banner 728x250

Terungkap! Dikira Hilang Usai Demo Jakarta, Dua Pria Ini Ternyata Kabur Demi Hidup Mandiri

Mahasiswa berdemonstrasi di Jakarta dengan membawa spanduk bertuliskan protes.
Kabar hilangnya mahasiswa pasca-demo sempat menimbulkan kekhawatiran publik sebelum misteri terungkap.
banner 120x600
banner 468x60

Kabar hilangnya beberapa orang pasca-demonstrasi di Jakarta sempat menyulut kekhawatiran publik. Spekulasi liar bermunculan, menciptakan ketegangan dan pertanyaan besar. Namun, misteri yang menyelimuti dua nama, Bima Permana Putra dan Eko Purnomo, akhirnya terkuak dengan cara yang tak terduga. Mereka bukan diculik atau menjadi korban, melainkan sengaja "menghilang" untuk memulai babak baru dalam hidup, jauh dari hiruk pikuk ibu kota.

Awal Mula Kekhawatiran: Laporan Orang Hilang Pasca-Demo

banner 325x300

Setelah serangkaian demonstrasi di Jakarta beberapa waktu lalu, nama-nama seperti Eko Purnomo, Bima Permana Putra, Reno Syachputra Dewo, dan Muhammad Farhan Hamid dilaporkan hilang oleh lembaga pengaduan KontraS. Laporan ini tentu saja memicu kekhawatiran mendalam, baik dari keluarga maupun masyarakat luas yang mengikuti perkembangan pasca-demo. Berbagai dugaan muncul, menciptakan suasana mencekam dan penuh tanda tanya.

Keluarga Eko Purnomo, khususnya sang ibu, menjadi pihak pertama yang merasakan kecemasan luar biasa. Pada 3 September 2025, ibu Eko melaporkan kehilangan putranya ke Polsek Cempaka Putih. Kecemasan ini semakin diperkuat ketika rekan Eko juga melaporkan hal serupa melalui jalur hotline KontraS sehari setelahnya, pada 4 September 2025. Situasi ini menuntut pihak kepolisian untuk bergerak cepat melakukan penyelidikan.

Kisah Bima: Petualangan ke Malang Demi Kemandirian

Salah satu dari dua orang yang akhirnya ditemukan adalah Bima Permana Putra. Kisahnya sungguh di luar dugaan, jauh dari bayangan penculikan atau insiden buruk lainnya. Bima ternyata memilih jalan yang sangat berbeda, sebuah petualangan pribadi demi meraih kemandirian yang ia impikan.

Perjalanan Penuh Tekad: Dari Jakarta ke Tegal, Lalu Malang

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Wira Satya Triputra, mengungkapkan alasan di balik kepergian Bima. "Dari hasil komunikasi kami dengan saudara Bima, beliau menyampaikan bahwa alasan kepergian meninggalkan rumah karena ingin hidup mandiri," kata Wira dalam jumpa pers di Jakarta. Sebuah pengakuan yang lugas, menjelaskan bahwa keputusannya adalah murni keinginan pribadi.

Bima memulai perjalanannya pada 1 September 2025, meninggalkan Jakarta dengan tekad bulat menuju Malang, Jawa Timur. Ia menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi awal, sebuah simbol kebebasan dan kemandirian yang ia cari. Namun, perjalanan tak selalu mulus. Di tengah jalan, tepatnya di daerah Tegal, Bima sempat menjual kendaraannya.

Keputusan ini mungkin terdengar drastis, namun menunjukkan betapa seriusnya Bima dalam mewujudkan niatnya. Setelah menjual motor, ia melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta api, menembus jalur-jalur Jawa menuju kota tujuannya. Setiap langkah yang diambil Bima adalah bagian dari prosesnya untuk lepas dari ketergantungan dan membangun hidupnya sendiri.

Hidup Baru di Kota Apel: Menjadi Penjual Barongsai

Setibanya di Malang, Bima tidak berdiam diri. Ia segera mencari cara untuk menopang hidupnya. Dengan semangat kemandirian yang membara, Bima menemukan pekerjaan yang unik dan menarik: menjual mainan barongsai. Ia menjajakan dagangannya di salah satu Klenteng yang berlokasi di Kotalama, Malang.

Profesi ini mungkin jauh berbeda dari kehidupannya di Jakarta, namun Bima menjalaninya dengan penuh dedikasi. Menjual barongsai bukan hanya sekadar mencari rupiah, tetapi juga bagian dari proses adaptasi dan pembelajaran. Ia membuktikan bahwa keinginan untuk hidup mandiri bukanlah sekadar omong kosong, melainkan sebuah komitmen yang ia wujudkan dengan kerja keras.

Kisah Eko: Menjelajah Lautan Kalimantan Demi Nafkah

Tak kalah mengejutkan adalah kisah Eko Purnomo. Jika Bima memilih daratan, Eko justru memilih lautan sebagai medan perjuangannya. Ia melarikan diri ke Kalimantan Tengah, mencari nafkah dan kemandirian di tengah ombak dan luasnya perairan.

