banner 728x250

Dunia Kena Skakmat! PM Qatar Desak Hukum Israel, Bongkar Standar Ganda di Gaza

dunia kena skakmat pm qatar desak hukum israel bongkar standar ganda di gaza portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, melontarkan seruan keras yang mengguncang panggung politik global. Ia mendesak komunitas internasional untuk segera menghentikan praktik standar ganda dalam menyikapi kejahatan Israel di Gaza. Lebih jauh, Al Thani secara eksplisit menyerukan agar dunia menghukum Israel atas segala tindakan yang telah dilakukannya.

Pernyataan tegas ini disampaikan Al Thani dalam sebuah rapat persiapan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) darurat para pemimpin Arab dan negara Islam. KTT penting ini diselenggarakan oleh Qatar sebagai respons langsung terhadap serangan udara Israel yang menargetkan para pemimpin Hamas di Doha, ibu kota Qatar. Ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah ultimatum yang menuntut akuntabilitas.

banner 325x300

Ultimatum dari Doha: Seruan PM Qatar yang Mengguncang Dunia

"Waktunya telah tiba bagi masyarakat internasional untuk berhenti menggunakan standar ganda dan menghukum Israel atas semua kejahatan yang telah dilakukannya," ujar Al Thani, seperti dikutip dari AFP pada Minggu (14/9). Pernyataan ini bukan hanya kritik, melainkan sebuah tuntutan nyata agar keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.

PM Qatar juga menegaskan bahwa Tel Aviv harus menyadari bahwa genosida dan upaya pengusiran warga Palestina dari tanah mereka sendiri tidak akan pernah berhasil. Ini adalah penegasan kedaulatan dan hak asasi manusia yang mendasar bagi rakyat Palestina, sekaligus penolakan terhadap narasi pemusnahan yang kerap dilancarkan.

"Israel perlu tahu perang pemusnahan yang sedang berlangsung dan dialami oleh saudara-saudara kita, Palestina, dan yang bertujuan untuk mengusir mereka dari tanah mereka, tidak akan berhasil," imbuh perdana menteri. Kalimat ini menunjukkan keteguhan Qatar dalam membela hak-hak Palestina di tengah konflik yang berkepanjangan.

Bukan Sekadar Retorika: Mengapa ‘Standar Ganda’ Jadi Sorotan?

Istilah "standar ganda" yang disorot oleh PM Qatar merujuk pada perbedaan perlakuan dan respons komunitas internasional terhadap konflik serupa di berbagai belahan dunia. Seringkali, tindakan yang dikutuk keras jika dilakukan oleh satu pihak, justru diabaikan atau bahkan dibela ketika dilakukan oleh pihak lain, khususnya Israel.

Kritik ini mencerminkan frustrasi banyak negara dan organisasi kemanusiaan terhadap apa yang mereka anggap sebagai impunitas Israel. Pelanggaran hukum internasional, termasuk kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia, kerap kali tidak mendapatkan sanksi yang setimpal dari kekuatan-kekuatan global.

Seruan Al Thani ini menyoroti perlunya konsistensi dalam penerapan hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Jika dunia benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai universal, maka setiap pelanggaran harus ditindak tegas, terlepas dari siapa pelakunya atau kepentingan politik di baliknya.

KTT Darurat: Momen Krusial Pemimpin Arab dan Islam Bersatu

Pertemuan puncak darurat para pemimpin Arab dan Islam yang digagas Qatar ini menjadi sangat krusial. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengungkapkan bahwa KTT tersebut akan membahas rancangan resolusi mengenai serangan Israel terhadap Qatar. Ini menunjukkan bahwa agresi Israel tidak hanya berdampak pada Gaza, tetapi juga memicu ketegangan regional yang lebih luas.

Sejumlah pemimpin penting dikonfirmasi akan hadir, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani. Kehadiran mereka menunjukkan tingkat keseriusan dan urgensi situasi yang dihadapi oleh dunia Arab dan Islam.

Presiden Palestina Mahmud Abbas juga telah tiba di Doha pada Minggu, sehari sebelum pertemuan puncak. Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga diperkirakan akan hadir, menurut laporan media Turki. Namun, kehadiran Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS), yang berstatus penguasa de facto Saudi, masih menjadi tanda tanya besar.

