Langkah diplomatik mengejutkan datang dari Pasifik. Fiji, sebuah negara kepulauan yang indah, secara resmi meresmikan kedutaan besar pertamanya di Yerusalem pada Rabu (17/9/2025). Keputusan ini sontak menarik perhatian dunia, mengingat status Yerusalem yang masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Perdana Menteri Fiji, Sitiveni Rabuka, memimpin langsung upacara peresmian yang berlangsung di Kementerian Luar Negeri Israel. Ia didampingi oleh Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, yang menyambut hangat kehadiran misi diplomatik baru ini.
Mengapa Fiji Mengambil Langkah Ini?
Dalam pidatonya, PM Rabuka menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas ikatan istimewa, persahabatan, dan hubungan yang langgeng antara Fiji dan Negara Israel. Pembukaan kedutaan ini menjadi simbol nyata dari komitmen Fiji untuk mempererat hubungan bilateral.
Menteri Luar Negeri Gideon Saar tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia memuji keputusan Fiji sebagai "keputusan yang berani, bermoral, dan bersejarah," menandakan betapa pentingnya langkah ini bagi Israel di panggung internasional.
Keputusan Fiji ini tidak datang tanpa alasan. Selain memperkuat hubungan bilateral, ada spekulasi bahwa Fiji mungkin melihat potensi keuntungan ekonomi, teknologi, atau bahkan dukungan politik dari Israel dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat. Banyak negara Pasifik juga memiliki ikatan keagamaan yang kuat, dengan komunitas Kristen evangelis yang seringkali memiliki pandangan pro-Israel.
Kontroversi Status Yerusalem: Akar Masalah yang Tak Kunjung Usai
Pembukaan kedutaan di Yerusalem selalu menjadi isu yang sangat sensitif. Ini karena status kota tersebut masih dipersengketakan secara luas oleh komunitas internasional. Israel mengklaim seluruh Yerusalem sebagai ibu kota abadi dan tak terpisahkan.
Namun, Palestina menginginkan Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua yang sakral bagi tiga agama monoteistik, sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Konflik ini berakar dari pendudukan Israel atas Yerusalem Timur sejak Perang Enam Hari pada tahun 1967, yang kemudian dianeksasi dalam sebuah langkah yang tidak diakui oleh mayoritas negara di dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar negara-negara di dunia menganggap Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan. Oleh karena itu, sebagian besar negara menempatkan kedutaan besar mereka di Tel Aviv, sebagai bentuk penolakan terhadap aneksasi Israel dan untuk menjaga netralitas dalam proses perdamaian.
Jejak Kontroversial AS dan Dampaknya pada Diplomasi Global
Fiji bukanlah negara pertama yang mengambil langkah berani ini. Keputusan mereka mengikuti jejak kontroversial yang pertama kali dipelopori oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Pada tahun 2017, Trump secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Keputusan Trump memicu gelombang kemarahan dari Palestina dan sebagian besar komunitas internasional. Namun, langkah itu juga membuka jalan bagi negara-negara lain untuk mempertimbangkan hal serupa. Pada 14 Mei 2018, AS secara resmi memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem.
Setelah AS, beberapa negara lain turut mengikuti. Guatemala menjadi yang pertama, mengumumkan pemindahan kedutaan mereka dua hari setelah AS. Disusul kemudian oleh Honduras, Kosovo, Paraguay, dan Papua Nugini yang meresmikan kedutaannya pada September 2023. Argentina bahkan telah berjanji akan mengikuti jejak ini pada tahun 2026.
Apa Implikasi Keputusan Fiji?
Langkah Fiji ini, meskipun datang dari negara kecil, memiliki implikasi yang cukup signifikan dalam dinamika politik global dan regional.
Bagi Hubungan Israel-Fiji
Pembukaan kedutaan ini jelas akan memperkuat hubungan bilateral antara Israel dan Fiji. Israel kemungkinan akan melihat ini sebagai kemenangan diplomatik penting, yang dapat membuka pintu bagi kerja sama lebih lanjut dalam bidang ekonomi, pertanian, pariwisata, atau bahkan keamanan. Bagi Fiji, ini bisa berarti akses ke teknologi dan investasi baru.
Bagi Konflik Israel-Palestina
Keputusan Fiji ini tentu akan dipandang negatif oleh Palestina. Mereka akan melihatnya sebagai pukulan telak terhadap aspirasi mereka untuk menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Ini juga bisa dianggap sebagai legitimasi atas klaim Israel terhadap seluruh Yerusalem, yang semakin mempersulit upaya perdamaian di masa depan.
Bagi Diplomasi Internasional
Langkah Fiji bisa menjadi preseden bagi negara-negara kepulauan kecil lainnya, terutama di Pasifik, untuk mempertimbangkan hal serupa. Ini dapat menciptakan tekanan diplomatik baru dan berpotensi memecah belah blok regional dalam isu Israel-Palestina. Namun, sebagian besar negara besar kemungkinan akan tetap berpegang pada posisi tradisional mereka.
Reaksi yang Mungkin Muncul
Kita bisa memperkirakan adanya kecaman keras dari Otoritas Palestina dan Liga Arab. Negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga kemungkinan akan menyuarakan keprihatinan. Sementara itu, negara-negara Barat dan PBB mungkin akan mengeluarkan pernyataan yang menyerukan dialog dan solusi dua negara, tanpa secara langsung mengutuk Fiji.
Masa Depan Status Yerusalem: Antara Harapan dan Realita
Keputusan Fiji untuk membuka kedutaan di Yerusalem menambah lapisan kompleksitas pada isu yang sudah rumit ini. Ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar dunia masih berpegang pada konsensus internasional, ada negara-negara yang bersedia mengambil jalan berbeda.
Masa depan Yerusalem tetap menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya mencapai perdamaian abadi di Timur Tengah. Setiap langkah diplomatik, sekecil apa pun, yang mengubah status quo kota ini, akan selalu memicu gelombang reaksi dan perdebatan. Langkah berani Fiji ini adalah pengingat bahwa diplomasi global terus bergeser, dengan konsekuensi yang belum sepenuhnya terlihat.


















