Ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11) lalu menyisakan banyak pertanyaan. Kini, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mulai mengungkap tabir di balik aksi terduga pelaku, seorang anak berkonflik dengan hukum (ABH). Ternyata, ABH tersebut terinspirasi oleh setidaknya enam tokoh kekerasan global.
Pengungkapan ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa (12/11). "Ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur. Kita sebutkan ada kurang lebih enam tokoh yang tercatat," jelas Eka, memberikan gambaran mengerikan tentang sumber motivasi di balik tindakan tersebut.
Terungkapnya Jejak Inspirasi Kekerasan
Kasus ledakan di lingkungan masjid SMAN 72 ini bukan sekadar tindakan kenakalan remaja. Densus 88 melihat adanya pola dan pengaruh ideologi ekstrem yang merasuki pikiran pelaku. Ini menjadi alarm serius bagi kita semua tentang bahaya radikalisasi, terutama di kalangan generasi muda.
Investigasi mendalam yang dilakukan Densus 88 berhasil menelusuri jejak digital dan pemikiran ABH. Dari sana, terkuaklah daftar nama-nama yang selama ini menjadi panutan atau sumber inspirasi bagi pelaku dalam melancarkan aksinya.
Siapa Saja Tokoh yang Jadi Panutan Pelaku?
Daftar tokoh yang menginspirasi ABH ini bukan sembarang nama. Mereka adalah individu-individu yang tercatat dalam sejarah karena aksi kekerasan ekstrem yang mereka lakukan. Densus 88 merinci enam nama tersebut, masing-masing dengan latar belakang dan ideologi yang berbeda namun sama-sama memicu kekerasan.
Pemahaman terhadap tokoh-tokoh ini penting untuk melihat bagaimana pola radikalisasi dapat terbentuk. Ini juga menunjukkan betapa rentannya individu, terutama remaja, terhadap pengaruh negatif dari internet dan komunitas daring.
Eric Harris & Dylan Klebold: Simbol Kekerasan di Sekolah
Dua nama pertama yang disebut adalah Eric Harris dan Dylan Klebold. Keduanya dikenal sebagai pelaku penembakan massal di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat, pada tahun 1999. Aksi mereka menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah pendidikan di AS.
Harris dan Klebold beraliran "Neo-Nazi," sebuah gerakan ekstrem kanan yang menghidupkan kembali ideologi Nazi Jerman. Paham ini menekankan supremasi ras Arya dan kebencian terhadap kelompok minoritas, menunjukkan akar kebencian yang mendalam.
Dylan Ruff Charleston & Alexandre Bissonete: Kebencian Berbalut Supremasi Kulit Putih
Selanjutnya, ada Dylan Ruff Charleston yang melakukan penembakan di Gereja Charleston, South Carolina, pada tahun 2015. Aksi keji ini menargetkan jemaat gereja kulit hitam, menunjukkan kebencian rasial yang ekstrem. Charleston beraliran "White Supremacy."
Ideologi White Supremacy meyakini bahwa ras kulit putih lebih unggul dari ras lain, seringkali memicu diskriminasi dan kekerasan. Senada dengan Charleston, Alexandre Bissonete juga disebut sebagai inspirasi. Ia melakukan serangan di Gereja Quebec, Kanada, pada tahun 2017, juga beraliran White Supremacy.
Vladislav Roslyakov & Brenton Tarrant: Gelombang Ekstremisme Global
Daftar inspirasi berlanjut dengan Vladislav Roslyakov, pelaku serangan di Politeknik Kerch, Crimea, Rusia, pada tahun 2018. Roslyakov juga beraliran Neo-Nazi, menunjukkan bahwa ideologi ini memiliki jangkauan global dan dapat memicu kekerasan di berbagai belahan dunia.
Nama berikutnya adalah Brenton Tarrant, pelaku penembakan di Masjid Christchurch, Selandia Baru, pada tahun 2019. Aksi teror ini menewaskan puluhan jemaah dan mengguncang dunia. Tarrant beraliran Fasis, Rasis, dan Ethno-Nasionalis, kombinasi ideologi yang sangat berbahaya.
Ethno-nasionalis adalah gerakan yang menekankan identitas dan loyalitas terhadap satu etnis tertentu sebagai dasar pembentukan negara atau kekuasaan politik. Sementara Fasis adalah ideologi politik yang menekankan nasionalisme ekstrem, ketaatan mutlak pada pemimpin, serta penggunaan kekerasan. Rasis, tentu saja, merujuk pada sikap yang menganggap satu ras lebih unggul dari ras lain.