Jejak Hilang yang Penuh Drama: Laporan Ibu dan KontraS

Seperti yang disebutkan sebelumnya, hilangnya Eko menimbulkan kekhawatiran besar. Ibunya melaporkan ke Polsek Cempaka Putih pada 3 September 2025. Laporan ini kemudian diperkuat oleh KontraS pada 4 September 2025, menambah tekanan pada pihak berwenang untuk segera menemukan Eko. Keluarga dan kerabat tentu saja diliputi kecemasan, membayangkan skenario terburuk.

Namun, titik terang mulai muncul pada 8 September 2025. Ibu Eko mendapat kabar bahwa putranya sudah bisa dihubungi. Dalam komunikasi tersebut, Eko meminta agar laporan pengaduan hilangnya dicabut. Permintaan ini tentu saja membingungkan sang ibu, yang belum sepenuhnya bisa berkomunikasi dengan Eko setelah kabar tersebut. Merasa belum puas dan masih khawatir, ibu Eko membuat laporan tambahan di Polsek Johar Baru pada 10 September 2025.

Terombang-ambing di Lautan: Menjadi Nelayan di Kalimantan Tengah

Direktur Siber Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Roberto GM Pasaribu, menjelaskan alasan Eko memilih jalan ini. "Alasan Eko mengapa yang bersangkutan sampai naik ikut kapal, bekerja untuk mencari nafkah. Dalam hal ini untuk kehidupan dan Eko sendiri ingin hidup secara mandiri," terang Roberto. Sama seperti Bima, Eko juga didorong oleh keinginan kuat untuk hidup mandiri dan mencari nafkah sendiri.

Eko bergabung dengan kapal penangkap ikan di wilayah Kalimantan Tengah. Sebuah pekerjaan yang keras dan menantang, jauh dari kenyamanan hidup di kota. Ia menghadapi kerasnya laut, cuaca yang tak menentu, dan kerja fisik yang berat. Namun, semua itu ia jalani demi mewujudkan impian kemandiriannya. Kehidupan di atas kapal mengajarkan Eko banyak hal tentang bertahan hidup dan tanggung jawab.

Titik Terang dan Pertemuan Haru: Akhir Pencarian Eko

Pada 16 September 2025, Eko kembali menghubungi ibunya. Komunikasi yang lebih intens ini akhirnya membuka jalan bagi pihak kepolisian untuk melacak keberadaannya. "Setelah itu, kami bersamaan juga memang sudah berkomunikasi dengan orang tua, ibu dari pada Eko. Mendapatkan informasi bahwa yang bersangkutan sedang bekerja di sebuah kapal penangkap ikan di perairan Kalimantan Tengah," kata Roberto.

Tim gabungan Polda Metro Jaya segera bergerak. Dengan koordinasi yang cermat, pada 17 September 2025, tim berhasil menemukan Eko. Momen pertemuan Eko dengan orang tua dan keluarganya difasilitasi oleh pihak kepolisian, menjadi sebuah adegan haru yang mengakhiri masa pencarian penuh kekhawatiran. Pada hari yang sama, laporan mengenai hilangnya Eko resmi dicabut oleh ibundanya di Polsek Johar Baru, menandai berakhirnya drama pencarian ini.

Mengapa Mereka Memilih Jalan Ini? Sebuah Refleksi

Kisah Bima dan Eko memberikan perspektif baru tentang fenomena "orang hilang" pasca-demo. Ini bukan tentang penculikan atau kekerasan, melainkan tentang pilihan pribadi yang ekstrem demi mencapai kemandirian. Keinginan untuk hidup mandiri, lepas dari bayang-bayang keluarga atau tekanan sosial, bisa menjadi dorongan yang sangat kuat bagi sebagian orang.

Mungkin ada berbagai faktor yang melatarbelakangi keputusan mereka. Tekanan hidup di ibu kota, keinginan untuk membuktikan diri, atau mungkin hanya sekadar mencari pengalaman hidup yang berbeda. Apapun alasannya, pilihan Bima dan Eko menunjukkan bahwa terkadang, "menghilang" bisa jadi adalah cara seseorang untuk menemukan dirinya sendiri, meski harus dengan cara yang membuat khawatir banyak pihak.

Pelajaran dari Kasus "Orang Hilang" yang Tak Terduga

Kasus Bima dan Eko menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Pertama, pentingnya komunikasi dalam keluarga. Jika Bima dan Eko bisa mengkomunikasikan niat mereka untuk hidup mandiri kepada keluarga, mungkin kekhawatiran dan drama pencarian bisa dihindari. Kedua, peran kepolisian yang sigap dan profesional dalam menelusuri setiap laporan, bahkan ketika motifnya ternyata sangat personal.

Meskipun Bima dan Eko sudah ditemukan, perlu diingat bahwa masih ada dua nama lain yang dilaporkan hilang oleh KontraS, yakni Reno Syachputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid. Pencarian terhadap keduanya masih terus dilakukan, dengan harapan mereka juga bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat. Kisah Bima dan Eko mengingatkan kita bahwa di balik setiap laporan orang hilang, mungkin ada cerita yang jauh lebih kompleks dan tak terduga.

banner 325x300