Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, kembali menjadi sorotan dunia setelah pidatonya yang penuh gairah di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) pada Kamis, 25 September 2025. Dalam kesempatan itu, Abbas dengan tegas menolak narasi yang kerap menyamakan dukungan terhadap perjuangan Palestina dengan isu antisemitisme, sebuah pernyataan yang mengguncang panggung diplomasi global.
Pidato yang disampaikan secara virtual ini bukan hanya seruan untuk keadilan, tetapi juga sebuah pernyataan keras yang mengutuk genosida di Jalur Gaza serta aksi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pernyataan Abbas ini memicu perdebatan sengit dan menarik perhatian global terhadap konflik yang tak kunjung usai, menyoroti kompleksitas situasi di Timur Tengah.
Menepis Tuduhan Antisemitisme: Solidaritas Palestina adalah Prinsip
Di hadapan para pemimpin dunia, Mahmoud Abbas dengan gamblang menyatakan penolakannya terhadap upaya mencampuradukkan solidaritas dengan perjuangan rakyat Palestina dengan isu antisemitisme. Baginya, kedua hal tersebut adalah entitas yang berbeda dan tidak dapat disamakan begitu saja, sebuah distingsi krusial yang seringkali diabaikan dalam perdebatan publik.
"Kami menolak mencampuradukkan solidaritas dengan perjuangan Palestina dan isu antisemitisme, yang merupakan sesuatu yang kami tolak berdasarkan nilai dan prinsip kami," tegas Abbas, sebagaimana dikutip dari rekaman pidatonya. Pernyataan ini menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina adalah tentang hak asasi manusia dan kebebasan, bukan kebencian terhadap suatu kelompok etnis atau agama.
Abbas menekankan bahwa solidaritas terhadap Palestina berakar pada nilai-nilai universal keadilan, hak untuk menentukan nasib sendiri, dan penolakan terhadap pendudukan. Mengaitkannya dengan antisemitisme, menurutnya, adalah upaya strategis untuk membungkam kritik terhadap kebijakan Israel dan mendiskreditkan gerakan pro-Palestina di seluruh dunia, sebuah taktik yang ia anggap tidak etis.
Ia menjelaskan bahwa antisemitisme adalah bentuk kebencian terhadap Yahudi yang tidak dapat diterima, dan Otoritas Palestina sendiri menolak segala bentuk diskriminasi. Namun, kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel atau dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina tidak boleh serta merta dicap sebagai antisemitisme, karena hal itu akan mengaburkan makna sebenarnya dari perjuangan mereka.
Apresiasi untuk Para Pendukung Kemerdekaan Palestina
Dalam pidatonya, Abbas tak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh negara dan organisasi yang telah menunjukkan dukungan nyata. Ia mengapresiasi berbagai kelompok kerja dan aliansi internasional yang berjuang untuk perdamaian, serta negara-negara yang mendukung upaya Palestina menghentikan genosida dan pendudukan yang terus berlangsung.
"Kami sangat mengapresiasi semua masyarakat dan organisasi di seluruh dunia yang telah berunjuk rasa mendukung hak-hak rakyat Palestina untuk merdeka dan bebas, serta untuk menghentikan perang, kehancuran, dan kelaparan," ujarnya. Ungkapan ini menyoroti pentingnya dukungan global dalam menekan Israel dan mencari solusi damai yang berkelanjutan.
Apresiasi ini bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan terhadap peran vital masyarakat sipil, aktivis, dan organisasi kemanusiaan internasional. Mereka yang turun ke jalan, menyuarakan protes, dan mengadvokasi hak-hak Palestina dianggap sebagai pilar penting dalam menjaga isu Palestina tetap relevan dan menuntut pertanggungjawaban di mata dunia.
Dukungan ini datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah negara-negara di Global South hingga jutaan individu di negara-negara Barat yang menuntut diakhirinya kekerasan. Abbas melihat solidaritas ini sebagai bukti bahwa perjuangan Palestina adalah perjuangan universal untuk keadilan, yang melampaui batas geografis dan ideologis.
Kecaman Keras untuk Genosida di Gaza: Kejahatan Perang Abad Ini
Bagian paling emosional dari pidato Abbas adalah kecaman kerasnya terhadap Israel atas apa yang disebutnya sebagai "genosida" di Jalur Gaza. Sejak Oktober 2023, wilayah tersebut telah menjadi saksi bisu kehancuran masif, hilangnya puluhan ribu nyawa tak berdosa, dan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Abbas menegaskan bahwa tindakan Israel bukan hanya sekadar "agresi," melainkan "sebuah kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terdokumentasi dan termonitor." Ia memprediksi bahwa sejarah akan mencatatnya sebagai salah satu babak paling kelam dari tragedi kemanusiaan di abad ke-20 dan ke-21, sebuah noda yang tak akan terhapus.
