banner 728x250

Bikin Melongo! AS Gelontorkan Rp830 Miliar Lindungi Israel dari Rudal Iran

Deretan rudal berbendera Iran, bukti pendanaan AS untuk Israel.
AS rogoh Rp830 miliar ganti rudal pertahanan Israel yang dipakai lawan serangan Iran.
banner 120x600
banner 468x60

Amerika Serikat dilaporkan telah menguras dana hampir US$500 juta, atau setara dengan angka fantastis Rp830 miliar, demi membantu Israel dalam menghadapi serangan rudal Iran. Bantuan finansial masif ini terungkap setelah perang 12 hari yang berlangsung sengit pada bulan Juni lalu, sebuah konflik yang mengguncang stabilitas Timur Tengah. Dokumen anggaran Kementerian Pertahanan AS yang baru-baru ini dirilis menjadi bukti konkret dari dukungan militer berskala besar ini.

Dana Fantastis untuk Misi Pertahanan Krusial

banner 325x300

Dana sebesar US$498,3 juta tersebut secara spesifik dialokasikan untuk mengganti sistem pencegat rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang digunakan secara intensif. Sistem pertahanan canggih ini, yang dikenal dengan kemampuannya mencegat rudal balistik jarak pendek dan menengah di atmosfer atas, menjadi tulang punggung pertahanan udara yang vital. Penggunaan THAAD ini dilakukan selama operasi tempur yang krusial, atas permintaan langsung dari Israel, menunjukkan tingkat urgensi dan prioritas yang tinggi dalam menjaga keamanan sekutunya.

Dokumen anggaran Kementerian Pertahanan AS, yang bertanggal 1 Agustus dan baru saja dipublikasikan, secara jelas mengkategorikan alokasi dana ini sebagai "item kepentingan khusus" dan "persyaratan anggaran darurat." Ini menegaskan betapa mendesaknya situasi saat itu, mendorong Washington untuk segera bertindak dengan dukungan finansial yang tidak sedikit. Media pertahanan terkemuka di AS, War Zone, menjadi yang pertama melaporkan detail dokumen ini pada Selasa (16/9), yang kemudian dikutip luas oleh Anadolu Agency.

Pada bulan Juli lalu, laporan dari CNN juga sempat menyoroti besarnya penggunaan sistem pertahanan ini. Diperkirakan, Amerika Serikat mungkin telah mengerahkan antara 100 hingga 150 pencegat THAAD selama 12 hari perang antara Israel dan Iran. Angka ini bukanlah jumlah yang remeh, mengingat jumlah tersebut mencapai seperempat dari total stok THAAD yang dimiliki oleh Negeri Paman Sam.

Awal Mula Ketegangan: Serangan Israel ke Iran

Kisah ketegangan yang memuncak ini bermula pada 13 Juni. Pada tanggal tersebut, Israel melancarkan serangkaian serangan udara berskala besar yang menargetkan jantung kekuatan militer dan nuklir Iran. Fasilitas nuklir strategis Iran, bersama dengan berbagai situs militer penting, menjadi sasaran utama dari gempuran yang intens ini, memicu eskalasi konflik yang cepat.

Dampak dari serangan Israel sangatlah signifikan dan mematikan. Laporan menyebutkan bahwa serangan tersebut merenggut nyawa sejumlah tokoh kunci dalam struktur pertahanan Iran. Di antara korban tewas adalah kepala staf umum Iran, komandan Korps Garda Revolusi Islam, serta beberapa jenderal senior yang memiliki peran vital dalam hierarki militer negara tersebut. Tak hanya itu, sembilan ilmuwan nuklir terkemuka Iran juga dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, sebuah kerugian besar bagi program nuklir negara itu. Ratusan warga sipil yang tidak bersalah juga turut menjadi korban, menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan dalam konflik ini.

Balasan Iran yang Mengguncang dan Intervensi AS

Melihat skala serangan dan kerugian yang diderita, Iran tidak tinggal diam. Sebagai bentuk balasan, Teheran kemudian meluncurkan ratusan rudal balistik ke wilayah Israel. Serangan balasan ini menyebabkan puluhan orang tewas dan menimbulkan kerusakan parah di berbagai lokasi. Namun, berkat sistem pertahanan rudal yang canggih, sebagian besar rudal Iran dilaporkan berhasil dicegat sebelum mencapai targetnya.

Di tengah memanasnya situasi dan eskalasi konflik, Amerika Serikat memutuskan untuk ikut campur tangan secara langsung. Pada 22 Juni, Negeri Paman Sam melancarkan serangan terhadap situs nuklir Iran, menggunakan bom penghancur bunker dan peluru kendali presisi. Tindakan ini semakin memperkeruh suasana dan memperluas cakupan konflik.

Tidak lama berselang, Iran kembali memberikan balasan atas intervensi AS. Kali ini, targetnya adalah pangkalan militer Amerika Serikat yang berlokasi di Doha, Qatar. Serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS ini, meskipun tidak menyebabkan korban jiwa, dilaporkan menimbulkan kerusakan minor pada fasilitas tersebut.

Perang 12 Hari yang Penuh Drama

Perang antara Iran dan Israel, yang melibatkan intervensi Amerika Serikat, berlangsung selama 12 hari yang penuh drama dan ketegangan. Konflik yang intens ini akhirnya berakhir pada 24 Juni, meninggalkan jejak kehancuran dan pertanyaan besar tentang masa depan stabilitas regional. Meskipun telah berakhir, dampak dari perang singkat namun brutal ini masih terasa, terutama dengan terkuaknya besarnya dana yang dikeluarkan AS untuk membantu sekutunya.

Pengeluaran hampir setengah miliar dolar AS ini menyoroti kedalaman komitmen Amerika Serikat terhadap keamanan Israel, bahkan di tengah konflik bersenjata yang berisiko tinggi. Ini juga menunjukkan betapa canggihnya sistem pertahanan rudal modern, yang mampu mencegat ratusan rudal balistik, namun dengan biaya operasional yang sangat mahal. Kisah ini menjadi pengingat akan kompleksitas dan biaya yang harus ditanggung dalam menjaga keseimbangan kekuatan di salah satu kawasan paling bergejolak di dunia.

banner 325x300