Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, kembali menyuarakan keprihatinannya yang mendalam atas konflik di Gaza. Dengan nada tegas dan penuh keprihatinan, ia menentang segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina, menyusul intensifikasi serangan Israel terhadap Kota Gaza yang kian memprihatinkan. Pernyataan ini disampaikan di tengah situasi kemanusiaan yang makin memburuk dan kekerasan yang tak berkesudahan, memicu perhatian global terhadap krisis yang tak kunjung usai.
Ini bukan sekadar seruan moral, melainkan peringatan keras yang menggema dari Takhta Suci. Dunia kini menanti, apakah seruan kemanusiaan ini akan mampu menghentikan spiral kekerasan yang telah merenggut begitu banyak nyawa.
Peringatan Keras dari Takhta Suci
Dalam doa Angelus mingguannya yang khusyuk di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada Minggu (21/9/2025), Paus Leo XIV menyampaikan pesan yang menggema ke seluruh dunia. Di hadapan ribuan umat yang berkumpul, ia menegaskan dengan lugas bahwa "tidak ada masa depan yang dibangun di atas kekerasan, pengungsian paksa, dan balas dendam." Kata-kata ini bukan hanya retorika keagamaan, melainkan refleksi mendalam atas penderitaan yang ia saksikan.
Pesan Paus Leo XIV ini datang pada saat yang krusial, di mana dunia menyaksikan penderitaan tak berujung di Jalur Gaza. Ia menekankan pentingnya perdamaian sejati, yang hanya bisa dicapai melalui penghormatan terhadap martabat manusia dan keadilan bagi semua. Suara Paus menjadi mercusuar harapan di tengah kegelapan konflik, menyerukan kesadaran kolektif untuk menghentikan spiral kekerasan yang tak berujung.
Mengapa Paus Leo XIV Begitu Lantang?
Peran Paus Leo XIV dalam mengadvokasi perdamaian di Gaza memang menjadi semakin kuat dan vokal belakangan ini, didorong oleh serangkaian peristiwa tragis. Titik baliknya terjadi pada bulan Juli 2025, ketika satu-satunya gereja Katolik di wilayah tersebut diserang oleh Israel. Insiden ini tidak hanya mengguncang komunitas Kristen di seluruh dunia, tetapi juga menyoroti kerentanan minoritas agama di zona konflik.
Sebagai Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat, Paus Leo XIV membawa perspektif unik ke Takhta Suci, menggabungkan kepemimpinan spiritual dengan pemahaman yang mendalam tentang dinamika geopolitik global. Komitmennya terhadap keadilan dan perdamaian global telah menjadi ciri khas kepemimpinannya, membuatnya menjadi suara yang dihormati di panggung internasional. Ia tidak segan menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu tidak populer di kalangan tertentu.
"Masyarakat membutuhkan perdamaian. Mereka yang benar-benar mencintai masyarakat bekerja untuk perdamaian," tambah Paus, seperti yang dilansir oleh Al Jazeera. Kata-kata ini bukan hanya retorika, melainkan cerminan dari keyakinan mendalamnya bahwa solusi militer tidak akan pernah membawa kedamaian abadi. Ia menyerukan agar semua pihak mengedepankan dialog, empati, dan kemanusiaan di atas segalanya.
Dampak Pengungsian Paksa: Luka yang Tak Terlihat
Penolakan Paus terhadap "pengungsian paksa" bukan tanpa alasan kuat yang mendasarinya. Pengungsian paksa berarti hilangnya rumah, identitas, dan komunitas bagi ribuan, bahkan jutaan orang. Ini bukan hanya tentang kehilangan tempat tinggal fisik, tetapi juga trauma psikologis mendalam yang akan membekas selama bertahun-tahun, bahkan lintas generasi, merusak fondasi kehidupan mereka.
