Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa baru saja mengukir sejarah yang mengejutkan dunia. Pada Sabtu (8/11/2025), ia menginjakkan kaki di Amerika Serikat, sebuah kunjungan perdana yang memecah kebuntuan diplomatik puluhan tahun. Momen ini menjadi sorotan global, terutama karena hanya sehari sebelumnya, Negeri Paman Sam resmi menghapus namanya dari daftar hitam terorisme.
Kunjungan bersejarah ini bukan hanya yang pertama bagi Al Sharaa secara pribadi, tetapi juga kunjungan perdana seorang presiden Suriah ke Amerika Serikat sejak negara itu meraih kemerdekaan pada tahun 1946. Sebuah penantian panjang selama hampir delapan dekade akhirnya terpecahkan, menandai babak baru dalam hubungan kedua negara yang penuh gejolak.
Sejarah Terukir: Kunjungan Perdana Sejak Kemerdekaan
Bayangkan, sejak Suriah merdeka pada tahun 1946, belum pernah ada presidennya yang secara resmi mengunjungi Amerika Serikat. Kunjungan Ahmed Al Sharaa ini, yang terjadi pada 8 November 2025, bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Ini adalah simbol perubahan drastis dalam lanskap politik global dan regional.
Momen ini menjadi sangat penting mengingat latar belakang Al Sharaa yang sebelumnya dianggap sebagai tokoh kontroversial. Kedatangannya di tanah Amerika Serikat, apalagi setelah dihapus dari daftar teroris, mengirimkan pesan kuat tentang pergeseran paradigma dalam kebijakan luar negeri AS dan Suriah.
Agenda Rahasia di Gedung Putih: Pangkalan Militer AS di Damaskus?
Agenda kunjungan Al Sharaa ke AS tidak main-main. Ia dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Senin (10/11/2025). Pertemuan puncak ini diperkirakan akan membahas berbagai kerja sama strategis yang berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah.
Salah satu poin paling mengejutkan dalam agenda tersebut adalah rencana pembangunan pangkalan militer AS di Damaskus. Sumber diplomatik di Suriah mengungkapkan kepada AFP bahwa pangkalan ini bertujuan untuk mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan serta mengamati perkembangan hubungan antara Suriah dan Israel.
Selain itu, Utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, menyatakan bahwa Al Sharaa "diharapkan" akan menandatangani perjanjian penting. Perjanjian tersebut akan mengikat Suriah untuk bergabung dengan aliansi internasional yang dipimpin AS dalam memerangi kelompok teroris, khususnya ISIS. Ini menunjukkan komitmen baru Suriah dalam upaya global melawan terorisme.
Di Balik Penghapusan Daftar Hitam: Tuntutan AS Terpenuhi
Langkah Amerika Serikat menghapus Ahmed Al Sharaa dari daftar hitam terorisme tentu saja memicu banyak pertanyaan. Pasalnya, Al Sharaa dikenal sebagai pemimpin milisi Hayat Tahrir Al Sham (HTS), sebuah kelompok yang secara historis berafiliasi dengan Al Qaeda. Perubahan status ini menunjukkan adanya negosiasi dan konsesi besar di balik layar.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tommy Pigot, menjelaskan bahwa pemerintah Al Sharaa telah memenuhi sejumlah tuntutan kunci dari Washington. Tuntutan tersebut termasuk upaya serius untuk menemukan warga Amerika yang hilang di Suriah dan memusnahkan sisa-sisa senjata kimia yang masih ada. Ini menjadi bukti konkret komitmen Suriah di bawah kepemimpinan baru.
Pigot menambahkan bahwa pencabutan dari daftar teroris ini diharapkan akan mendorong keamanan, stabilitas regional, dan proses politik yang lebih inklusif di Suriah. Ia juga menegaskan bahwa tindakan ini diambil sebagai pengakuan atas kemajuan yang ditunjukkan oleh kepemimpinan Suriah pasca-Bashar al-Assad, menandai berakhirnya lebih dari 50 tahun penindasan di bawah rezim Assad.
Misi Rekonstruksi dan Citra Baru Suriah
Setelah 13 tahun dilanda perang saudara yang menghancurkan, Suriah kini sangat membutuhkan bantuan untuk rekonstruksi. Banyak pihak menduga bahwa kunjungan Al Sharaa ke AS juga memiliki misi terselubung untuk mencari dukungan finansial dan teknis guna membangun kembali negaranya. Perang saudara telah meninggalkan luka mendalam dan infrastruktur yang hancur lebur.
Di bawah kepemimpinan Al Sharaa, Suriah tampak berusaha keras melepaskan diri dari masa lalu kelamnya. Ada upaya nyata untuk membangun citra yang lebih moderat dan terbuka di mata dunia internasional. Namun, tantangan besar masih menanti, terutama terkait masalah kekerasan dan keamanan yang masih menjadi isu krusial di berbagai wilayah Suriah.
Analisis Pakar: Transformasi Mengejutkan Seorang Negarawan
Perubahan status dan kunjungan Al Sharaa ini tidak luput dari perhatian para pakar. Michael Hanna, seorang ahli sekaligus Direktur Program AS International Crisis Group, menyebut kunjungan ini sebagai bukti lebih lanjut komitmen pemerintahan Trump terhadap "Suriah yang baru." Ini juga merupakan momen yang sangat simbolis bagi pemimpin baru negara tersebut.
Hanna menyoroti transformasi menakjubkan Al Sharaa, dari seorang pemimpin milisi menjadi seorang negarawan global. "Ini menandai langkah selanjutnya dalam transformasi menakjubkan dari pemimpin milisi ke negarawan global," ujar Hanna. Pandangan ini menggarisbawahi betapa signifikannya perubahan yang terjadi, baik bagi Al Sharaa pribadi maupun bagi masa depan Suriah.
Implikasi Regional dan Global: Era Baru di Timur Tengah?
Kunjungan Presiden Suriah ke Amerika Serikat ini berpotensi memicu gelombang perubahan besar di kawasan Timur Tengah. Hubungan yang membaik antara AS dan Suriah dapat mengubah dinamika aliansi dan perimbangan kekuatan di wilayah tersebut. Negara-negara tetangga dan kekuatan regional lainnya pasti akan mengamati dengan seksama setiap perkembangan yang terjadi.
Langkah ini juga bisa menjadi preseden bagi negara-negara lain yang memiliki hubungan tegang dengan AS. Ini menunjukkan bahwa melalui negosiasi dan pemenuhan tuntutan, ada kemungkinan untuk kembali diterima di panggung internasional. Namun, tentu saja, proses ini tidak akan mudah dan akan menghadapi banyak rintangan.
Menatap Masa Depan yang Penuh Ketidakpastian
Meskipun kunjungan Ahmed Al Sharaa ke AS membuka lembaran baru, masa depan Suriah dan hubungannya dengan dunia masih diselimuti ketidakpastian. Tantangan internal seperti keamanan, stabilitas politik, dan rekonstruksi pasca-perang masih sangat besar. Di sisi lain, hubungan dengan AS juga perlu diuji konsistensinya dalam jangka panjang.
Dunia akan terus mengamati bagaimana "Suriah yang baru" di bawah kepemimpinan Al Sharaa akan menavigasi kompleksitas politik regional dan global. Apakah ini akan menjadi awal dari era perdamaian dan stabilitas, atau hanya jeda singkat sebelum gejolak baru? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial ini.


















