak ada lagi jeda komitmen di masa depan. Apresiasi pun diberikan kepada Afrika Selatan yang telah berhasil menyalakan kembali energi kolektif ini.

"Positive Masculinity": Mengajak Pria Bergerak Bersama

Salah satu pendekatan menarik yang disoroti adalah konsep "positive masculinity" dari Presidensi Afrika Selatan. Pendekatan ini menekankan pentingnya melibatkan laki-laki sebagai mitra strategis dalam upaya mencapai kesetaraan gender. Ini selaras dengan nilai gotong royong yang kuat di Indonesia.

Rina meyakini bahwa perubahan akan terjadi lebih cepat dan lebih berkelanjutan ketika perempuan dan laki-laki bergerak bersama. Keterlibatan pria bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai agen perubahan aktif, adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.

Kemitraan Publik-Swasta: Kunci Keberlanjutan Perubahan

Indonesia juga mendorong agar kemitraan publik-swasta dalam G20 EMPOWER menjadi mekanisme permanen. Targetnya, kemitraan ini harus terus berjalan hingga tahun 2030 dan seterusnya. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang untuk memastikan bahwa upaya pemberdayaan perempuan tidak hanya bersifat sporadis.

Keterlibatan sektor swasta sangat vital. Mereka memiliki sumber daya, inovasi, dan jangkauan yang luas untuk menciptakan peluang kerja yang setara, mengembangkan kebijakan inklusif, dan mendukung perempuan dalam kepemimpinan. Sinergi antara pemerintah dan swasta adalah fondasi kuat untuk masa depan yang lebih baik.

Indonesia di Garis Depan: Dorongan Partisipasi Ekonomi Perempuan

Di sela-sela agenda utama, Indonesia juga aktif melakukan pertemuan bilateral dengan berbagai negara seperti Arab Saudi, Meksiko, Norwegia, dan Prancis. Tujuannya jelas: memperkuat komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan pemberdayaan perempuan lintas negara.

"Ketika perempuan maju, bangsa ikut maju. Indonesia hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai mitra global," tegas Rina. Ini menunjukkan posisi Indonesia yang proaktif dan kepemimpinan dalam mendorong agenda kesetaraan gender di kancah internasional.

Tantangan dan Harapan untuk Indonesia

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Deputi Bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA, Amurwani Dwi Lestariningsih. Ia menyerukan upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja hingga 25 persen dan mengoptimalkan kemampuan pengelolaan keuangan perempuan untuk mengurangi angka kesenjangan gender.

Amurwani menjelaskan bahwa Brisbane Goal telah menjadi target acuan bagi negara-negara G20 untuk mengurangi kesenjangan gender melalui peningkatan partisipasi angkatan kerja. Berkat upaya bersama, kesenjangan tersebut telah menurun dari 22,2 persen pada tahun 2012 menjadi 18 persen pada 2024. Ini adalah kemajuan, namun masih jauh dari kata ideal.

Pekerjaan Rumah yang Belum Merata

Meski beberapa negara anggota G20 telah membuat kemajuan luar biasa dalam menangani hambatan struktural bagi partisipasi kerja perempuan, kemajuan ini belum merata. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, angka Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan masih berada pada kisaran 50 persen.

Angka ini sangat kontras dengan TPAK laki-laki yang telah melampaui 80 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mulai dari akses pendidikan yang lebih baik, kebijakan cuti melahirkan yang mendukung, hingga lingkungan kerja yang bebas diskriminasi.

Masa Depan Kesetaraan Gender: Bukan Hanya Mimpi

Melihat tantangan 134 tahun yang membayangi, seruan Indonesia di G20 menjadi sangat relevan. Kesetaraan gender bukan hanya isu moral, melainkan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan dan kemajuan peradaban. Kita tidak bisa menunggu lebih dari satu abad untuk mencapai keadilan yang seharusnya sudah ada sejak lama.

Dengan komitmen kuat dari pemerintah, dukungan sektor swasta, dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, mimpi kesetaraan gender bisa terwujud lebih cepat. Bukan 134 tahun lagi, melainkan dalam waktu yang lebih singkat, demi masa depan yang lebih cerah bagi semua.

banner 325x300