Kasus penculikan berujung kematian Kepala Cabang Bank MIP (37) terus bergulir, dan kini Polda Metro Jaya tengah memburu sosok kunci baru. Sosok misterius berinisial ‘S’ ini disebut-sebut sebagai informan yang membocorkan keberadaan rekening dormant (tidak aktif) kepada tersangka utama, C alias Ken. Informasi inilah yang menjadi pemicu aksi keji tersebut.
"Masih kita dalami, (sosok S) masih kita cari," tegas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Wira Satya Triputra di Jakarta, Selasa. Keberadaan ‘S’ sangat krusial untuk mengungkap jaringan di balik kejahatan ini.
Siapa Sebenarnya Sosok ‘S’ dan Mengapa Ia Begitu Penting?
Sosok ‘S’ adalah penghubung vital dalam rantai kejahatan ini. Ia diduga menjadi sumber data rekening dormant di sebuah bank di Jakarta Pusat, tempat korban MIP bekerja. Data inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh C alias Ken untuk merancang aksi penculikan dan upaya pengurasan dana.
Meskipun perannya sangat sentral, ‘S’ belum ditetapkan sebagai tersangka atau masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Polisi masih sangat berhati-hati dalam membeberkan detail identitasnya. "Mohon maaf, nanti kalau kita sampaikan nanti kabur," ujar Wira, menjelaskan alasan di balik kerahasiaan ini.
Informasi awal menyebutkan bahwa C alias Ken mendapatkan data sensitif ini dari temannya, yaitu ‘S’. Penelusuran terhadap ‘S’ menjadi prioritas utama untuk membongkar tuntas motif dan jaringan yang lebih luas. Tanpa ‘S’, mungkin saja rencana keji ini tidak akan pernah terlaksana.
Jaringan Kejahatan Terorganisir: 17 Tersangka dalam 4 Klaster
Penyelidikan kasus ini telah mengungkap jaringan kejahatan yang terorganisir rapi, melibatkan 17 tersangka yang terbagi dalam empat klaster peran berbeda. Setiap klaster memiliki tugas spesifik, menunjukkan betapa matangnya perencanaan mereka.
Kombes Pol Wira Satya Triputra menjelaskan bahwa pembagian klaster ini memudahkan polisi dalam memetakan peran masing-masing pelaku. Dari otak perencana hingga tim surveilans, semuanya bekerja secara sistematis untuk mencapai tujuan mereka.
Klaster Pertama: Otak Perencana, Dalang di Balik Layar
Ada empat orang yang menjadi otak perencana utama dalam kasus ini. Mereka adalah C alias K, DH, AAM, dan JP. C alias K adalah dalang utama yang mengatur pertemuan, merancang seluruh skenario, dan bahkan menyiapkan perangkat IT untuk memindahkan uang dari rekening dormant ke rekening penampung. Ia juga mengklaim memiliki data rekening-rekening dormant yang siap dieksekusi.
DH bertugas sebagai penghubung penting. Ia menghadiri pertemuan, menghubungi JP untuk mencari tim penculik, menyiapkan orang-orang untuk membuntuti korban, dan mengatur skenario penculikan. Untuk operasional, DH bahkan menyiapkan uang yang disetorkan kepada JP.
AAM juga terlibat dalam perencanaan, hadir dalam pertemuan bersama C dan DH, membantu merancang penculikan, serta menyiapkan tim pengintai. Sementara itu, JP berperan ganda, mengumpulkan tim eksekutor bersama N, mengawasi jalannya pembuntutan, hingga ikut membuang korban di Cikarang. JP bahkan menggelontorkan uang kepada Serka N untuk memperlancar operasi tersebut.
Klaster Kedua: Eksekutor Penculikan, Aksi di Lapangan
Klaster kedua terdiri dari lima orang yang bertindak sebagai eksekutor penculikan. Mereka adalah E, REH, JRS, AT, dan EWB. E adalah orang yang memaksa korban masuk ke mobil Avanza putih, melilitkan lakban ke wajah MIP, serta mengikat tangannya dengan tali. Ia menerima Rp45 juta dari Kopda FH, yang kemudian dibagi-bagikan kepada rekan-rekannya.
REH membantu dengan memegangi korban dari belakang saat proses pengikatan, memastikan MIP tidak bisa melawan. JRS menahan tangan kanan korban, sementara AT menahan dari sisi kiri. Kerja sama ketiga orang ini berhasil melumpuhkan perlawanan MIP. EWB sendiri menjadi sopir Avanza putih yang membawa korban kabur dari parkiran Lotte Mart.
Klaster Ketiga: Penganiayaan, Kekejaman Berujung Maut
Klaster ketiga berisi lima orang yang terlibat dalam penganiayaan hingga korban meninggal dunia. JP, yang juga merupakan otak perencana, termasuk dalam klaster ini. Ia menginjak kaki korban di dalam mobil Fortuner hitam dan ikut membuang jasadnya.
NU adalah sopir Fortuner yang membawa korban dari Kemayoran ke Bekasi, sementara DSD menggantikan NU saat laju mobil mulai oleng. Kekerasan fisik yang dilakukan di dalam mobil inilah yang menyebabkan MIP kehilangan nyawanya.
Klaster Keempat: Tim Surveilans, Mata-mata di Balik Bayangan
Terakhir, klaster keempat adalah tim surveilans, yang terdiri dari empat orang: AW, EWH, RS, dan AS. Tugas mereka sangat spesifik, yaitu membuntuti gerak-gerik MIP secara cermat. Mereka memastikan setiap langkah korban terpantau, memberikan informasi vital kepada para perencana dan eksekutor.
Keberadaan tim surveilans ini menunjukkan betapa detail dan terencana aksi penculikan ini. Mereka adalah mata-mata yang memastikan target tidak luput dari pengawasan sebelum eksekusi dilakukan.
Pencarian Berlanjut: Menyingkap Seluruh Kebenaran
Polda Metro Jaya berkomitmen penuh untuk menuntaskan kasus ini, termasuk memburu ‘S’ dan mengungkap seluruh jaringan yang terlibat. Keberadaan ‘S’ adalah kunci untuk memahami bagaimana data rekening dormant bisa bocor dan menjadi alat kejahatan.
Kasus ini menjadi pengingat akan bahaya kejahatan terorganisir yang melibatkan perencanaan matang dan eksekusi brutal. Penangkapan ‘S’ diharapkan bisa membuka tabir lebih jauh dan membawa semua pelaku ke meja hijau.


















