Sabtu (20/9) menjadi saksi bisu ketegangan yang memuncak di Den Haag, Belanda, ketika demonstrasi anti-imigran berubah menjadi kerusuhan besar. Insiden ini tidak hanya menyisakan kerusakan, tetapi juga menyoroti panasnya suhu politik jelang Pemilu Belanda yang akan datang.
Situasi di jalanan Den Haag memanas setelah ribuan demonstran, didominasi oleh kelompok sayap kanan, turun ke jalan. Mereka menyuarakan tuntutan keras untuk kebijakan imigrasi yang lebih ketat dan tindakan tegas terhadap para pencari suaka.
Kerusuhan Pecah: Polisi Turun Tangan dengan Gas Air Mata
Awalnya, demonstrasi berjalan damai dengan para peserta mengibarkan bendera Belanda dan simbol-simbol yang diasosiasikan dengan kelompok sayap kanan. Namun, suasana berubah drastis ketika bentrokan tak terhindarkan antara demonstran dan aparat kepolisian.
Polisi Belanda terpaksa menggunakan gas air mata dan meriam air (water cannon) untuk membubarkan massa yang semakin tak terkendali. Pemandangan mencekam terlihat jelas, dengan asap gas air mata membumbung tinggi dan semburan air memecah kerumunan.
Para demonstran merespons dengan melemparkan batu dan botol ke arah petugas. Bahkan, sebuah mobil polisi menjadi sasaran amuk massa dan dibakar, menambah daftar panjang kerusakan yang terjadi.
Tak hanya itu, sekelompok demonstran juga sempat memblokir jalan raya di dekat lokasi unjuk rasa, menyebabkan kekacauan lalu lintas dan meningkatkan ketegangan di area tersebut. Aksi ini menunjukkan tingkat frustrasi dan kemarahan yang mendalam dari para peserta.
Dampak dan Korban: 30 Orang Ditangkap, Kantor Partai D66 Rusak Parah
Akibat kerusuhan ini, setidaknya 30 orang demonstran ditangkap oleh pihak berwenang. Dua petugas polisi juga dilaporkan mengalami luka-luka saat mencoba mengendalikan situasi yang kacau balau.
Pihak kepolisian tidak menutup kemungkinan akan ada penangkapan tambahan dalam beberapa hari ke depan. Rekaman dari kamera pengawas sedang diperiksa secara intensif untuk mengidentifikasi lebih banyak pelaku kerusuhan.
Kerusakan juga meluas ke properti publik dan swasta. Media setempat melaporkan bahwa para pengunjuk rasa memecahkan sejumlah jendela di kantor pusat partai D66, sebuah partai berhaluan kiri-tengah.
Partai D66 kerap dianggap oleh banyak kelompok sayap kanan ekstrem sebagai representasi elit progresif yang dianggap tidak peduli dengan kekhawatiran mereka. Kerusakan ini menjadi simbol nyata dari polarisasi politik yang semakin tajam di Belanda.
Rob Jetten, pemimpin partai D66, menyatakan kekecewaannya atas kerusakan parah yang menimpa kantor organisasinya. Ia menegaskan bahwa partainya tidak akan gentar menghadapi intimidasi dari kelompok ekstremis.
"Jika kalian pikir kalian bisa mengintimidasi kami, bermimpilah. Kami tidak akan pernah membiarkan perusuh ekstremis merampas negara kami yang indah," tegas Jetten melalui akun X-nya, menunjukkan sikap perlawanan terhadap aksi kekerasan tersebut.
Geert Wilders dan Bayang-bayang Pemilu Belanda
Demonstrasi ini terjadi lebih dari sebulan sebelum Pemilu Belanda yang dijadwalkan pada 29 Oktober 2025. Momen ini tentu saja memiliki implikasi signifikan terhadap dinamika politik dan kampanye yang sedang berlangsung.
Politisi sayap kanan dan anti-imigran terkemuka, Geert Wilders, sempat diundang untuk memberikan pidato dalam demonstrasi tersebut. Namun, ia tidak hadir di lokasi kejadian.
Meskipun demikian, Wilders tetap menjadi figur sentral dalam narasi politik anti-imigran di Belanda. Ia merupakan pemenang pemilu sebelumnya dan popularitasnya tetap tinggi dalam jajak pendapat menjelang pemilihan umum mendatang.
Melalui akun X-nya, Wilders mengutuk keras kekerasan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap demonstran. Ia menyebut tindakan polisi "sama sekali tidak dapat diterima" dan melabeli mereka sebagai "idiot."
Sikap Wilders ini mencerminkan bagaimana isu imigrasi telah menjadi medan pertempuran politik yang sengit di Belanda. Dukungannya terhadap demonstran, meskipun tidak hadir, menunjukkan posisinya yang konsisten dalam isu ini.
Mengapa Isu Imigrasi Begitu Sensitif di Belanda?
Gelombang protes anti-imigran ini bukan fenomena baru di Belanda atau Eropa secara keseluruhan. Isu imigrasi telah menjadi salah satu topik paling sensitif dan memecah belah dalam beberapa tahun terakhir.
Banyak warga Belanda, terutama dari kelompok sayap kanan, merasa khawatir dengan dampak imigrasi terhadap identitas budaya, lapangan kerja, dan sistem sosial mereka. Mereka menuntut kontrol perbatasan yang lebih ketat dan integrasi yang lebih baik bagi imigran yang sudah ada.
Kekhawatiran ini diperparah oleh krisis pengungsi global dan meningkatnya jumlah pencari suaka yang tiba di Eropa. Hal ini memicu perdebatan sengit tentang kapasitas negara untuk menampung dan mengintegrasikan pendatang baru.
Partai-partai politik, termasuk D66 yang berhaluan progresif, seringkali memiliki pandangan yang berbeda secara diametral dengan kelompok sayap kanan. D66 cenderung mendukung kebijakan imigrasi yang lebih terbuka dan humanis, yang seringkali menjadi sasaran kritik dari kelompok konservatif.
Melihat ke Depan: Pemilu dan Masa Depan Belanda
Kerusuhan di Den Haag ini menjadi pengingat pahit akan polarisasi yang mendalam dalam masyarakat Belanda. Dengan pemilu yang semakin dekat, insiden ini kemungkinan besar akan semakin memanaskan kampanye politik.
Partai-partai akan berlomba-lomba menarik simpati pemilih dengan menawarkan solusi terhadap isu imigrasi. Bagaimana insiden ini akan memengaruhi hasil pemilu masih menjadi pertanyaan besar, namun jelas bahwa ketegangan sosial telah mencapai titik didih.
Masa depan Belanda akan sangat bergantung pada bagaimana para pemimpin politik mampu menavigasi perpecahan ini dan menemukan titik temu yang dapat menyatukan masyarakat. Kerusuhan di Den Haag adalah alarm keras bahwa isu-isu fundamental ini tidak bisa lagi diabaikan.


















