Dunia hiburan Tanah Air kembali diguncang kabar mengejutkan. Artis Leonardo Arya, yang lebih dikenal dengan nama panggung Onad, dinyatakan positif mengonsumsi narkoba jenis ganja dan ekstasi. Hasil ini didapatkan setelah ia menjalani tes urine di Polres Metro Jakarta Barat, mengonfirmasi dugaan yang beredar sebelumnya. Penangkapan Onad sontak menjadi perbincangan hangat, mengingat citranya sebagai figur publik yang energik dan kerap tampil di berbagai acara televisi maupun platform digital.
Namun, di tengah pusaran berita kurang menyenangkan ini, ada informasi penting lain yang patut disimak. Istrinya, Beby Prisillia, dinyatakan negatif dari penggunaan narkoba setelah menjalani pemeriksaan serupa. Informasi ini diungkapkan langsung oleh pihak kepolisian, memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai situasi yang sedang dihadapi pasangan selebriti ini dan sedikit meredakan kekhawatiran publik terhadap Beby.
Hasil Tes Urine Onad dan Istri Beby Prisillia Terungkap
Pihak Kepolisian Resort Metro Jakarta Barat secara resmi mengonfirmasi hasil tes urine yang dilakukan terhadap Onad. Menurut Kasi Humas Polres Metro Jakarta Barat, AKP Wisnu Wirawan, hasil tes menunjukkan bahwa Onad positif menggunakan dua jenis narkoba sekaligus, yaitu ganja dan ekstasi. Ini menjadi titik terang setelah berhari-hari spekulasi dan pertanyaan publik mengenai status penangkapan sang artis.
Kabar ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat Onad seringkali tampil dengan persona yang ceria dan jauh dari kesan terlibat dalam masalah serius. Penggunaan dua jenis narkoba sekaligus ini juga menunjukkan tingkat keterlibatan yang lebih dalam, memicu pertanyaan tentang seberapa lama ia telah mengonsumsi barang haram tersebut.
Berbeda jauh dengan suaminya, hasil tes urine Beby Prisillia justru menunjukkan kabar baik. Istri dari mantan vokalis band Killing Me Inside ini dinyatakan negatif narkoba, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan oleh petugas. Informasi ini tentu sedikit melegakan bagi keluarga dan para penggemar Beby Prisillia yang turut khawatir akan nasibnya di tengah kasus yang menimpa suaminya.
Kronologi Penangkapan Onad di Rempoa
Penangkapan Onad dilakukan pada Kamis, 30 Oktober, di sebuah perumahan yang berlokasi di kawasan Rempoa, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Petugas kepolisian dari Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat bergerak cepat berdasarkan informasi intelijen yang telah mereka kumpulkan sebelumnya. Momen penggerebekan ini menjadi awal dari serangkaian proses hukum yang kini tengah berjalan.
Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi, Onad ditangkap saat sedang beraktivitas biasa di rumahnya. Penangkapan yang dilakukan secara mendadak ini tentu mengejutkan banyak pihak, terutama mereka yang mengenal sosok Onad sebagai pribadi yang aktif dan produktif. Situasi ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba bisa menjerat siapa saja, bahkan di tengah aktivitas sehari-hari.
Barang Bukti yang Ditemukan Polisi
Saat melakukan penggeledahan di lokasi penangkapan Onad, polisi berhasil menemukan beberapa barang bukti yang sangat krusial dan menguatkan dugaan penggunaan narkoba. Di antaranya adalah satu lembar papir, satu plastik klip kecil berisi batang ganja, satu boks kecil, serta tiga unit ponsel yang diduga digunakan untuk komunikasi terkait transaksi narkoba. Barang-barang ini kini telah disita dan menjadi bagian penting dalam proses penyidikan untuk mengungkap lebih jauh kasus ini.
Selain ganja, dugaan penggunaan ekstasi juga muncul dan diperkuat oleh temuan polisi. Brigjen Pol Ade Ary Syam Indradi menambahkan, berdasarkan hasil pendalaman di lapangan, ditemukan pula barang bukti ekstasi yang diduga sudah habis dikonsumsi. Ini mengindikasikan bahwa Onad tidak hanya mengonsumsi satu jenis narkoba, melainkan dua jenis sekaligus, menunjukkan pola penyalahgunaan yang lebih kompleks.
Rekan Onad Ikut Terlibat dan Positif Narkoba
Lingkaran kasus narkoba yang menjerat Onad ternyata tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri. Pihak kepolisian juga berhasil menangkap seorang rekan Onad yang berinisial KR. Penangkapan KR dilakukan di daerah Sunter, Jakarta Utara, tak lama setelah penangkapan Onad. Setelah menjalani tes urine, KR juga dinyatakan positif mengonsumsi narkoba, menambah daftar individu yang terlibat dalam kasus ini.