Deskripsi Abbas tentang situasi di Gaza menggambarkan skala penderitaan yang tak terbayangkan. Ribuan anak-anak, wanita, dan warga sipil telah menjadi korban, infrastruktur vital seperti rumah sakit dan sekolah hancur lebur, dan kelaparan melanda akibat blokade ketat. Ini adalah gambaran suram yang terus-menerus disuarakan oleh berbagai organisasi kemanusiaan internasional dan PBB sendiri.
Ia menyoroti bahwa agresi yang berlangsung selama hampir dua tahun ini telah menyebabkan perpindahan massal, hilangnya tempat tinggal, dan trauma mendalam bagi jutaan warga Gaza. Bagi Abbas, ini adalah upaya sistematis untuk menghancurkan eksistensi rakyat Palestina di wilayah tersebut, yang memenuhi definisi genosida menurut hukum internasional.
Sikap Tegas Terhadap Aksi Hamas: Bukan Representasi Perjuangan Palestina
Meskipun mengecam Israel dengan keras, Abbas juga tidak ragu untuk mengutuk serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan yang menargetkan warga sipil Israel dan menyandera mereka itu menjadi pemicu utama agresi brutal Israel ke Gaza, mengubah dinamika konflik secara drastis.
"Kami menolak apa yang Hamas lakukan pada 7 Oktober, aksi yang menargetkan warga sipil Israel dan menyandera mereka, ini bukan tindakan yang merepresentasikan bangsa Palestina atau merepresentasikan perjuangan kebebasan dan kebebasan," tegas Abbas. Pernyataan ini menunjukkan upaya Otoritas Palestina untuk membedakan diri dari tindakan kelompok militan tersebut.
Sikap ini penting untuk menunjukkan kepada komunitas internasional bahwa perjuangan Palestina untuk kemerdekaan adalah gerakan yang lebih luas, yang tidak dapat direduksi menjadi tindakan satu kelompok bersenjata. Abbas berusaha menyampaikan pesan bahwa ada perbedaan fundamental antara perlawanan yang sah terhadap pendudukan dan tindakan yang menargetkan warga sipil.
Dengan mengutuk Hamas, Abbas juga berusaha memperkuat posisi Otoritas Palestina sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina di mata dunia. Ini adalah langkah strategis untuk mempertahankan legitimasi diplomatik dan dukungan internasional, terutama dalam konteks upaya mencapai solusi dua negara.
Drama Visa AS dan Kehadiran Virtual di PBB
Di balik pidato yang kuat ini, tersimpan sebuah drama diplomatik yang menarik perhatian. Mahmoud Abbas sebenarnya tidak hadir secara fisik di markas PBB di New York. Ia menyampaikan pidatonya secara daring karena visanya ditolak oleh Amerika Serikat, sebuah keputusan yang menimbulkan banyak pertanyaan.
AS beralasan penolakan visa tersebut dilakukan karena Otoritas Palestina dianggap telah merusak upaya perdamaian. Keputusan ini memicu kontroversi dan menimbulkan pertanyaan tentang peran AS sebagai mediator netral dalam konflik Israel-Palestina, mengingat AS adalah sekutu terdekat Israel.
Namun, Majelis Umum PBB kemudian menggelar pemungutan suara untuk mendukung kehadiran Abbas secara virtual. Hasilnya, disepakati bahwa Abbas dapat menyampaikan pidatonya dari jarak jauh, memastikan suaranya tetap terdengar di panggung global meskipun ada hambatan politik yang disengaja. Ini menunjukkan dukungan signifikan dari komunitas internasional terhadap hak Abbas untuk berbicara di forum PBB, menentang tekanan AS.
Keputusan PBB ini mengirimkan pesan kuat bahwa suara Palestina tidak dapat dibungkam, bahkan oleh kekuatan besar sekalipun. Kehadiran virtual Abbas menjadi simbol perlawanan diplomatik dan menunjukkan bahwa perjuangan Palestina memiliki resonansi yang luas di antara negara-negara anggota PBB.
Pidato Mahmoud Abbas di PBB pada 25 September 2025 ini sekali lagi menggarisbawahi kompleksitas konflik Israel-Palestina yang tak ada habisnya. Dengan menolak cap antisemitisme, mengutuk genosida di Gaza, dan bahkan mengecam Hamas, Abbas mencoba menavigasi narasi yang rumit di tengah panggung politik global yang penuh intrik. Pesan utamanya jelas: perjuangan Palestina adalah perjuangan untuk hak asasi manusia dan kebebasan, yang harus dipisahkan dari segala bentuk kebencian atau terorisme. Dunia kini menanti, bagaimana pidato ini akan memengaruhi dinamika perdamaian di Timur Tengah yang penuh gejolak.


