Paus Leo XIV memahami bahwa pemindahan paksa seringkali digunakan sebagai alat perang, yang secara fundamental melanggar hukum humaniter internasional. Tindakan semacam ini menciptakan krisis kemanusiaan yang lebih parah, memecah belah keluarga, dan memperdalam jurang kebencian yang sulit disembuhkan. Ia melihatnya sebagai penghalang utama bagi setiap upaya perdamaian yang tulus dan berkelanjutan.
Baginya, setiap individu memiliki hak asasi untuk hidup di tanah leluhurnya dengan aman dan bermartabat. Memaksa mereka pergi adalah bentuk kekerasan yang sama merusaknya dengan serangan fisik, merampas hak dasar mereka untuk menentukan nasib sendiri dan hidup dalam kebebasan. Seruan Paus ini adalah pengingat akan pentingnya melindungi warga sipil di tengah konflik bersenjata, tanpa memandang latar belakang mereka.
Situasi Kemanusiaan di Gaza yang Mencekam
Pernyataan Paus Leo XIV ini disampaikan di tengah eskalasi kampanye militer Israel yang terus meningkat di Gaza, yang kini berfokus pada intensifikasi serangan terhadap Kota Gaza. Wilayah tersebut kini menjadi saksi bisu perang yang telah berlangsung hampir dua tahun tanpa henti, meninggalkan jejak kehancuran yang tak terbayangkan di setiap sudutnya. Serangan udara dan darat yang tiada henti telah meluluhlantakkan infrastruktur vital, termasuk rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah.
Konflik berkepanjangan ini telah merenggut lebih dari 65.000 nyawa tak berdosa, sebuah angka yang terus bertambah setiap harinya, mencerminkan skala tragedi yang mengerikan. Kondisi kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik kritis, bahkan bisa dibilang bencana kemanusiaan total. Akses terhadap makanan, air bersih, listrik, dan layanan kesehatan sangat terbatas, membuat jutaan orang hidup dalam kondisi yang tidak layak dan penuh penderitaan.
Warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan, menjadi korban utama dari krisis yang tak berkesudahan ini. Mereka hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian setiap saat, dengan ancaman kematian yang mengintai di setiap sudut jalan. Organisasi-organisasi kemanusiaan internasional berulang kali menyuarakan kekhawatiran mereka, namun upaya bantuan seringkali terhambat oleh blokade dan konflik, memperparah penderitaan yang sudah ada dan membuat situasi makin putus asa.
Seruan Abadi untuk Perdamaian dan Rekonsiliasi
Sejak awal konflik, Paus Leo XIV tidak pernah berhenti menyerukan diakhirinya kekerasan di wilayah tersebut, menegaskan bahwa perdamaian adalah satu-satunya jalan ke depan yang bermartabat. Ia secara konsisten mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan, mencari jalan dialog yang konstruktif, dan mempraktikkan rekonsiliasi sebagai satu-satunya solusi yang berkelanjutan dan adil bagi semua pihak. Baginya, martabat manusia adalah fondasi utama perdamaian yang abadi.
Paus percaya bahwa konflik ini tidak dapat diselesaikan dengan senjata, melainkan dengan hati dan pikiran yang terbuka, serta kemauan politik yang kuat dari para pemimpin. Ia mengajak para pemimpin dunia untuk menyingkirkan kepentingan politik sesaat dan fokus pada kesejahteraan rakyat yang menderita, yang menjadi korban utama dari setiap konflik. Tanpa penghormatan terhadap hak asasi manusia dan keadilan, perdamaian hanyalah ilusi yang fana dan tidak akan pernah bertahan lama.
Seruan Paus Leo XIV ini adalah pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk perang, masih ada suara-suara yang menyerukan kemanusiaan dan empati. Ia mengingatkan bahwa setiap individu, tanpa memandang latar belakang agama atau etnis, memiliki hak untuk hidup dalam damai dan aman, bebas dari ancaman kekerasan dan pengungsian. Semoga seruan ini dapat menggerakkan hati para pengambil keputusan untuk segera mengakhiri penderitaan di Gaza dan membangun masa depan yang lebih baik bagi semua, berdasarkan keadilan dan kasih sayang.


