Genosida dan Pengusiran: Narasi yang Tak Akan Berhasil, Kata Qatar

Penegasan PM Qatar bahwa "perang pemusnahan" dan "pengusiran" warga Palestina tidak akan berhasil, menggarisbawahi inti dari konflik yang sedang berlangsung. Ini adalah penolakan tegas terhadap upaya Israel untuk mengubah demografi dan realitas di lapangan melalui kekerasan dan agresi militer.

Sejarah panjang konflik Palestina-Israel memang diwarnai oleh upaya pengusiran dan pemindahan paksa, yang dikenal sebagai Nakba. Pernyataan Al Thani ini adalah pengingat bahwa komunitas internasional tidak boleh membiarkan sejarah kelam itu terulang kembali, apalagi dengan skala yang lebih besar.

Qatar, sebagai mediator kunci dalam perang Israel-Hamas bersama Amerika Serikat (AS) dan Mesir, memiliki posisi unik. Dengan menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah, pernyataan Qatar memiliki bobot diplomatik dan strategis yang signifikan, bukan hanya sekadar kecaman.

Data Korban Gaza: Angka Memilukan yang Tak Bisa Dibantah

Di tengah seruan untuk menghukum Israel, data mengenai korban di Gaza menjadi bukti tak terbantahkan atas kejahatan yang terjadi. Mantan komandan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Herzi Halevi sendiri mengakui bahwa lebih dari 200 ribu warga Palestina tewas atau terluka dalam agresi di Gaza.

Angka ini sangat mencengangkan, karena Halevi menyebutkan bahwa lebih dari 10 persen dari populasi Gaza yang berjumlah 2,2 juta penduduk telah tewas atau terluka. Ini adalah skala kehancuran manusia yang luar biasa, menunjukkan dampak masif dari operasi militer Israel.

Data ini mendekati jumlah yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Gaza, yang kerap dibantah oleh pejabat Israel sebagai propaganda Hamas. Mengacu pada data Kemenkes Gaza, sebanyak 64.718 warga Palestina tewas, serta 163.859 terluka akibat genosida keji Israel. Angka-angka ini, terlepas dari perbedaan kecil, menggambarkan tragedi kemanusiaan yang tak terbayangkan.

Peran Qatar di Tengah Konflik: Mediator atau Penentu Arah?

Peran Qatar dalam konflik ini sangat kompleks. Sebagai mediator, mereka berusaha menjembatani komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai. Namun, dengan pernyataan tegas ini, Qatar menunjukkan bahwa mereka juga siap mengambil sikap yang lebih keras demi keadilan.

Anggota politbiro Hamas, Bassem Naim, berharap KTT tersebut akan menghasilkan posisi Negara Arab dan Negara Islam yang tegas dan kompak. Hamas juga berharap KTT ini melahirkan langkah-langkah yang jelas dan spesifik terhadap Israel, menunjukkan harapan besar terhadap hasil pertemuan di Doha.

Posisi Qatar sebagai tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah juga memberikan dimensi lain pada seruan ini. Ini menunjukkan bahwa bahkan sekutu AS di kawasan pun tidak bisa lagi menoleransi tindakan Israel yang melampaui batas.

Apa Selanjutnya? Harapan dan Tantangan di Balik KTT Doha

KTT darurat di Doha ini diharapkan menjadi titik balik bagi respons dunia Arab dan Islam terhadap agresi Israel. Harapannya, pertemuan ini tidak hanya menghasilkan resolusi di atas kertas, tetapi juga langkah-langkah konkret yang mampu menekan Israel dan menghentikan kekejaman di Gaza.

Namun, tantangan yang dihadapi juga tidak kecil. Perbedaan kepentingan di antara negara-negara Arab dan Islam, serta tekanan dari kekuatan global, bisa menjadi hambatan dalam mencapai kesepakatan yang benar-benar efektif. Dunia menanti, apakah KTT ini akan menjadi momen bersatunya suara untuk keadilan, atau hanya sekadar pertemuan seremonial belaka.

Seruan PM Qatar ini adalah panggilan bangun bagi komunitas internasional. Sudah saatnya dunia berhenti menutup mata dan bertindak tegas, menghukum pelaku kejahatan, serta memastikan bahwa keadilan dan hak asasi manusia ditegakkan untuk semua, tanpa standar ganda. Masa depan Gaza, dan bahkan stabilitas regional, sangat bergantung pada respons kolektif ini.

banner 325x300