Keterlibatan KR menambah dimensi baru dalam penyelidikan, menunjukkan adanya kemungkinan jaringan atau setidaknya lingkungan pergaulan yang juga terpapar narkoba. Polisi kini tengah mendalami lebih lanjut hubungan antara Onad dan KR, serta sejauh mana keterlibatan mereka dalam penyalahgunaan barang haram tersebut. Penyelidikan ini diharapkan dapat mengungkap mata rantai peredaran narkoba yang lebih besar.
Onad Masih Jalani Pemeriksaan Intensif
Hingga saat ini, Onad masih berada di Mapolres Metro Jakarta Barat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh penyidik Satuan Reserse Narkoba. Proses ini sangat krusial untuk mengungkap motif di balik penyalahgunaan narkoba, sumber barang haram tersebut, serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam jaringan peredaran. Polisi berupaya mengumpulkan semua informasi dan bukti yang relevan untuk menuntaskan kasus ini.
Pemeriksaan intensif ini juga akan menjadi penentu status hukum Onad ke depannya. Apakah ia akan ditetapkan sebagai tersangka dengan ancaman pidana penjara, atau mungkin akan direhabilitasi sebagai korban penyalahgunaan narkoba, seperti yang sempat diisyaratkan oleh pihak kepolisian sebelumnya. Semua keputusan akan sangat bergantung pada hasil penyelidikan mendalam dan rekomendasi dari tim asesmen terpadu.
Pihak kepolisian juga menekankan bahwa penanganan kasus narkoba tidak selalu berakhir dengan penahanan. Jika terbukti sebagai pengguna dan bukan pengedar, ada peluang untuk menjalani rehabilitasi. Namun, proses ini memerlukan asesmen menyeluruh dan komitmen dari individu yang bersangkutan untuk sembuh dari ketergantungan.
Implikasi Hukum dan Dampak Kasus Onad
Kasus narkoba yang menjerat Onad tentu membawa implikasi hukum yang sangat serius. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, penggunaan ganja dan ekstasi dapat dijerat dengan pasal-pasal yang berbeda, tergantung pada peran (pengguna, pengedar, atau bandar) dan jumlah barang bukti yang ditemukan. Hukuman yang menanti bisa berupa pidana penjara yang panjang atau kewajiban menjalani rehabilitasi, tergantung pada putusan pengadilan.
Selain implikasi hukum, kasus ini juga berdampak besar pada karier dan citra publik Onad. Sebagai seorang figur publik yang dikenal luas, penangkapan ini tentu akan memengaruhi kepercayaan masyarakat dan penggemar. Kontrak kerja, sponsor, dan proyek-proyek yang sedang berjalan pun berpotensi besar terganggu atau bahkan dibatalkan, menyebabkan kerugian finansial dan reputasi yang tidak sedikit.
Dampak psikologis dan sosial bagi keluarga, terutama Beby Prisillia, juga tidak bisa diabaikan. Meskipun Beby dinyatakan negatif, ia tetap harus menghadapi sorotan publik, stigma, dan tekanan yang datang dari kasus suaminya. Ini menjadi ujian berat bagi hubungan dan kehidupan pribadi mereka, membutuhkan kekuatan mental dan dukungan yang besar untuk bisa melewatinya.
Pentingnya Edukasi Bahaya Narkoba dan Peran Masyarakat
Kasus Onad kembali menjadi pengingat betapa bahayanya penyalahgunaan narkoba, terutama di kalangan figur publik yang memiliki pengaruh besar. Narkoba tidak hanya merusak individu yang mengonsumsinya secara fisik dan mental, tetapi juga berdampak luas pada keluarga, karier, dan lingkungan sosial. Oleh karena itu, edukasi tentang bahaya narkoba menjadi sangat krusial dan harus terus digalakkan.
Penting bagi setiap individu, terutama generasi muda yang rentan, untuk memahami risiko dan konsekuensi jangka panjang dari penyalahgunaan narkoba. Kampanye anti-narkoba harus terus digencarkan melalui berbagai media dan platform, agar kesadaran masyarakat meningkat dan mereka dapat membentengi diri dari godaan barang haram tersebut. Diharapkan, kasus-kasus seperti Onad ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk menjauhi narkoba dan memilih gaya hidup sehat.
Pihak berwenang juga perlu terus memperketat pengawasan dan penindakan terhadap peredaran narkoba, mulai dari hulu hingga hilir. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan keluarga sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari narkoba. Semoga kasus ini bisa menjadi momentum untuk refleksi, tindakan nyata, dan upaya kolektif dalam memberantas penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk melindungi masa depan generasi penerus bangsa dari ancaman narkoba.


















