Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, melontarkan pernyataan tegas yang mengguncang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB). Meski harus berpidato secara daring karena visanya ditolak Amerika Serikat, Abbas tak sedikit pun kehilangan ketegasannya. Ia menegaskan bahwa perdamaian sejati dan keadilan tidak akan pernah tercapai jika Palestina belum sepenuhnya dibebaskan dari pendudukan.
Dalam pidatonya yang disiarkan pada Kamis (25/9) waktu setempat, Abbas menyampaikan pesan krusial kepada dunia. "Hari ini, kami tegaskan, perdamaian tidak akan tercapai jika keadilan tidak tercapai, dan tidak akan ada keadilan jika Palestina tidak dibebaskan," ujarnya, menggarisbawahi inti perjuangan rakyatnya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari penderitaan dan harapan yang telah berakar kuat selama puluhan tahun.
Mengapa Keadilan dan Kebebasan Palestina Tak Terpisahkan?
Bagi Mahmoud Abbas dan rakyat Palestina, konsep perdamaian tidak bisa dipisahkan dari keadilan. Keadilan yang dimaksud adalah pengakuan penuh atas hak-hak mereka sebagai bangsa merdeka dan berdaulat. Tanpa kebebasan dari pendudukan, segala upaya perdamaian hanya akan menjadi ilusi semata.
Abbas menjelaskan bahwa rakyat Palestina mendambakan kehidupan yang normal, penuh kebebasan, keamanan, dan kedamaian. Mereka ingin hidup layaknya bangsa-bangsa lain di dunia, dalam sebuah negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Ini adalah aspirasi dasar yang menjadi fondasi dari setiap perjuangan mereka.
Visi Palestina: Negara Modern yang Bebas Kekerasan
Lebih jauh, Abbas memaparkan visi tentang negara Palestina yang diidamkan. Ia membayangkan sebuah negara sipil modern yang sepenuhnya bebas dari kekerasan, senjata, dan ekstremisme. Visi ini menekankan pada penghormatan terhadap hukum, hak asasi manusia, serta investasi besar dalam pengembangan manusia, teknologi, dan pendidikan.
Negara impian ini, menurut Abbas, tidak akan mengalokasikan sumber dayanya untuk perang dan konflik. Sebaliknya, fokus utamanya adalah pembangunan dan kemajuan. Ini adalah gambaran kontras dari realitas konflik yang selama ini mendominasi narasi tentang Palestina, menunjukkan keinginan kuat untuk hidup damai dan konstruktif.
Seruan untuk Komunitas Internasional dan Perjuangan Damai
Abbas juga menyentil peran komunitas internasional dalam konflik ini. Ia menyatakan bahwa meskipun upaya terbaik telah dilakukan, rakyat Palestina masih belum terbebas dari pendudukan dan "sandera Israel." Ia mengkritik keras pihak yang terus mengingkari hak-hak mereka dan melakukan ketidakadilan, penindasan, serta agresi.
Namun, Abbas menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan menyerah. Mereka akan terus bergerak maju dengan perjuangan yang damai, legal, dan diplomatis untuk mendapatkan hak-hak mereka. Ini adalah komitmen terhadap jalan yang beradab, meski dihadapkan pada tantangan yang tak terhitung jumlahnya.
Keteguhan Hati Rakyat Palestina: Tak Akan Tinggalkan Tanah Air
Dalam pidatonya, Abbas menyuarakan tekad kuat rakyat Palestina untuk hidup dan bertahan, meskipun terus-menerus diserang. Ia yakin bahwa fajar kebebasan akan segera muncul, dan bendera Palestina akan berkibar tinggi di langit mereka. Bendera itu akan menjadi simbol martabat, keteguhan, dan kebebasan dari belenggu pendudukan.
Abbas juga dengan tegas menyatakan bahwa rakyat Palestina tidak akan pernah meninggalkan tanah air mereka. Yerusalem, kota suci bagi tiga agama monoteistik, ditegaskan sebagai ibu kota abadi Palestina. Pernyataan ini adalah deklarasi kuat tentang identitas dan koneksi tak terpisahkan antara rakyat Palestina dengan tanah leluhur mereka.
"Rakyat kami akan tetap berakar seperti pohon zaitun, kokoh seperti batu karang," kata Abbas, menggunakan metafora yang sarat makna. Ia melanjutkan, "Kami akan bangkit dari reruntuhan untuk membangun kembali dan mengirimkan dari tanah suci kami yang terberkati pesan-pesan harapan dan suara kebenaran serta keadilan." Ini adalah janji untuk membangun jembatan perdamaian yang adil bagi seluruh rakyat di wilayah tersebut dan dunia.
Drama Visa AS: Abbas Tetap Bersuara Lantang dari Jauh
Di balik pidato yang penuh semangat ini, tersimpan sebuah drama diplomatik. Mahmoud Abbas harus berpidato di SMU PBB secara daring karena visanya ditolak oleh Amerika Serikat. Penolakan ini bukan tanpa alasan; AS beralasan bahwa Otoritas Palestina telah merusak upaya perdamaian.
Keputusan AS ini memicu reaksi di Majelis Umum PBB. Sebuah pemungutan suara akhirnya digelar untuk mendukung kehadiran Abbas di SMU PBB pekan itu. Hasilnya, disepakati bahwa Abbas dapat tetap menyampaikan pidatonya, meskipun harus melalui sambungan daring. Insiden ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika politik internasional yang melingkupi isu Palestina, namun tidak menghalangi suara Abbas untuk tetap terdengar di panggung dunia.
Pesan Abbas dari jauh ini menjadi pengingat bahwa perjuangan Palestina untuk kemerdekaan dan keadilan masih jauh dari usai. Ia menegaskan bahwa harapan untuk perdamaian sejati hanya bisa terwujud jika hak-hak dasar rakyat Palestina diakui dan dipenuhi sepenuhnya.


















