banner 728x250

Beda Arah! Trump Tolak Keras Rencana Inggris Akui Palestina, Padahal Sama-sama Ingin Damai. Ada Apa?

Pengunjuk rasa Palestina kibarkan bendera di atas struktur kacamata raksasa.
Perbedaan visi AS dan Inggris soal negara Palestina memicu ketegangan diplomatik di London.
banner 120x600
banner 468x60

Ketegangan diplomatik mencuat di London ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya dengan rencana Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, untuk mengakui negara Palestina. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers bersama usai pertemuan bilateral yang seharusnya mempererat hubungan kedua negara.

Trump, yang dikenal dengan gaya blak-blakannya, menyebut perbedaan pandangan ini sebagai "salah satu dari sedikit perbedaan di antara kami" dengan PM Starmer. Namun, ia memilih untuk tidak merinci lebih lanjut alasan di balik penolakannya yang tegas tersebut.

banner 325x300

Dua Visi Berbeda untuk Perdamaian Timur Tengah

Perbedaan pandangan ini menjadi sorotan utama, mengingat kedua pemimpin sama-sama menyerukan perdamaian di kawasan tersebut. Namun, jalan yang mereka pilih untuk mencapai tujuan mulia itu tampaknya sangat berbeda, menciptakan dinamika baru dalam upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Di satu sisi, Trump dikenal dengan pendekatan "deal-maker" dan fokus pada kepentingan Amerika Serikat. Kebijakan luar negerinya selama ini cenderung sangat pro-Israel, termasuk pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem dan pengakuan kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.

Pendekatan ini seringkali mengesampingkan pengakuan negara Palestina sebagai prasyarat awal. Baginya, solusi dua negara harus dicapai melalui negosiasi langsung antara Israel dan Palestina, bukan melalui pengakuan sepihak dari negara lain.

Mengapa Trump Menolak Pengakuan Palestina?

Meskipun Trump tidak memberikan detail spesifik, penolakannya dapat dianalisis dari beberapa sudut pandang. Pertama, ia mungkin melihat pengakuan sepihak terhadap Palestina sebagai langkah yang dapat merusak posisi negosiasi Israel.

Kedua, Trump mungkin berpendapat bahwa pengakuan tersebut tidak akan membawa perdamaian yang berkelanjutan jika tidak disertai dengan kesepakatan komprehensif yang mencakup isu-isu krusial lainnya, seperti keamanan Israel, status Yerusalem, dan pengungsi. Baginya, "deal" yang menyeluruh adalah kunci.

Tuntutan Trump: Semua Sandera Harus Bebas Sekarang!

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menegaskan tuntutannya agar seluruh sandera yang ditahan oleh kelompok bersenjata segera dibebaskan tanpa syarat dan tanpa penundaan. Ia menolak gagasan pembebasan bertahap yang seringkali menjadi bagian dari negosiasi.

"Bukan satu, bukan dua, atau ‘kami akan lepaskan tiga besok’. Semua sandera harus segera kembali," kata Trump dengan nada tegas. Tuntutan ini mencerminkan urgensi dan frustrasi atas situasi kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza.

Ia menambahkan bahwa Israel juga menginginkan pembebasan sandera ini terjadi sesegera mungkin. Trump menekankan perlunya menghentikan pertempuran, sebuah pernyataan yang menunjukkan keinginannya untuk de-eskalasi konflik, namun dengan syarat yang jelas terkait sandera.

Klaim Trump atas Penyelesaian Konflik Global

Secara mengejutkan, Trump juga mengklaim bahwa pemerintahannya telah berhasil menyelesaikan "hampir semua konflik global." Pernyataan ini mungkin merujuk pada upaya diplomatiknya seperti Abraham Accords yang menormalisasi hubungan antara Israel dengan beberapa negara Arab.

Namun, ia mengakui kompleksitas konflik di Gaza. "Kami bekerja keras soal Israel dan Gaza, dan semua yang terjadi di sana. Ini rumit, tapi akan selesai. Namun perang itu berbeda, selalu ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan," ucapnya, menunjukkan optimisme namun juga mengakui tantangan yang ada.

Visi Starmer: Pengakuan Palestina sebagai Bagian dari Rencana Perdamaian

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memiliki pandangan yang berbeda. Ia menegaskan bahwa rencana pengakuan negara Palestina bukanlah sekadar langkah simbolis untuk kepentingan politik dalam negeri, melainkan bagian integral dari upaya menuju perdamaian yang komprehensif.

Starmer, yang memimpin Partai Buruh, telah menghadapi tekanan internal dan eksternal untuk mengambil sikap yang lebih tegas terhadap konflik Israel-Palestina. Pengakuan Palestina menjadi salah satu janji kampanyenya untuk menunjukkan komitmen Inggris terhadap solusi dua negara.

Bukan Sekadar Simbolis, tapi Strategis

Bagi Starmer, pengakuan Palestina adalah langkah strategis yang dapat memberikan momentum baru bagi proses perdamaian yang mandek. Ini adalah cara untuk menunjukkan dukungan internasional terhadap hak-hak Palestina dan memberikan bobot diplomatik pada pembentukan negara berdaulat.

Ia menyerukan pembebasan sandera, peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan penghentian pertempuran yang tidak bisa ditoleransi. Semua ini, menurut Starmer, adalah bagian dari konteks rencana perdamaian yang lebih besar.

"Semua itu berada dalam konteks rencana perdamaian, yang sedang kami upayakan, untuk membawa kita keluar dari situasi mengerikan saat ini menuju hasil berupa Israel yang aman dan negara Palestina yang layak," ujar Starmer, menjelaskan visinya tentang masa depan kawasan.

Implikasi Terhadap Hubungan AS-Inggris

Perbedaan pandangan yang mencolok antara Trump dan Starmer ini berpotensi menimbulkan ketegangan dalam "hubungan khusus" antara Amerika Serikat dan Inggris. Meskipun kedua negara seringkali memiliki keselarasan dalam kebijakan luar negeri, isu Israel-Palestina kerap menjadi titik gesekan.

Jika Trump kembali menjabat, kebijakan luar negerinya kemungkinan akan kembali condong ke Israel, sementara Inggris di bawah Starmer mungkin akan lebih aktif dalam mendukung solusi dua negara, termasuk pengakuan Palestina. Ini bisa menciptakan dinamika yang rumit di panggung diplomasi global.

Masa Depan Solusi Dua Negara di Tengah Perpecahan

Konflik Israel-Palestina adalah salah satu isu paling kompleks dan berlarut-larut di dunia. Solusi dua negara, yang didukung oleh sebagian besar komunitas internasional, menghadapi tantangan besar dari berbagai pihak.

Perbedaan pandangan antara dua pemimpin dunia ini menyoroti betapa sulitnya mencapai konsensus global mengenai jalan terbaik menuju perdamaian. Apakah pengakuan Palestina akan menjadi katalisator perdamaian atau justru memperkeruh suasana, masih menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab oleh waktu.

Dunia akan terus mengamati bagaimana dinamika ini berkembang, dan apakah perbedaan visi antara Washington dan London dapat diselaraskan demi tercapainya perdamaian yang langgeng di Timur Tengah.

banner 325x300