Natalie Lynn Rupnow: Ancaman Neo-Nazi di Era Digital
Tokoh terakhir yang menginspirasi ABH adalah Natalie Lynn Rupnow. Ia melakukan penembakan di Abundant Life Christian School, Wisconsin, Amerika Serikat, pada tahun 2024. Rupnow juga beraliran Neo-Nazi, menegaskan bahwa ancaman ideologi ekstrem ini terus berkembang dan beradaptasi di era modern.
Kehadiran nama-nama ini dalam daftar inspirasi pelaku bom SMAN 72 menunjukkan betapa kompleksnya akar masalah radikalisasi. Ini bukan hanya tentang satu ideologi, melainkan spektrum luas kebencian yang dapat memicu kekerasan.
Peran Media Sosial dalam Radikalisasi
Eka menjelaskan bahwa tokoh-tokoh tersebut menginspirasi ABH melalui keterlibatannya dalam sebuah komunitas media sosial. Komunitas ini secara aktif mengagumi dan mengapresiasi tindakan kekerasan. "Dalam media sosial tersebut ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu mengunggah ke media tersebut maka komunitas tersebut mengapresiasi sebagai sesuatu yang heroik," katanya.
Fenomena ini sangat mengkhawatirkan. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat penghubung, justru dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran ideologi ekstrem dan glorifikasi kekerasan. Anak-anak dan remaja, dengan rasa ingin tahu dan pencarian identitas yang tinggi, menjadi sangat rentan terhadap pengaruh semacam ini.
Pelaku hanya mempelajari dan mengikuti beberapa tindakan ekstremisme yang dilakukan oleh idolanya. Eka menegaskan bahwa tidak ada satu ideologi konsisten yang dia ikuti. Ini menunjukkan bahwa ABH hanya sekadar terinspirasi dan ada pola berurutan yang mereka posting di komunitas media sosialnya.
Bahaya Ideologi Ekstrem dan Dampaknya pada Remaja
Kasus SMAN 72 ini menjadi "awareness" atau kesadaran penting bagi kita semua terkait adanya kekerasan di dunia maya. Densus 88 menyoroti bahwa pola inspirasi ini bukan hanya tentang ideologi tunggal, melainkan juga tentang bagaimana kekerasan itu sendiri dipandang sebagai sesuatu yang "heroik" dalam komunitas daring.
Pengamat sebelumnya juga menilai tragedi SMAN 72 sebagai cermin runtuhnya moral di era digital. Pelaku yang dikenal sebagai pribadi tertutup, kemungkinan besar menemukan "dunia" dan pengakuan di komunitas daring tersebut. Ini adalah indikasi bahwa isolasi sosial dapat mendorong individu mencari validasi di tempat yang salah.
Penyebaran ideologi ekstrem melalui media sosial memiliki dampak serius pada perkembangan psikologis remaja. Mereka bisa terpapar pada narasi kebencian, kekerasan, dan diskriminasi tanpa filter yang memadai. Akibatnya, pandangan mereka terhadap dunia bisa terdistorsi, memicu tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Mencegah Terulangnya Tragedi: Peran Kita Bersama
Kasus bom SMAN 72 adalah peringatan keras bagi seluruh elemen masyarakat. Orang tua, guru, pemerintah, dan penyedia platform media sosial memiliki peran krusial dalam mencegah terulangnya tragedi serupa. Edukasi tentang literasi digital dan bahaya radikalisasi harus ditingkatkan.
Orang tua perlu lebih aktif memantau aktivitas daring anak-anak mereka, membangun komunikasi yang terbuka, dan memberikan pemahaman tentang nilai-nilai toleransi serta anti-kekerasan. Sekolah juga harus menjadi lingkungan yang aman dan inklusif, tempat siswa merasa didengar dan dihargai.
Pemerintah dan lembaga penegak hukum perlu terus memperkuat pengawasan terhadap konten-konten ekstrem di dunia maya. Sementara itu, platform media sosial harus bertanggung jawab dalam memoderasi konten dan menindak tegas akun-akun yang menyebarkan kebencian dan glorifikasi kekerasan. Hanya dengan kerja sama dari semua pihak, kita bisa melindungi generasi muda dari bahaya ideologi ekstrem dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi mereka.


















