banner 728x250

Trauma Healing Jadi Prioritas! KPAI Ungkap Fakta Mengejutkan Pasca Ledakan SMAN 72 Jakarta

trauma healing jadi prioritas kpai ungkap fakta mengejutkan pasca ledakan sman 72 jakarta portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Ledakan dahsyat yang mengguncang lingkungan SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat (7/11) siang lalu meninggalkan luka yang lebih dalam dari sekadar cedera fisik. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui ketuanya, Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan bahwa penanganan trauma (trauma healing) bukan hanya krusial bagi siswa yang terluka, melainkan juga bagi seluruh siswa yang menyaksikan atau bahkan sekadar mendengar insiden mengerikan tersebut.

Dampak Ledakan Melampaui Luka Fisik

banner 325x300

Peristiwa ledakan memang telah menyebabkan sejumlah siswa mengalami luka fisik yang serius, bahkan beberapa di antaranya harus menjalani operasi. Namun, Margaret menekankan bahwa dampak psikologis dari kejadian semacam ini seringkali terabaikan. "Semua anak, baik mengalami luka atau tidak, yang mendengar atau menyaksikan kejadian pasti membutuhkan pendampingan," ujarnya dengan tegas, menyoroti pentingnya melihat setiap siswa sebagai korban potensial trauma.

Momen-momen mencekam saat ledakan terjadi, suara keras, kepanikan, dan pemandangan teman-teman yang terluka, dapat membekas kuat dalam ingatan anak-anak. Hal ini bisa memicu berbagai reaksi psikologis, mulai dari kecemasan berlebihan, kesulitan tidur, mimpi buruk, hingga ketakutan untuk kembali ke lingkungan sekolah. Luka batin semacam ini, jika tidak ditangani dengan tepat, berpotensi mengganggu perkembangan emosional dan akademis mereka di masa depan.

Pendekatan Holistik untuk Pemulihan Trauma

KPAI tidak hanya menyuarakan kebutuhan akan trauma healing, tetapi juga merekomendasikan langkah-langkah konkret. Penanganan trauma harus dilakukan oleh psikolog tersertifikasi yang memiliki keahlian khusus dalam menangani anak-anak dan remaja. Ini bukan tugas yang bisa diemban sembarang orang, melainkan membutuhkan profesionalisme dan pengalaman.

Lebih lanjut, KPAI mendorong pendekatan multi-pihak yang melibatkan berbagai lembaga berkompeten. Himpunan Psikologi Indonesia (HIMSI) menjadi salah satu rujukan utama karena memiliki jaringan psikolog profesional. Selain itu, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) serta kepolisian yang memiliki tenaga spesialis psikologi juga diharapkan turut serta. Kolaborasi ini penting untuk memastikan penanganan yang komprehensif dan terkoordinasi.

Rehabilitasi Sekolah dan Pemulihan Lingkungan Belajar

Di tengah upaya pemulihan psikologis, aspek fisik lingkungan sekolah juga tak kalah penting. Margaret menyambut baik rencana Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, untuk mempercepat rehabilitasi sekolah. Pemulihan infrastruktur SMAN 72 Jakarta Utara bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rusak, melainkan juga mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi para siswa.

Lingkungan sekolah yang kondusif adalah prasyarat utama agar kegiatan belajar mengajar bisa kembali berjalan normal. Dengan cepatnya rehabilitasi, diharapkan siswa tidak terlalu lama terputus dari rutinitas belajar mereka, yang juga merupakan bagian dari proses pemulihan dan normalisasi pasca-trauma. Kehadiran kembali di sekolah yang aman dapat membantu mereka merasa lebih stabil dan fokus pada masa depan.

Data Korban: Angka yang Terus Bergerak dan Kisah di Baliknya

Data sementara yang diterima KPAI dari kepolisian menunjukkan bahwa sebanyak 14 anak menjalani rawat inap, dengan mayoritas berusia di bawah 18 tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar tujuh anak harus menjalani operasi akibat luka yang cukup berat. Ini adalah angka yang memilukan, menggambarkan betapa seriusnya dampak ledakan tersebut.

Luka yang dialami korban bervariasi, mulai dari cedera di bagian kaki, jari yang harus diangkat kukunya, hingga keluhan sakit pada telinga dan bagian kepala. Setiap angka ini mewakili seorang anak dengan kisah pilu dan perjuangan pemulihan yang panjang. Margaret menambahkan bahwa data korban masih terus berkembang, menunjukkan kompleksitas situasi di lapangan.

Melihat Lebih Jauh: Dampak Jangka Panjang dan Pentingnya Dukungan

Saat tiba di rumah sakit, tercatat sekitar 33 anak masih menjalani perawatan. Angka total korban sempat dilaporkan mencapai 37 orang, meskipun belum final karena masih dalam pendataan polisi. Angka-angka ini adalah pengingat bahwa banyak nyawa muda yang terdampak secara langsung oleh insiden ini.

Di balik setiap angka, ada keluarga yang cemas, teman-teman yang berduka, dan masa depan yang mungkin sedikit berubah. Oleh karena itu, dukungan tidak hanya dibutuhkan dari para profesional, tetapi juga dari orang tua, guru, dan seluruh komunitas sekolah. Mendengarkan, memahami, dan memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka adalah langkah awal yang sangat penting dalam proses pemulihan.

Insiden di SMAN 72 Jakarta Utara ini menjadi pengingat keras akan pentingnya kesiapsiagaan dan penanganan pasca-bencana yang komprehensif, tidak hanya fokus pada luka fisik, tetapi juga pada luka batin yang tak terlihat. Hanya dengan pendekatan yang holistik, kita bisa membantu para siswa ini bangkit kembali dan melanjutkan hidup mereka dengan penuh harapan.

banner 325x300